Yang Harus Diketahui Tentang Antraks
26 Juli 2023 / By Administrator,
dr. Titiek Sulistyowati, M. Ked. Klin, Sp. MK (K)
Bulan Juli 2023 telah dihebohkan kasus kematian 3 (tiga) orang penduduk di Dusun Jati, Desa Candirejo, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dengan riwayat mengkonsumsi daging sapi yang sudah mati. Dinas Kesehatan langsung turun ke lapangan untuk melaksanakan investigasi kasus. Semua yang diduga mengkonsumsi daging tersebut diambil darah untuk dilaksanakan pemeriksaan laboratorium untuk deteksi Antraks. Hasil investigasi menunjukkan bahwa total 125 orang yang terbukti positif antraks sejumlah 85 orang dan yang bergejala adalah 18 orang dengan keluhan bervariasi antara lain pusing, diare, bengkak, luka dan lainnya. Menurut Dinas Kesehatan, di Gunung Kidul ada tradisi Brandu yang masih melekat erat yaitu menyembelih sapi yang sedang sakit atau mendekati mati dan dagingnya dijual murah atau dibagikan. Hal tersebut yang telah menjadi pemicu penyakit Antraks pada masyarakat.
Sejarah
Abad ke-19 sangat bermanfaat dalam studi Antraks. Tahun 1823 Barthelemy mendemonstrasikan betapa menularnya penyakit ini; tahun 1838 Delafond mengamati bakteri basil untuk pertama kalinya; dan tahun 1863-1864 Davaine mendemonstrasikan penularan antraks. Robert Koch juga mempelajari basil antraks dan merumuskan Postulat yang terkenal pada tahun 1877 yang membuktikan bahwa Bacillus anthracis adalah penyebab antraks. Selain itu, pengamatan Robert Koch bahwa B. anthracis menghasilkan spora dalam kondisi kelaparan dan spora sangat resisten terhadap berbagai perlakuan fisik dan kimia telah membantu dalam pemahaman epidemiologi penyakit dan perumusan aturan yang efisien untuk pengendalian dan pencegahan penyebaran penyakit. Hal ini juga menyoroti kemungkinan bahwa B. anthracis dapat menjadi senjata biologis dalam beberapa dekade berikutnya.
Penularan Antraks
Antraks merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Bacillus anthracis yaitu bakteri Gram positif pembentuk spora, organisme fakultatif anaerobik yang menghasilkan toksin atau racun, dan berkapsul. Antraks pada dasarnya merupakan penyakit hewan herbivora, tetapi semua mamalia rentan, termasuk manusia. B. anthracis stabil di lingkungan dalam bentuk spora dan dapat mencemari tanah di seluruh dunia, sehingga menyebabkan infeksi pada herbivora saat merumput. Spora dapat tetap tidak aktif dan bertahan di lingkungan selama beberapa dekade. Kasus antraks pada hewan cenderung terjadi pada musim panas dan musim gugur. Penularan ke manusia terjadi melalui kontak dengan hewan yang terinfeksi melalui pemotongan dan pengerjaan kulit, atau konsumsi daging mentah atau setengah matang. Kontak kulit menyebabkan antraks kulit, yaitu spora masuk melalui luka kecil (sayatan, lecet, gigitan lalat), sedangkan menghirup atau menelan spora menyebabkan antraks inhalasi atau gastrointestinal (GI). Antraks didapat dari hewan dan tidak ada laporan penularan langsung dari manusia ke manusia.
Spora Antraks
Bentuk infektif B. anthracis adalah spora. Spora berkecambah dalam organisme inang (manusia atau hewan) untuk menghasilkan bentuk vegetatif yang berkembang biak dengan cepat dan mengeluarkan toksin antraks dan kapsul asam poli-D-glutamat - faktor patogenisitas utama yang dikodekan oleh gen yang terletak pada virulensi plasmid pXO1 dan pXO2. Toksin antraks terdiri dari tiga protein yang bekerja secara sinergis yaitu Protective Antigen (PA), Edema Factor (EF), dan Lethal Factor (LF). PA dan EF membentuk toksin edema dan PA dengan LF membentuk toksin yang mematikan. Toksin bertanggung jawab atas gejala khas dan gejala klinis penyakit, sedangkan kapsul asam poli-D-glutamat melindungi bakteri dari fagositosis.
