Campak pada Dewasa: Bukan Sekadar Penyakit Anak
16 April 2026 / By Administrator,
Oleh : dr. Titiek Sulistyowati, M. Ked. Klin, Sp. MK (K)
Kabar duka datang dari dunia kesehatan. Seorang dokter internship dilaporkan meninggal dunia setelah mengalami sakit yang awalnya dianggap sebagai infeksi biasa. Namun, hasil pemeriksaan mengarah pada komplikasi campak, penyakit yang selama ini sering dianggap ringan dan hanya menyerang anak-anak. Padahal, orang dewasa juga bisa terkena campak, bahkan dengan gejala yang lebih berat dan risiko komplikasi yang lebih tinggi. Penyakit ini masih menjadi masalah kesehatan, terutama di daerah dengan cakupan imunisasi yang belum optimal. Kasus ini menjadi pengingat penting bahwa campak pada dewasa bisa berakibat fatal.
Fakta Epidemiologi: Campak Masih Nyata
Banyak orang mengira campak sudah tidak lagi menjadi ancaman. Namun, faktanya penyakit ini masih menjadi masalah kesehatan global. Menurut WHO dan CDC, sebelum pandemi COVID-19 terdapat sekitar 9 juta kasus campak secara global setiap tahun dengan lebih dari 100.000 kematian, terutama di negara dengan cakupan imunisasi rendah (WHO & CDC, 2023).
Di Indonesia, campak masih ditemukan dan bahkan dilaporkan dalam bentuk kejadian luar biasa (KLB) di beberapa daerah. Peningkatan kasus ini seringkali berkaitan dengan menurunnya cakupan imunisasi (Kemenkes RI, 2023). Menariknya, tidak hanya anak-anak, kelompok usia dewasa kini juga mulai terdampak, terutama pada individu yang belum pernah mendapatkan vaksinasi atau mengalami penurunan kekebalan tubuh. Hal ini menunjukkan bahwa campak belum sepenuhnya terkendali dan tetap memerlukan kewaspadaan (WHO, 2023; CDC, 2024).
Awalnya Hanya Demam dan Batuk
Menurut informasi yang beredar, dokter muda tersebut sempat mengalami demam tinggi, batuk, pilek, dan mata merah. Gejala-gejala ini pada awalnya tampak seperti infeksi flu biasa, sehingga kerap tidak menimbulkan kecurigaan. Namun, beberapa hari kemudian muncul ruam merah yang menyebar dari wajah ke seluruh tubuh, yang merupakan ciri khas campak.
Dalam perjalanan penyakitnya, kondisi pasien dilaporkan memburuk dengan cepat. Salah satu tanda khas campak sebenarnya adalah munculnya bercak putih kecil di dalam mulut yang dikenal sebagai bercak Koplik sekitar 1–2 hari sebelum timbulnya ruam, meskipun tanda ini tidak selalu terlihat atau disadari.
Komplikasi yang Mematikan
Dalam waktu singkat, pasien dapat mengalami gangguan pernapasan berat yang diduga sebagai pneumonia akibat campak. Pneumonia merupakan penyebab kematian tersering pada kasus campak dan terjadi pada sekitar 1 dari 20 kasus. Komplikasi lain meliputi ensefalitis (±1/1000 kasus), diare berat, serta gangguan sistemik lainnya. Risiko komplikasi tersebut cenderung lebih tinggi pada orang dewasa dibandingkan anak-anak. Pada tenaga kesehatan, risiko ini dapat semakin meningkat mengingat tingginya frekuensi paparan terhadap pasien, termasuk pada fase awal penyakit ketika gejala belum khas (CDC, 2024; Nussbaum et al, 2024; WHO, 2025).
Pencegahan yang Sering Terlupakan
Kasus ini membuka mata banyak pihak bahwa vaksinasi bukan hanya diperuntukkan bagi anak-anak. Pada kenyataannya, perlindungan terhadap campak juga sangat penting bagi orang dewasa. Oleh karena itu, setiap individu perlu memastikan kembali status imunisasinya, terutama jika tidak memiliki catatan vaksinasi yang jelas.
