DETEKSI DNA HPV UNTUK SKRINING KANKER SERVIKS
20 Mei 2023 / By Administrator,
Oleh: dr. Titiek Sulistyowati, M. Ked. Klin, Sp. MK (K)
Untuk mencegah kanker serviks, wanita dapat melakukan tes skrining untuk mengidentifikasi apakah terkena atau berisiko terhadap prakanker serviks. Cervical intraepithelial neoplasia (CIN) atau keadaan sel yang tidak normal pada serviks ditandai dengan perubahan sel pada zona transformasi serviks. CIN biasanya disebabkan oleh infeksi Human Papilloma Virus (HPV), terutama jenis virus HPV yang risiko tinggi (hrHPV) seperti strain 16 dan 18, kedua strain ini menyebabkan lebih dari 70% kasus kanker serviks. Lesi CIN1 – disebut sebagai lesi intraepitel skuamosa tingkat rendah – merupakan korelasi morfologis dari infeksi HPV. Lesi CIN2/3 –disebut sebagai lesi intraepitel skuamosa tingkat tinggi – berkorelasi dengan pra-kanker serviks yang jika tidak ditangani, dapat berkembang menjadi kanker serviks.
Metode tradisional skrining wanita untuk kanker serviks adalah tes sitologi (tes Papanicolaou, dikenal juga sebagai Pap smear). Ketika hasil tes sitologi positif, diagnosis dikonfirmasi dengan kolposkopi dan biopsi lesi untuk diagnosis histologis. Di negara dengan program skrining dan pengobatan kanker serviks berbasis sitologi yang dilakukan secara efektif, angka kematian akibat kanker serviks telah berkurang 5x lipat selama 50 tahun terakhir. Akan tetapi, pendekatan skrining ini belum berhasil di negara dengan penghasilan rendah dan menengah. Tes skrining yang lebih baru diperkenalkan dalam 15 tahun terakhir termasuk inspeksi visual dengan asam asetat (IVA), dan tes molekuler, terutama tes berbasis DNA hrHPV, yang cocok digunakan di semua wilayah. Tes dan teknik yang lebih baru telah dikembangkan (Tabel 1.1), antara lain :
Rekomendasi dan pernyataan praktik yang baik dari WHO yang dapat digunakan pada populasi umum wanita, antara lain :
1.Penggunaan deteksi DNA HPV sebagai tes skrining utama daripada IVA atau sitologi dalam pendekatan skrining dan pengobatan di antara populasi umum wanita dan wanita dengan HIV.* [Rekomendasi kuat, bukti kepastian sedang].
2.Penggunaan tes skrining primer DNA HPV baik dengan triase atau tanpa triase untuk mencegah kanker serviks pada populasi wanita secara umum. [Rekomendasi bersyarat, bukti kepastian sedang].
Bukti adanya hubungan sebab akibat antara infeksi HPV onkogenik dan kanker serviks serta lesi prekursornya menyebabkan berkembangnya teknik deteksi HPV-DNA untuk mencegah dan mengidentifikasi lesi tersebut. Pemeriksaan molekuler berbasis PCR menjadi hal yang cukup popular semenjak pandemi COVID-19 dan direkomendasikan juga oleh WHO untuk skrining utama virus HPV sebagai penyebab kanker serviks. Strategi skrining untuk sitologi serviks atau Papanicolaou (PAP smear) sangat tidak nyaman karena adanya pemeriksaan panggul dan hasil sitologi sering kali rentan terhadap kesalahan teknis, sensitivitas rendah, dan hasil negatif palsu. Oleh karena itu, tes DNA HPV menjadi alternatif atau tambahan dalam kombinasi dengan tes Pap smear.
Tes HPV dengan metode molekuler lebih menguntungkan dibandingkan sitologi terutama karena kemampuannya mengarahkan deteksi dini lebih lanjut dalam kanker serviks. Beberapa keuntungannya adalah sebagai berikut:
1.Sensitivitas dan reprodusibilitas lebih tinggi, tetapi spesifisitas agak rendah
2.Alat otomatis, terpusat, dan mutu terjamin dengan jumlah spesimen banyak
3.Biaya lebih hemat dibandingkan sitologi, jika dilakukan untuk jumlah tes yang banyak
4.Pengambilan sampel bisa mandiri, sehingga berpotensi meningkatkan skrining di daerah terpencil atau pada perempuan yang tidak terjangkau layanan kesehatan primer di daerah perkotaan.