Penyakit Antraks pada manusia
Ada empat jenis infeksi pada manusia yaitu kulit, gastrointestinal, inhalasi dan terkait injeksi atau suntikan. Untuk setiap bentuk, spora B. anthracis harus melewati penghalang epitel kulit, pencernaan atau pernafasan, sebagai langkah wajib pertama untuk menimbulkan infeksi. Antraks adalah infeksi toksin yaitu suatu hubungan antara toksemia dan infeksi yang menyebar dengan cepat dan berkembang menjadi septikemia.
Antraks kulit
Antraks kulit memiliki masa inkubasi 1- 5 hari. Secara klinis tampak seperti papula yang berkembang membentuk vesikel besar. Lesi menjadi edema akibat pelepasan eksotoksin, dan pasien mengalami limfadenitis regional. Kira-kira seminggu kemudian, lesi pecah dan timbul eschar. Meskipun penampilannya tampak kehitaman (koreng hitam), lesi kulit tidak nyeri tekan dan tidak sakit. Selama beberapa minggu berikutnya, eschar akan mengelupas dan pasien akan sembuh dari penyakitnya atau menunjukkan tanda penyebaran. Jika hal ini terjadi, angka kematian yang tidak diobati adalah < 20%. Namun pengobatan dengan antibiotik mengurangi risiko penyebaran dan kematian. Kejadian kasus antraks kulit ini adalah 95% dari seluruh kasus yang dilaporkan.
Antraks gastrointestinal (GI)
Antraks GI ini terjadi karena memakan daging hewan yang terinfeksi. Antraks GI diperkirakan tidak disebabkan oleh paparan spora yang berbentuk aerosol, tetapi terkait dengan bentuk vegetatif dan akan menginfeksi mulut, kerongkongan maupun saluran usus. Gejala muncul setelah 1 - 6 hari masa inkubasi. Antraks kemudian menempel pada epitel gastrointestinal tempat ia berkecambah dan menimbulkan ulserasi superfisial yang terlihat pada pemeriksaan endoskopi. Hal ini berbeda dengan antraks inhalasi yang menyebar secara hematogen dimana ulserasi dimulai pada submukosa. Namun, sel vegetatif dapat bermigrasi ke aliran darah dari ulserasi superfisial ini, sel tersebut dapat berkembang biak dengan cepat sehingga menimbulkan septikemia dan berkembang menjadi gejala yang parah. Sebagian kecil pasien mungkin tidak menunjukkan gejala sama sekali. Pasien lain mungkin mengalami perdarahan saluran cerna bagian atas dan bawah yang fulminan, septikemia, dan kematian. Pasien yang bertahan hidup akan mendapat kekebalan alami.
Antraks inhalasi
Antraks inhalasi adalah yang paling mematikan dari ketiga jenis antraks. Setelah terhirup, organisme tersebut difagositosis oleh makrofag, spora berkecambah di dalam kelenjar getah bening trakeobronkial dan berkembang biak. Selama masa inkubasi 2 - 10 hari, pasien mengalami gejala mirip influenza dengan rasa tidak enak badan, demam, dan batuk non produktif. Penting untuk dicatat bahwa gejala klinis bisa tertunda lebih dari 1 bulan. Pasien juga dapat menunjukkan kerusakan mendadak dan mengalami syok, mediastinitis hemoragik, dan gangguan saluran napas. Kematian biasanya terjadi dalam waktu 72 jam setelah gejala muncul dengan perkiraan angka kematian 50%.
Antraks terkait suntikan atau injeksi
Antraks terkait suntikan adalah jalur infeksi yang baru diketahui. Beberapa kasus telah terjadi di kalangan pengguna narkoba suntikan di Eropa. Penularan tersebut diduga disebabkan oleh suntikan heroin yang terkontaminasi bahan yang mengandung spora B. anthracis. Gejala mungkin mirip dengan antraks kulit, tetapi terdapat infeksi jauh di bawah kulit atau di otot tempat obat disuntikkan. Antraks suntikan dapat menyebar ke seluruh tubuh lebih cepat dan lebih sulit dikenali dan diobati. Banyak bakteri lain yang lebih umum dapat menyebabkan infeksi kulit dan tempat suntikan, sehingga infeksi kulit atau tempat suntikan pada pengguna narkoba tidak selalu berarti orang tersebut menderita antraks.