Vaksin MMR (Measles, Mumps, Rubella) telah terbukti aman dan efektif dalam mencegah infeksi serta menurunkan risiko komplikasi. Selain itu, bagi tenaga kesehatan sebagai kelompok berisiko tinggi, sangat dianjurkan untuk memiliki bukti imunitas yang memadai, baik melalui riwayat vaksinasi lengkap maupun pemeriksaan antibodi. Langkah ini penting untuk melindungi diri sendiri sekaligus mencegah penularan kepada pasien dan lingkungan sekitar.
Mengapa Bisa Terjadi pada Dokter?
Secara epidemiologi, campak merupakan salah satu penyakit dengan tingkat penularan paling tinggi. Virus ini memiliki angka reproduksi dasar (R0) sekitar 12–18, yang berarti satu orang dapat menularkan infeksi ke banyak individu dalam waktu singkat (Moss,2017). Selain itu, droplet yang mengandung virus dapat bertahan di udara selama beberapa jam, dan virus tetap infeksius pada permukaan yang terkontaminasi hingga dua jam, sehingga risiko penularan tetap ada meskipun kontak langsung sudah tidak terjadi. Pada individu yang tidak memiliki kekebalan, sekitar 90% akan tertular setelah terpapar (CDC, 2024; WHO, 2025).
Pada tenaga kesehatan, risiko ini menjadi semakin besar. Hal ini disebabkan oleh tingginya frekuensi paparan terhadap pasien, termasuk pada fase awal ketika gejala campak belum khas dan masih menyerupai infeksi saluran napas biasa. Selain itu, tidak semua tenaga kesehatan memiliki bukti kekebalan, baik melalui riwayat vaksinasi maupun pemeriksaan antibodi (IgG). Ditambah dengan lingkungan kerja yang berisiko tinggi terhadap penularan penyakit infeksi, kondisi ini menjadikan tenaga kesehatan sebagai kelompok yang rentan apabila tidak memiliki perlindungan imun yang adekuat.
Campak pada Dewasa: Lebih Berbahaya
Berbeda dengan pada anak-anak, campak yang terjadi pada orang dewasa umumnya menunjukkan derajat keparahan yang lebih tinggi. Penderita dewasa cenderung mengalami gejala yang lebih berat, dengan kondisi sistemik yang lebih mengganggu aktivitas sehari-hari. Selain itu, risiko terjadinya komplikasi juga meningkat, seperti infeksi paru (pneumonia) atau gangguan neurologis.
Tidak hanya itu, pasien dewasa dengan campak lebih sering memerlukan perawatan di rumah sakit dibandingkan anak-anak. Hal ini berdampak pada meningkatnya angka kesakitan, bahkan risiko kematian yang lebih besar, terutama pada individu dengan kondisi kesehatan tertentu atau daya tahan tubuh yang menurun.
Apakah Perlu Booster Campak pada Dewasa?
Pertanyaan mengenai perlunya booster vaksin campak pada orang dewasa semakin sering muncul, terutama setelah adanya kasus campak berat pada usia dewasa, termasuk pada tenaga kesehatan. Hal ini menimbulkan kekhawatiran: apakah perlindungan dari imunisasi masa kecil masih cukup?
Secara umum, tidak semua orang dewasa memerlukan booster vaksin campak secara rutin, terutama jika telah mendapatkan imunisasi lengkap sejak kecil. Namun, pada kelompok tertentu dengan risiko tinggi, seperti tenaga kesehatan, booster atau setidaknya verifikasi status kekebalan sangat dianjurkan.