Swab vagina yang diambil sampelnya sendiri digunakan dalam program skrining di berbagai pusat kesehatan, tetapi keterbatasan seperti teknik tidak tepat dan tidak kooperatif semakin menambah kesulitan penerapan di masyarakat pedesaan. Pengujian sampel urin mungkin terbukti menjadi alternatif metode skrining yang berhasil, terutama di negara dengan sumber daya terbatas. Sampel urin pengosongan pertama (first void urine) mengandung persentase sel serpihan yang terkelupas lebih tinggi dibandingkan dengan pengumpulan porsi tengah (midstream urine). Oleh karena itu, pengambilan sampel mandiri lebih nyaman dan lebih mudah dibandingkan dengan metode pengambilan sampel lain.
Tes HPV urin dilakukan atas dasar bahwa urin dapat digunakan untuk mendeteksi HPV karena dinding epitel serviks uterus dan/atau vagina biasanya melepaskan sel yang terkelupas, mukus maupun debris ke dalam urin dan jika terdapat HPV atau infeksi mikroba lainnya, maka sel tersebut juga akan ikut luruh. Sel akan mengandung genom virus termasuk genom organisme menular lain. Oleh karena itu, pengambilan sampel urin pengosongan pertama (first void urine) telah digunakan untuk mendeteksi HPV oleh beberapa studi. Sebuah penelitian juga menunjukkan bahwa urin merupakan pengganti usap/swab serviks yang layak dalam mendeteksi HPV. Sampel urin adalah pilihan yang baik untuk pemeriksaan pengambilan sampel mandiri karena tidak invasif dan mudah dikumpulkan. Sebuah studi meta analsiis dari 15 penelitian (3412 wanita) menunjukkan bahwa pemeriksaan RT -PCR HPV dengan sampel urin menunjukkan hasil memuaskan yaitu sensitivitas 78% (70%-84%) dan spesifitas 89% (81%-94%).
Pada umumnya tes DNA HPV yang telah tersedia luas di masyarakat adalah deteksi virus dengan risiko tinggi penyebab kanker serviks (high risk Human Papilloma Virus = hrHPV) antara lain strain 16, 18, 31, 33, 35, 39, 45, 51, 52, 56, 58, 59, 66, dan 68. Tes berbasis PCR (DNA-HPV) akan menunjukkan hasil positif atau negatif dengan penjelasan sebagai berikut:
1.Tes DNA HPV positif berarti terdapat atau terdeteksi strain hrHPV (HPV risiko tinggi) dalam sampel yang diberikan. Ini tidak berarti pasien mengidap kanker serviks saat ini, tapi itu adalah tanda peringatan bahwa kanker serviks bisa berkembang di masa depan. Dokter mungkin akan merekomendasikan tes lanjutan dalam satu tahun untuk melihat apakah infeksi telah sembuh atau untuk memeriksa tanda kanker serviks. Analisis lebih lanjut diperlukan dengan biopsi atau kolposkopi untuk mengambil sampel sel atau jaringan dari leher rahim.
2.Tes DNA HPV negatif berarti sampel tersebut tidak mengandung strain hrHPV (HPV risiko tinggi). Pasien mungkin diminta untuk tes ulang dalam waktu 3-5 tahun berikutnya.
Seperti halnya tes skrining lainnya, Tes berbasis PCR (HPV-DNA) memiliki risiko hasil positif palsu atau negatif palsu dengan penjelasan sebagai berikut :
1.Hasil tes positif palsu menunjukkan bahwa pasien mengidap jenis hrHPV (HPV risiko tinggi), padahal sebenarnya tidak. Hasil positif palsu dapat menyebabkan prosedur tindak lanjut yang tidak perlu, seperti kolposkopi atau biopsi, dan kekhawatiran yang berlebihan terhadap hasil tes.