Diagnosis
Diagnosis antraks yang terjadi secara alami harus dipertimbangkan jika terdapat gejala dan tanda yang sesuai dengan penyakit dan riwayat kontak dengan hewan atau kulit hewan yang sakit, atau melakukan perjalanan ke daerah endemik antraks. Gejala antraks—baik tanda fisik antraks kulit maupun tanda radiografi antraks inhalasi—sering kali cukup khas jika dokter sudah terbiasa dan gambaran klinis konsisten dengan diagnosis. Namun, evaluasi menyeluruh mungkin diperlukan, karena beberapa diagnosis banding mungkin terjadi pada setiap kasus infeksi antraks. Ciri yang diharapkan dari penggunaan senjata antraks aerosol adalah lonjakan pasien secara tiba-tiba yang menunjukkan gejala pneumonia berat dan sepsis. Satu-satunya cara untuk memastikan diagnosis antraks adalah (1) mengukur antibodi atau toksin dalam darah dan (2) kultur dan identifikasi Bacillus anthracis melalui sampel darah, usapan lesi kulit, cairan tulang belakang maupun sekret pernapasan. Sampel harus diambil sebelum pasien mulai mengonsumsi antibiotik untuk pengobatan. B. anthracis tumbuh dengan cepat dan mudah jika dilakukan kultur. Selain itu, terdapat beberapa tes diagnostik cepat untuk mengidentifikasi antraks di laboratorium rujukan, namun tidak tersedia secara luas di laboratorium rumah sakit biasa.
Diagnosis banding
Kulit: Bubonic plague, lymphocutaneous tularemia, cat scratch disease, brown recluse spider bite, primary syphilis, abscess, erythematous granuloma annulare
GI: Peptic Ulcer Disease, Boerhaave syndrome, peritonitis, perforated viscus, shigella, amoebic dysentery, ulceroglandular tularemia, bubonic plague
Pernafasan: Influenza, pneumonia, pneumonic plague, hemopneumothorax, pneumothorax, Pulmonary embolism, Acute Coronary Syndrome, Abdominal aortic aneurysm, Peptic Ulcer Disease
Antraks sebagai Senjata Biologis
Antraks saat ini dianggap sebagai salah satu ancaman bioterorisme paling serius. Beberapa kasus telah terjadi di beberapa wilayah dunia telah dilaporkan. Beberapa faktor berkontribusi terhadap kekhawatiran mengenai potensi penggunaan B. anthracis sebagai senjata biologis antara lain
B. anthracis tersedia secara luas di bank mikroba di seluruh dunia
B. anthracis banyak terdapat secara alami di daerah endemik
Bukti menunjukkan teknik produksi massal dan penyebaran antraks secara aerosol telah dikembangkan
Sifat tahan banting spora antraks di lingkungan membuat penyebaran melalui aerosol lebih efektif dibandingkan agen potensial lain
Antraks inhalasi yang tidak diobati memiliki tingkat kematian yang tinggi
Strain B. anthracis yang resisten terhadap antibiotik terdapat di alam dan dapat dilepaskan dengan sengaja
Antraks di masa lalu telah digunakan sebagai senjata biologis
Tindakan Pengendalian Infeksi
Meskipun antraks tidak menular, hanya sedikit kasus penularan dari orang ke orang yang diakibatkan oleh kontak dengan cairan dari lesi kulit, sehingga tindakan pencegahan dengan isolasi barier standar direkomendasikan untuk pasien rawat inap dengan segala bentuk infeksi antraks. Tidak ada data yang mendukung penggunaan masker filter udara partikulat berefisiensi tinggi atau tindakan lain untuk memberikan perlindungan dari penularan melalui udara atau tetesan ketika berada di dekat orang yang terinfeksi. Selain itu, tidak perlu memberikan profilaksis kepada kontak dekat pasien yang terinfeksi.