Imunisasi campak dikatakan lengkap apabila seseorang telah menerima dua dosis vaksin MMR (Measles, Mumps, Rubella). Vaksin ini biasanya diberikan pada masa anak-anak, yaitu pada usia 9–12 bulan dan dilanjutkan dengan dosis kedua pada usia 18 bulan atau saat usia sekolah. Dua dosis vaksin MMR terbukti memberikan perlindungan yang sangat baik, dengan efektivitas sekitar 97% terhadap campak (CDC, 2024). Selain itu, imunisasi ini umumnya mampu memberikan kekebalan jangka panjang, bahkan sering kali bertahan seumur hidup. Meskipun vaksin memberikan perlindungan yang kuat, dalam beberapa kondisi kekebalan tubuh dapat menurun. Hal ini dapat terjadi seiring waktu (waning immunity), tidak terbentuknya respon imun yang optimal setelah vaksinasi, atau pada individu dengan kondisi imunokompromais. Namun demikian, pada sebagian besar orang dengan kondisi kesehatan yang baik, perlindungan dari vaksin tetap cukup kuat (WHO, 2017).
Rekomendasi untuk Tenaga Kesehatan
Tenaga kesehatan merupakan kelompok dengan risiko tinggi terpapar campak, sehingga memerlukan rekomendasi imunisasi yang lebih ketat. Berdasarkan pedoman internasional dari WHO dan CDC, tenaga kesehatan sebaiknya memiliki bukti imunitas terhadap campak. Bukti tersebut dapat berupa:
1. Dokumentasi telah menerima dua dosis vaksin MMR
2. Bukti laboratorium berupa antibodi IgG campak positif
3. Riwayat infeksi campak yang terkonfirmasi secara klinis dan/atau laboratoris
Individu yang tidak memiliki bukti kekebalan dianjurkan untuk menerima dua dosis vaksin MMR dengan jarak minimal 28 hari. Pada individu dengan status imunisasi yang tidak jelas, dapat dilakukan pemeriksaan antibodi IgG atau langsung diberikan vaksin ulang. Pemberian vaksin ulang tetap aman meskipun individu tersebut telah memiliki kekebalan sebelumnya (WHO, 2017; CDC 2024).
Apakah Booster Rutin Diperlukan?
Booster vaksin campak tidak direkomendasikan secara rutin untuk seluruh populasi dewasa. Namun, vaksinasi ulang atau pemberian dosis tambahan dianjurkan pada kondisi tertentu, antara lain:
1. Tenaga kesehatan
2. Situasi wabah atau kejadian luar biasa (KLB)
3. Individu yang akan bepergian ke daerah dengan risiko penularan campak tinggi
4. Individu tanpa bukti imunisasi atau status kekebalan yang jelas
Vaksin MMR terbukti aman diberikan pada orang dewasa. Efek samping yang muncul umumnya ringan dan bersifat sementara, seperti demam ringan atau nyeri di tempat suntikan.
Pelajaran dari Kasus Ini
Kejadian ini menjadi pengingat penting bahwa campak bukanlah penyakit ringan yang dapat diabaikan. Gejala awalnya yang menyerupai flu sering kali menipu dan menyebabkan keterlambatan dalam mengenali serta menangani penyakit ini. Padahal, keterlambatan penanganan dapat berujung pada komplikasi serius hingga berakibat fatal. Oleh karena itu, vaksinasi tetap menjadi langkah perlindungan utama yang paling efektif untuk mencegah infeksi dan menekan risiko keparahan penyakit.
Kehilangan seorang tenaga kesehatan bukan hanya menjadi duka bagi keluarga, tetapi juga kehilangan besar bagi sistem kesehatan. Kasus ini menegaskan bahwa penyakit yang sering dianggap biasa dapat menjadi sangat berbahaya jika tidak diantisipasi dengan baik. Oleh karena itu, penting bagi setiap individu, terutama kelompok berisiko, untuk memastikan status imunisasi yang adekuat sebagai bentuk perlindungan diri dan lingkungan sekitar.
Referensi
1. Centers for Disease Control and Prevention. Measles (Rubeola): for healthcare professionals. Atlanta: CDC; 2024.
2. Centers for Disease Control and Prevention. Clinical overview of measles [Internet]. Atlanta: CDC; 2024 [cited 2026 Apr 16]. Available from: https://www.cdc.gov/measles/hcp/clinical-overview/index.html
3. Centers for Disease Control and Prevention. Measles (Rubeola): complications [Internet]. Atlanta: CDC; [cited 2026 Apr 16]. Available from: https://www.cdc.gov/measles/about/complications.html
4. Centers for Disease Control and Prevention. Measles (Rubeola): vaccination [Internet]. Atlanta: CDC; 2024 [cited 2026 Apr 16]. Available from: https://www.cdc.gov/measles/vaccines/index.html
5. European Centre for Disease Prevention and Control. Measles factsheet [Internet]. 2023 [cited 2026 Apr 16]. Available from: https://www.ecdc.europa.eu/en/measles/facts
6. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Profil Kesehatan Indonesia 2022. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2023.