2.Hasil tes yang negatif palsu berarti pasien sebenarnya mengidap infeksi HPV, tetapi hasil tes menunjukkan negatif. Hal ini mungkin menyebabkan keterlambatan dalam tes lebih lanjut atau pengobatan.
Sumber :
1.Williams J, Kostiuk M, Biron VL. Molecular Detection Methods in HPV-Related Cancers. Front Oncol. 2022 Apr 27;12:864820. doi: 10.3389/fonc.2022.864820. PMID: 35574396; PMCID: PMC9092940.
2.WHO. 2021. WHO guideline for screening and treatment of cervical pre-cancer lesions for cervical cancer prevention, second edition.
3.Bober P, Firment P, Sabo J. Diagnostic Test Accuracy of First-Void Urine Human Papillomaviruses for Presence Cervical HPV in Women: Systematic Review and Meta-Analysis. Int J Environ Res Public Health. 2021 Dec 17;18(24):13314. doi: 10.3390/ijerph182413314. PMID: 34948919; PMCID: PMC8708158.
4.Jade Pattyn, Severien Van Keer, Laura Téblick, Pierre Van Damme & Alex Vorsters (2019) HPV DNA detection in urine samples of women: ‘an efficacious and accurate alternative to cervical samples?’, Expert Review of Anti-infective Therapy, 17:10, 755-757, DOI: 10.1080/14787210.2019.1668776
Artikel Terbaru
Lihat >>
Pernah Merasa Seperti Jatuh Saat Mau Tidur? Kenali Hypnic Jerk
Lihat >>
Risiko Penyakit Infeksi dan Sistem Surveilan untuk Penanganan Pasca Bencana Gempa Bumi: Penguatan Peran Labkesmas dalam Deteksi Dini dan Respon KLB
Lihat >>
Mengulas Bacillus cereus: Karakteristik Patogen, Risiko Toksin, dan Manajemen Pencegahan KLB Pangan
Lihat >>
Campak pada Dewasa: Bukan Sekadar Penyakit Anak
Lihat >>
Selamat Hari Tuberkulosis Sedunia
Lihat >>
Puasa sebagai Intervensi Mikrobiologis : Dampaknya terhadap Kesehatan Usus
Lihat >>
PENGUMUMAN: Pelaksanaan Program Nasional Pemantapan Mutu Eksternal (PNPME) Tahun 2026
Lihat >>
Menelusuri Jejak Mikroba pada Kasus Keracunan Pangan
Lihat >>
Sakit Sendi Setelah Demam? Ini yang Perlu Kamu Tahu
Lihat >>
SI NIMBUS YANG MERESAHKAN
Lihat >>
Hipertensi: Si Pembunuh Senyap yang Sering Diabaikan
Lihat >>
Prinsip Pemenuhan Nutrisi untuk Pasien Tuberkulosis Dalam Rangka Hari TB Dunia
Lihat >>
Bekerja aman di Biosafety Cabinet (BSC)
Lihat >>
Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG)
Lihat >>
AWaRe
Lihat >>
Budaya Kerja Kemenkes
Lihat >>
Nyamuk Aedes pembawa Wolbachia untuk mencegah infeksi demam berdarah
Lihat >>
Kondisi medis, gejala, dan penatalaksanaan yang berhubungan dengan panas
Lihat >>
Menjawab Pertanyaan seputar Penularan Cacar Monyet
Lihat >>
Yang Harus Diketahui Tentang Antraks
Lihat >>
Listeriosis (Foodborne Disease)
Lihat >>
DETEKSI DNA HPV UNTUK SKRINING KANKER SERVIKS
Lihat >>