Pengobatan
Pengobatan antraks dengan antibiotik sejak dini sangat penting, karena penundaan akan mengurangi peluang orang yang terinfeksi untuk bertahan hidup. Banyak antibiotik yang dapat digunakan untuk mengobati infeksi antraks. CDC merekomendasikan cakupan yang luas dengan ciprofloxacin intravena (iv) atau doksisiklin dan setidaknya 2 antibiotik lain. Terapi antibiotik dapat dibarengi dengan pengobatan antitoksin. Ada 3 antitoksin yang disetujui FDA yang tersedia: dua antibodi monoklonal yang disebut raxibacumab (Abthrax) dan obiltoxaximab (Anthim), dan antibodi poliklonal yang disebut Anthrasil. Obat ini diberikan melalui suntikan atau iv dan dapat digunakan untuk pengobatan antraks inhalasi. Antraks kulit yang terjadi secara alami biasanya diobati dengan antibiotik selama 7 - 10 hari. Namun, dalam serangan bioterorisme aerosol, pasien antraks kulit mungkin juga mengalami paparan inhalasi yang dapat menyebabkan antraks inhalasi secara bersamaan. Oleh karena itu, direkomendasikan bahwa pasien dengan antraks kulit atau inhalasi dalam kondisi bioterorisme melanjutkan terapi antibiotik selama 60 hari.
1. A. Akbulut, H. Akbulut, M. Ozguler, N. Inci and S Yalcin, "Gastrointestinal Anthrax: A Case and Review of Literature," Advances in Infectious Diseases, Vol. 2 No. 3, 2012, pp. 67-71. doi: 10.4236/aid.2012.23010.
2. anthrax.pdf (centerforhealthsecurity.org)
3. Anthrax Infection Diagnosis & Testing CDC
4. Simonsen KA, Chatterjee K. Anthrax. [Updated 2023 Jul 25]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2023 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK507773/
5. Types of Anthrax CDC
6. Zasada AA. Detection and Identification of Bacillus anthracis: From Conventional to Molecular Microbiology Methods. Microorganisms. 2020 Jan 16;8(1):125. doi: 10.3390/microorganisms8010125. PMID: 31963339; PMCID: PMC7023132.
Artikel Terbaru
Lihat >>
Pernah Merasa Seperti Jatuh Saat Mau Tidur? Kenali Hypnic Jerk
Lihat >>
Risiko Penyakit Infeksi dan Sistem Surveilan untuk Penanganan Pasca Bencana Gempa Bumi: Penguatan Peran Labkesmas dalam Deteksi Dini dan Respon KLB
Lihat >>
Mengulas Bacillus cereus: Karakteristik Patogen, Risiko Toksin, dan Manajemen Pencegahan KLB Pangan
Lihat >>
Campak pada Dewasa: Bukan Sekadar Penyakit Anak
Lihat >>
Selamat Hari Tuberkulosis Sedunia
Lihat >>
Puasa sebagai Intervensi Mikrobiologis : Dampaknya terhadap Kesehatan Usus
Lihat >>
PENGUMUMAN: Pelaksanaan Program Nasional Pemantapan Mutu Eksternal (PNPME) Tahun 2026
Lihat >>
Menelusuri Jejak Mikroba pada Kasus Keracunan Pangan
Lihat >>
Sakit Sendi Setelah Demam? Ini yang Perlu Kamu Tahu
Lihat >>
SI NIMBUS YANG MERESAHKAN
Lihat >>
Hipertensi: Si Pembunuh Senyap yang Sering Diabaikan
Lihat >>
Prinsip Pemenuhan Nutrisi untuk Pasien Tuberkulosis Dalam Rangka Hari TB Dunia
Lihat >>
Bekerja aman di Biosafety Cabinet (BSC)
Lihat >>
Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG)
Lihat >>
AWaRe
Lihat >>
Budaya Kerja Kemenkes
Lihat >>