7. Kondamudi NP, Tobin EH, Waymack JR. Measles. [Updated 2025 May 5]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2026 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/sites/books/NBK448068/?utm.
8. Moss WJ. Measles. Lancet. 2017;390(10111):2490–502.
9. Nussbaum E, et al. Measles. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2024.
10. World Health Organization. Measles vaccines: WHO position paper [Internet]. Geneva: WHO; 2017 [cited 2026 Apr 16]. Available from: https://www.who.int/publications/i/item/who-wer9229
11. World Health Organization. Global measles threat continues to grow as another year passes with millions of children unvaccinated [Internet]. 2023 [cited 2026 Apr 16]. Available from: https://www.who.int/news/item/16-11-2023-global-measles-threat-continues-to-grow-as-another-year-passes-with-millions-of-children-unvaccinated
12. World Health Organization. Measles outbreaks strategic response plan 2021–2023. Geneva: WHO; 2023.
13. World Health Organization. Measles fact sheet [Internet]. Geneva: WHO; 2025 [cited 2026 Apr 16]. Available from: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/measles
Artikel Terbaru
Lihat >>
Pernah Merasa Seperti Jatuh Saat Mau Tidur? Kenali Hypnic Jerk
Lihat >>
Risiko Penyakit Infeksi dan Sistem Surveilan untuk Penanganan Pasca Bencana Gempa Bumi: Penguatan Peran Labkesmas dalam Deteksi Dini dan Respon KLB
Lihat >>
Mengulas Bacillus cereus: Karakteristik Patogen, Risiko Toksin, dan Manajemen Pencegahan KLB Pangan
Lihat >>
Campak pada Dewasa: Bukan Sekadar Penyakit Anak
Lihat >>
Selamat Hari Tuberkulosis Sedunia
Lihat >>
Puasa sebagai Intervensi Mikrobiologis : Dampaknya terhadap Kesehatan Usus
Lihat >>
PENGUMUMAN: Pelaksanaan Program Nasional Pemantapan Mutu Eksternal (PNPME) Tahun 2026
Lihat >>
Menelusuri Jejak Mikroba pada Kasus Keracunan Pangan
Lihat >>
Sakit Sendi Setelah Demam? Ini yang Perlu Kamu Tahu
Lihat >>
SI NIMBUS YANG MERESAHKAN
Lihat >>
Hipertensi: Si Pembunuh Senyap yang Sering Diabaikan
Lihat >>
Prinsip Pemenuhan Nutrisi untuk Pasien Tuberkulosis Dalam Rangka Hari TB Dunia
Lihat >>
Bekerja aman di Biosafety Cabinet (BSC)
Lihat >>
Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG)
Lihat >>
AWaRe
Lihat >>
Budaya Kerja Kemenkes
Lihat >>
Nyamuk Aedes pembawa Wolbachia untuk mencegah infeksi demam berdarah
Lihat >>
Kondisi medis, gejala, dan penatalaksanaan yang berhubungan dengan panas
Lihat >>
Menjawab Pertanyaan seputar Penularan Cacar Monyet
Lihat >>
Yang Harus Diketahui Tentang Antraks
Lihat >>
Listeriosis (Foodborne Disease)
Lihat >>
DETEKSI DNA HPV UNTUK SKRINING KANKER SERVIKS
