KESEHATAN PENERBANGAN
11 Agustus 2021 / By Administrator,
dr. Eldy Akhirul Akbar, Flight Surgeon
Latar Belakang
Bepergian dengan menggunakan pesawat terbang pada masa kini semakin diminati, karena umumnya para penumpang menganggap ini merupakan cara cepat, efisien, aman, dan menyenangkan. Perjalanan yang membutuhkan waktu cukup lama, memerlukan kondisi tubuh yang prima.
Masalah ketinggian yang dapat menyebabkan hipoksia dan dekompresi, masalah ergonomik, kelelahan, irama sirkadian, stress sejak keberangkatan hingga mendarat kembali adalah sebagian dari faktor-faktor yang dapat menimbulkan resiko medis. Untuk itu dikenal beberapa pertimbangan yang akan menentukan apakah seorang penumpang yang sakit cukup laik terbang atau harus tunda keberangkatan karena alasan tidak laik terbang.
Lingkungan Penerbangan
Seperti benda-benda lain, gas juga memiliki berat. Berat 1 meter kubik udara pada permukaanlaut dengan tekanan 760 mmHg dan suhu 00C adalah 1.293 gram. Pengukuran tekanan atmosfer pada permukaan laut dan suhu 00C pada luas penampang 1 cm2 , hasilnya sama dengan tekanan satu kolom air raksa setinggi 760 mmHg. Semakin tinggi, semakin kurang tekanan udaranya, karena jumlah udara yang berada diatasnya makin berkurang pula.
Tabel 1. Tekanan Udara pada Ketinggian
Perubahan Ketinggian pada Fisiologi Tubuh
Ada empat perubahan sifat atmosfer pada ketinggian yang dapat merugikan faal tubuh khususnya dan kesehatan pada umumnya.
1 Perubahan atau mengecilnya tekanan parsiil oksigen di udara. Hal ini dapat mengganggu faal tubuh dan menyebabkan hipoksia.
2. Perubahan atau mengecilnya tekanan atmosfer. Hal ini dapat menyebabkan decompression sickness.
3. Berbahanya suhu atmosfer.
4. Meningkatnya radiasi, baik dari matahari maupun dari kosmos lain.
Prinsip Penilaian Kesehatan Penumpang Pesawat Udara
Penumpang sakit pada umumnya tidak diperkenankan terbang bila penyakitnya akan memperburuk saat terpajan lingkungan yang hipobarik hipoksik. Pada ketinggian 5.000 kaki, tekanan parsial oksigen akan turun 3-8%. Penurunan ini dapat mengganggu penumpang yang menderita penyakit yang peka terhadap hipoksia seperti penyakit jantung (gagal jantung, infark miokard), anemia berat, gangguan sirkulasi darah otak, fungsi paru yang kurang baik dan susunan saraf pusat.
Gambar 1. Tekanan Kabin Pesawat
Penyakit dan Kondisi yang Memerlukan Penilaian Medis
1. Penyakit yang diperberat dengan perjalanan udara
a. Penyakit kardiovaskuler
b. Penyakit saluran nafas
c. Penyakit darah
d. Penyakit susunan saraf pusat
e. Penyakit diabetes mellitus
f. Penyakit saluran pencernaan
g. Penyakit THT
h. Cedera patah tulang
2. Penyakit menular
Secara umum perusahaan penerbangan tidak diperkenankan mengangkut seseorang yang menderita peyakit menular, termasuk Covid-19, karena resiko terjadinya penularan kepada penumpang lain.
3. Penderita penyakit yang ofensif atau mengganggu penumpang lain
Penumpang yang kondisi medis dan perilakunya ofensif, penderita penyakit jiwa dengan perilaku yang mengganggu harus diberi obat penenang dan disertai pendamping.
Penderita psikosis akut merupakan kontra indikasi terbang, psikosis dalam episode tenang apabila menunjukkan gejala agresif harus diikat pada tempat duduknya.