Nyamuk Aedes pembawa Wolbachia untuk mencegah infeksi demam berdarah
Lihat >>
Kondisi medis, gejala, dan penatalaksanaan yang berhubungan dengan panas
Lihat >>
Menjawab Pertanyaan seputar Penularan Cacar Monyet
Lihat >>
Yang Harus Diketahui Tentang Antraks
Lihat >>
Listeriosis (Foodborne Disease)
Lihat >>
DETEKSI DNA HPV UNTUK SKRINING KANKER SERVIKS
Lihat >>
Kanker serviks dikarenakan virus HPV
Lihat >>
Infeksi manusia oleh virus flu burung A(H5)
Lihat >>
Deteksi Infeksi Laten Tuberkulosis (ILTB)
Lihat >>
Patogenesis dan diagnosis Mycobacterium leprae
Lihat >>
SEPUTAR HIV DAN PENCEGAHAN HIV: PROFILAKSIS PASKA PAJANAN
Lihat >>
Resistensi Antimikroba Terkait Perjalanan
Lihat >>
DETEKSI LABORATORIUM Legionella pneumophilla DARI SPESIMEN MANUSIA
Lihat >>
LEGIONELLOSIS
Lihat >>
BAKTERI DALAM AIR SUSU IBU (ASI)
Lihat >>
DEKONTAMINASI
Lihat >>
PENYAKIT MULUT DAN KUKU PADA HEWAN TERNAK
Lihat >>
PENYAKIT CACAR MONYET (MONKEY POX)
Lihat >>
PENYAKIT HEPATITIS PADA ANAK YANG TIDAK DIKETAHUI PENYEBABNYA
Lihat >>
WORLD TB DAY 24 Maret 2022 Invest to End TB. Save Lives
Lihat >>
KONDISI PASKA COVID
Lihat >>
VARIAN OMICRON, EPISODE BARU DARI SARS-CoV-2
Lihat >>
DISBARISME
Lihat >>
HIPOKSIA
Lihat >>
JENIS VAKSIN
Lihat >>
PRINSIP DASAR VAKSIN
Lihat >>
KESEHATAN PENERBANGAN
Lihat >>
PERHATIKAN: PEMAKAIAN MASKER YANG BISA MELINDUNGI DARI COVID-19
Lihat >>
DEMAM DENGUE & DEMAM BERDARAH DENGUE
Lihat >>
PENGUMPULAN SPESIMEN DAHAK YANG BENAR
Lihat >>
VARIAN VIRUS SARS CoV-2
Lihat >>
VIRUS NIPAH (Niv)
Lihat >>
SEPUTAR FAKTA TENTANG VAKSIN COVID-19
Lihat >>
TRANSMISI VIRUS SARS-CoV-2
Lihat >>
BENARKAH ADA KASUS REINFEKSI COVID-19 ?
Lihat >>
STOP PENYEBARAN “SUPERBUG” GUNAKAN ANTIBIOTIK DENGAN BIJAK
Lihat >>
IMPACT OF TB LABORATORY DIAGNOSIS IN COVID-19 PANDEMIC
Lihat >>
Pemeriksaan usap dubur (swab rektal) untuk penjamah makanan
Lihat >>
DETEKSI BAKTERI RESISTEN
Lihat >>
Penerimaan Karyawan Non PNS Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya Tahun 2020
Lihat >>
HERD IMMUNITY
Lihat >>
MENINGITIS BAKTERI
Lihat >>
HARI TBC SEDUNIA
Lihat >>
PANDEMI COVID-19
Lihat >>
Fakta terbaru : Pneumonia oleh Corona Virus (2019-nCoV)
Lihat >>
Bahaya Tersembunyi Salmonella Enterocolitis Keracunan makanan akibat bakteri Salmonella
Lihat >>
Indonesia Masuki Periode Aging Population
Lihat >>
PENANGANAN PERTAMA DEMAM ANAK
Lihat >>
Hoax Imunisasi Masih Beredar
Lihat >>
WASPADALAH, DIFTERI MASIH ADA !
Lihat >>
Waspada, Filariasis Ditularkan Melalui Semua Jenis Nyamuk
Lihat >>
Satu Gigitan Anjing Bisa Renggut Nyawa
Lihat >>
Hari Santri 2018: ''Menag Ajak Santri Tebarkan Kedamaian di Sosial Media''
Lihat >>
Susu Kental Manis Bukan untuk Dikonsumsi Setiap Hari
Lihat >>
Hari Keluarga Nasional XXV Tahun 2018: Cinta Keluarga, Cinta Terencana
Lihat >>
Kemenkes: Kecanduan Game Adalah Gangguan Perilaku
Lihat >>
Pemberitahuan PNPME 2018
Lihat >>
Pengumuman Penutupan Pendaftaran PME Kimia Klinik & Mikrobiologi BTA
@bblabkesmas.surabaya
BBLKMSurabaya
BBLKMSurabaya