Kanker serviks dikarenakan virus HPV
Lihat >>
Infeksi manusia oleh virus flu burung A(H5)
Lihat >>
Deteksi Infeksi Laten Tuberkulosis (ILTB)
Lihat >>
Patogenesis dan diagnosis Mycobacterium leprae
Lihat >>
SEPUTAR HIV DAN PENCEGAHAN HIV: PROFILAKSIS PASKA PAJANAN
Lihat >>
Resistensi Antimikroba Terkait Perjalanan
Lihat >>
DETEKSI LABORATORIUM Legionella pneumophilla DARI SPESIMEN MANUSIA
Lihat >>
LEGIONELLOSIS
Lihat >>
BAKTERI DALAM AIR SUSU IBU (ASI)
Lihat >>
DEKONTAMINASI
Lihat >>
PENYAKIT MULUT DAN KUKU PADA HEWAN TERNAK
Lihat >>
PENYAKIT CACAR MONYET (MONKEY POX)
Lihat >>
PENYAKIT HEPATITIS PADA ANAK YANG TIDAK DIKETAHUI PENYEBABNYA
Lihat >>
WORLD TB DAY 24 Maret 2022 Invest to End TB. Save Lives
Lihat >>
KONDISI PASKA COVID
Lihat >>
VARIAN OMICRON, EPISODE BARU DARI SARS-CoV-2
Lihat >>
DISBARISME
Lihat >>
HIPOKSIA
Lihat >>
JENIS VAKSIN
Lihat >>
PRINSIP DASAR VAKSIN
Lihat >>
KESEHATAN PENERBANGAN
Lihat >>
PERHATIKAN: PEMAKAIAN MASKER YANG BISA MELINDUNGI DARI COVID-19
Lihat >>
DEMAM DENGUE & DEMAM BERDARAH DENGUE
Lihat >>
PENGUMPULAN SPESIMEN DAHAK YANG BENAR
Lihat >>
VARIAN VIRUS SARS CoV-2
Lihat >>
VIRUS NIPAH (Niv)
Lihat >>
SEPUTAR FAKTA TENTANG VAKSIN COVID-19
Lihat >>
TRANSMISI VIRUS SARS-CoV-2
Lihat >>
BENARKAH ADA KASUS REINFEKSI COVID-19 ?
Lihat >>
STOP PENYEBARAN “SUPERBUG” GUNAKAN ANTIBIOTIK DENGAN BIJAK
Lihat >>
IMPACT OF TB LABORATORY DIAGNOSIS IN COVID-19 PANDEMIC
Lihat >>
Pemeriksaan usap dubur (swab rektal) untuk penjamah makanan
Lihat >>
DETEKSI BAKTERI RESISTEN
Lihat >>
Penerimaan Karyawan Non PNS Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya Tahun 2020
Lihat >>
HERD IMMUNITY
Lihat >>
MENINGITIS BAKTERI
Lihat >>
HARI TBC SEDUNIA
Lihat >>
PANDEMI COVID-19
Lihat >>
Fakta terbaru : Pneumonia oleh Corona Virus (2019-nCoV)
Lihat >>
Bahaya Tersembunyi Salmonella Enterocolitis Keracunan makanan akibat bakteri Salmonella
Lihat >>
Indonesia Masuki Periode Aging Population
Lihat >>
PENANGANAN PERTAMA DEMAM ANAK
Lihat >>
Hoax Imunisasi Masih Beredar
Lihat >>
WASPADALAH, DIFTERI MASIH ADA !
Lihat >>
Waspada, Filariasis Ditularkan Melalui Semua Jenis Nyamuk
Lihat >>
Satu Gigitan Anjing Bisa Renggut Nyawa
Lihat >>
Hari Santri 2018: ''Menag Ajak Santri Tebarkan Kedamaian di Sosial Media''
Lihat >>
Susu Kental Manis Bukan untuk Dikonsumsi Setiap Hari
Lihat >>
Hari Keluarga Nasional XXV Tahun 2018: Cinta Keluarga, Cinta Terencana
Lihat >>
Kemenkes: Kecanduan Game Adalah Gangguan Perilaku
Lihat >>
Pemberitahuan PNPME 2018
Lihat >>
Pengumuman Penutupan Pendaftaran PME Kimia Klinik & Mikrobiologi BTA
@bblabkesmas.surabaya
BBLKMSurabaya
BBLKMSurabaya