4. Kondisi yang memerlukan penilaian medik khusus
a. Kehamilan
b. Bayi
c. Lanjut usia
d. Kasus-kasus terminal
e. Stres, phobia, cemas
f. Jet lag
g. DVT
Sumber: Petunjuk Teknis Pemeriksaan Kelaikan Terbang Penumpang Pesawat Udara, Ditjen P2PL, Jakarta 2007
Artikel Terbaru
Lihat >>
Pernah Merasa Seperti Jatuh Saat Mau Tidur? Kenali Hypnic Jerk
Lihat >>
Risiko Penyakit Infeksi dan Sistem Surveilan untuk Penanganan Pasca Bencana Gempa Bumi: Penguatan Peran Labkesmas dalam Deteksi Dini dan Respon KLB
Lihat >>
Mengulas Bacillus cereus: Karakteristik Patogen, Risiko Toksin, dan Manajemen Pencegahan KLB Pangan
Lihat >>
Campak pada Dewasa: Bukan Sekadar Penyakit Anak
Lihat >>
Selamat Hari Tuberkulosis Sedunia
Lihat >>
Puasa sebagai Intervensi Mikrobiologis : Dampaknya terhadap Kesehatan Usus
Lihat >>
PENGUMUMAN: Pelaksanaan Program Nasional Pemantapan Mutu Eksternal (PNPME) Tahun 2026
Lihat >>
Menelusuri Jejak Mikroba pada Kasus Keracunan Pangan
Lihat >>
Sakit Sendi Setelah Demam? Ini yang Perlu Kamu Tahu
Lihat >>
SI NIMBUS YANG MERESAHKAN
Lihat >>
Hipertensi: Si Pembunuh Senyap yang Sering Diabaikan
Lihat >>
Prinsip Pemenuhan Nutrisi untuk Pasien Tuberkulosis Dalam Rangka Hari TB Dunia
Lihat >>
Bekerja aman di Biosafety Cabinet (BSC)
Lihat >>
Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG)
Lihat >>
AWaRe
Lihat >>
Budaya Kerja Kemenkes
Lihat >>
Nyamuk Aedes pembawa Wolbachia untuk mencegah infeksi demam berdarah
Lihat >>
Kondisi medis, gejala, dan penatalaksanaan yang berhubungan dengan panas
Lihat >>
Menjawab Pertanyaan seputar Penularan Cacar Monyet
Lihat >>
Yang Harus Diketahui Tentang Antraks
Lihat >>
Listeriosis (Foodborne Disease)
Lihat >>
DETEKSI DNA HPV UNTUK SKRINING KANKER SERVIKS
Lihat >>
Kanker serviks dikarenakan virus HPV
Lihat >>
Infeksi manusia oleh virus flu burung A(H5)
Lihat >>
Deteksi Infeksi Laten Tuberkulosis (ILTB)
Lihat >>
Patogenesis dan diagnosis Mycobacterium leprae
Lihat >>
SEPUTAR HIV DAN PENCEGAHAN HIV: PROFILAKSIS PASKA PAJANAN
Lihat >>
Resistensi Antimikroba Terkait Perjalanan
Lihat >>
DETEKSI LABORATORIUM Legionella pneumophilla DARI SPESIMEN MANUSIA
Lihat >>
LEGIONELLOSIS
Lihat >>
BAKTERI DALAM AIR SUSU IBU (ASI)
Lihat >>
DEKONTAMINASI
Lihat >>
PENYAKIT MULUT DAN KUKU PADA HEWAN TERNAK
Lihat >>
PENYAKIT CACAR MONYET (MONKEY POX)
Lihat >>
PENYAKIT HEPATITIS PADA ANAK YANG TIDAK DIKETAHUI PENYEBABNYA
Lihat >>
WORLD TB DAY 24 Maret 2022 Invest to End TB. Save Lives
Lihat >>
KONDISI PASKA COVID
Lihat >>
VARIAN OMICRON, EPISODE BARU DARI SARS-CoV-2
Lihat >>
DISBARISME
Lihat >>
HIPOKSIA
Lihat >>
JENIS VAKSIN
Lihat >>
PRINSIP DASAR VAKSIN
Lihat >>
KESEHATAN PENERBANGAN
Lihat >>
PERHATIKAN: PEMAKAIAN MASKER YANG BISA MELINDUNGI DARI COVID-19
Lihat >>
DEMAM DENGUE & DEMAM BERDARAH DENGUE
Lihat >>
PENGUMPULAN SPESIMEN DAHAK YANG BENAR
Lihat >>
VARIAN VIRUS SARS CoV-2
Lihat >>
VIRUS NIPAH (Niv)
Lihat >>
SEPUTAR FAKTA TENTANG VAKSIN COVID-19
Lihat >>
TRANSMISI VIRUS SARS-CoV-2
Lihat >>
BENARKAH ADA KASUS REINFEKSI COVID-19 ?
Lihat >>
STOP PENYEBARAN “SUPERBUG” GUNAKAN ANTIBIOTIK DENGAN BIJAK
Lihat >>
IMPACT OF TB LABORATORY DIAGNOSIS IN COVID-19 PANDEMIC
Lihat >>
Pemeriksaan usap dubur (swab rektal) untuk penjamah makanan
Lihat >>
DETEKSI BAKTERI RESISTEN
Lihat >>
Penerimaan Karyawan Non PNS Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya Tahun 2020
Lihat >>
HERD IMMUNITY
Lihat >>
MENINGITIS BAKTERI
Lihat >>
HARI TBC SEDUNIA
Lihat >>
PANDEMI COVID-19
Lihat >>
Fakta terbaru : Pneumonia oleh Corona Virus (2019-nCoV)
Lihat >>
Bahaya Tersembunyi Salmonella Enterocolitis Keracunan makanan akibat bakteri Salmonella
Lihat >>
Indonesia Masuki Periode Aging Population
Lihat >>
PENANGANAN PERTAMA DEMAM ANAK
Lihat >>
Hoax Imunisasi Masih Beredar
Lihat >>
WASPADALAH, DIFTERI MASIH ADA !
Lihat >>
Waspada, Filariasis Ditularkan Melalui Semua Jenis Nyamuk
Lihat >>
Satu Gigitan Anjing Bisa Renggut Nyawa
Lihat >>
Hari Santri 2018: ''Menag Ajak Santri Tebarkan Kedamaian di Sosial Media''
Lihat >>
Susu Kental Manis Bukan untuk Dikonsumsi Setiap Hari
Lihat >>
Hari Keluarga Nasional XXV Tahun 2018: Cinta Keluarga, Cinta Terencana
Lihat >>
Kemenkes: Kecanduan Game Adalah Gangguan Perilaku
Lihat >>
Pemberitahuan PNPME 2018
Lihat >>
Pengumuman Penutupan Pendaftaran PME Kimia Klinik & Mikrobiologi BTA
@bblabkesmas.surabaya
BBLKMSurabaya
BBLKMSurabaya