Lihat >>
Kanker serviks dikarenakan virus HPV
Lihat >>
Infeksi manusia oleh virus flu burung A(H5)
Lihat >>
Deteksi Infeksi Laten Tuberkulosis (ILTB)
Lihat >>
Patogenesis dan diagnosis Mycobacterium leprae
Lihat >>
SEPUTAR HIV DAN PENCEGAHAN HIV: PROFILAKSIS PASKA PAJANAN
Lihat >>
Resistensi Antimikroba Terkait Perjalanan
Lihat >>
DETEKSI LABORATORIUM Legionella pneumophilla DARI SPESIMEN MANUSIA
Lihat >>
LEGIONELLOSIS
Lihat >>
BAKTERI DALAM AIR SUSU IBU (ASI)
Lihat >>
DEKONTAMINASI
Lihat >>
PENYAKIT MULUT DAN KUKU PADA HEWAN TERNAK
Lihat >>
PENYAKIT CACAR MONYET (MONKEY POX)
Lihat >>
PENYAKIT HEPATITIS PADA ANAK YANG TIDAK DIKETAHUI PENYEBABNYA
Lihat >>
WORLD TB DAY 24 Maret 2022 Invest to End TB. Save Lives
Lihat >>
KONDISI PASKA COVID
Lihat >>
VARIAN OMICRON, EPISODE BARU DARI SARS-CoV-2
Lihat >>
DISBARISME
Lihat >>
HIPOKSIA
Lihat >>
JENIS VAKSIN
Lihat >>
PRINSIP DASAR VAKSIN
Lihat >>
KESEHATAN PENERBANGAN
Lihat >>
PERHATIKAN: PEMAKAIAN MASKER YANG BISA MELINDUNGI DARI COVID-19
Lihat >>
DEMAM DENGUE & DEMAM BERDARAH DENGUE
Lihat >>
PENGUMPULAN SPESIMEN DAHAK YANG BENAR
Lihat >>
VARIAN VIRUS SARS CoV-2
Lihat >>
VIRUS NIPAH (Niv)
Lihat >>
SEPUTAR FAKTA TENTANG VAKSIN COVID-19
Lihat >>
TRANSMISI VIRUS SARS-CoV-2
Lihat >>
BENARKAH ADA KASUS REINFEKSI COVID-19 ?
Lihat >>
STOP PENYEBARAN “SUPERBUG” GUNAKAN ANTIBIOTIK DENGAN BIJAK
Lihat >>
IMPACT OF TB LABORATORY DIAGNOSIS IN COVID-19 PANDEMIC
Lihat >>
Pemeriksaan usap dubur (swab rektal) untuk penjamah makanan
Lihat >>
DETEKSI BAKTERI RESISTEN
Lihat >>
Penerimaan Karyawan Non PNS Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya Tahun 2020
Lihat >>
HERD IMMUNITY
Lihat >>
MENINGITIS BAKTERI
Lihat >>
HARI TBC SEDUNIA
Lihat >>
PANDEMI COVID-19
Lihat >>
Fakta terbaru : Pneumonia oleh Corona Virus (2019-nCoV)
Lihat >>
Bahaya Tersembunyi Salmonella Enterocolitis Keracunan makanan akibat bakteri Salmonella
Lihat >>
Indonesia Masuki Periode Aging Population
Lihat >>
PENANGANAN PERTAMA DEMAM ANAK
Lihat >>
Hoax Imunisasi Masih Beredar
Lihat >>
WASPADALAH, DIFTERI MASIH ADA !
Lihat >>
Waspada, Filariasis Ditularkan Melalui Semua Jenis Nyamuk
Lihat >>
Satu Gigitan Anjing Bisa Renggut Nyawa
Lihat >>
Hari Santri 2018: ''Menag Ajak Santri Tebarkan Kedamaian di Sosial Media''
Lihat >>
Susu Kental Manis Bukan untuk Dikonsumsi Setiap Hari
Lihat >>
Hari Keluarga Nasional XXV Tahun 2018: Cinta Keluarga, Cinta Terencana
Lihat >>
Kemenkes: Kecanduan Game Adalah Gangguan Perilaku
Lihat >>
Pemberitahuan PNPME 2018
Lihat >>
Pengumuman Penutupan Pendaftaran PME Kimia Klinik & Mikrobiologi BTA
@bblabkesmas.surabaya
BBLKMSurabaya
BBLKMSurabaya