PENANGANAN PERTAMA DEMAM ANAK
10 Juni 2019 / By Administrator,
Oleh
dr. Ayunda Medina
BBLK Surabaya
Anak – anak kita seringkali mengalami kenaikan suhu tubuh atau biasa kita sebut dengan demam. Tak jarang pula kita langsung berinisiatif memberikan obat penurun demam untuk anak – anak kita tanpa memeriksakan suhu tubuhnya terlebih dahulu atau menanyakan dosis obat demam yang tepat kepada dokter. Namun, pernahkah para orangtua menyadari bahwa ada beberapa kondisi demam yang sebenarnya tidak memerlukan obat penurun demam? Atau apakah para orangtua menyadari penyebab utama demam itu sendiri seperti apa dan kapan harus segera diperiksakan ke dokter serta kapan harus di cek darah untuk mengetahui penyebab pasti demam?
Demam merupakan 70% keluhan orangtua saat datang ke dokter, 50% diantaranya orangtua sudah menganggap anak demam dengan suhu aksila (suhu yang diukur di bawah ketiak) < 38oC, 25% diantaranya orangtua mulai memberikan obat penurun demam pada suhu tubuh < 37oC, 85% para orangtua sering membangunkan anaknya untuk memberikan obat penurun demam, 50% para orangtua memberikan obat penurun demam dengan dosis yang kurang tepat dan 15% para orangtua memberikan dosis obat penurun demam diatas dosis yang dianjurkan/ penggunaan jangka waktu obat demam yang disalahartikan.
Demam merupakan kenaikan suhu tubuh diatas normal. Suhu tubuh normal di ketiak jika menggunakan termometer digital atau air raksa yaitu 34,5oC – 37,3oC. Jika anak kita memiliki riwayat kejang setelah demam, maka selalu sediakan obat penurun demam dan obat yang dapat mengurangi kejang yang bisa didapatkan sesuai anjuran dari dokter. Penyebab demam pada anak 80% disebabkan oleh infeksi virus atau karena daya tahan tubuh anak sedang menurun, dan hanya 10-20% disebabkan oleh infeksi bakteri. Kedua hal ini sama – sama membutuhkan obat penurun demam jika suhu tubuh anak sudah diatas normal.
Indikasi utama pemberian obat penurun panas adalah membuat anak merasa nyaman dan mengurangi kecemasan orangtua, bukan menurunkan suhu tubuh. Pemberian obat penurun panas diindikasikan untuk anak demam dengan suhu 38oC (pengukuran dari lipat ketiak). Dengan menurunkan suhu tubuh maka aktivitas dan kesiagaan anak membaik, dan perbaikan suasana hati (mood) dan nafsu makan juga semakin membaik.
Tidak hanya diberikan obat penurun demam tetapi juga dapat melakukan hal lain seperti misalnya memberitahukan kepada anak agar tidak terlalu banyak bermain, istirahat yang cukup agar suhu tubuh tidak mudah meningkat, memberikan asupan cairan atau minuman yang lebih banyak dari biasanya agar anak tidak dehidrasi karena penguapan suhu tubuh yang disebabkan oleh panas, pastikan suhu ruangan nyaman, tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin, gunakan pakaian bahan katun, tidak diperlukan bahan yang tebal dan hangat, cukup pakaian biasa saja, bantu dengan kompres hangat pada lipatan tubuh (leher, ketiak dan paha) jika demam tidak kunjung reda dengan obat penurun demam. Hal – hal yang dihindari saat anak demam yaitu jangan bangunkan anak saat tidur di malam hari untuk minum obat penurun demam, biarkan anak beristirahat, jika suhu tubuh cukup tinggi, anak akan bangun dengan sendirinya dan mengeluhkannya kepada kita. Untuk obat penurun demam jangan diberikan Aspirin dan golongannya karena dapat menyebabkan gangguan pada otak anak serta jangan memberikan ibuprofen pada anak usia dibawah 6 bulan. Penggunaan kombinasi antipiretik parasetamol dan ibuprofen secara bergantian tidak dianjurkan.
Saat anak mengalami demam, orang tua harus memperhatikan aktivitas anaknya secara umum, apakah masih bisa bermain, makan dan minum dengan baik, dan perhatikan buang air kecil anaknya setiap 3-4 jam. Jika anak lebih sering tidur, malas minum dan buang air kecil semakin jarang, gerakan sudah mulai kurang aktif, menangis mulai lemah disertai dan/ atau muntah – muntah dan mencret segera bawakan si buah hati ke dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Artikel Terbaru
Lihat >>
Pernah Merasa Seperti Jatuh Saat Mau Tidur? Kenali Hypnic Jerk
Lihat >>
Risiko Penyakit Infeksi dan Sistem Surveilan untuk Penanganan Pasca Bencana Gempa Bumi: Penguatan Peran Labkesmas dalam Deteksi Dini dan Respon KLB
Lihat >>
Mengulas Bacillus cereus: Karakteristik Patogen, Risiko Toksin, dan Manajemen Pencegahan KLB Pangan
Lihat >>
Campak pada Dewasa: Bukan Sekadar Penyakit Anak
Lihat >>
Selamat Hari Tuberkulosis Sedunia
Lihat >>
Puasa sebagai Intervensi Mikrobiologis : Dampaknya terhadap Kesehatan Usus
Lihat >>
PENGUMUMAN: Pelaksanaan Program Nasional Pemantapan Mutu Eksternal (PNPME) Tahun 2026
Lihat >>
Menelusuri Jejak Mikroba pada Kasus Keracunan Pangan
Lihat >>
Sakit Sendi Setelah Demam? Ini yang Perlu Kamu Tahu
Lihat >>
SI NIMBUS YANG MERESAHKAN
Lihat >>
Hipertensi: Si Pembunuh Senyap yang Sering Diabaikan
Lihat >>
Prinsip Pemenuhan Nutrisi untuk Pasien Tuberkulosis Dalam Rangka Hari TB Dunia
Lihat >>
Bekerja aman di Biosafety Cabinet (BSC)
Lihat >>
Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG)
Lihat >>
AWaRe
Lihat >>
Budaya Kerja Kemenkes
Lihat >>
Nyamuk Aedes pembawa Wolbachia untuk mencegah infeksi demam berdarah
Lihat >>
Kondisi medis, gejala, dan penatalaksanaan yang berhubungan dengan panas
Lihat >>
Menjawab Pertanyaan seputar Penularan Cacar Monyet
Lihat >>
Yang Harus Diketahui Tentang Antraks
Lihat >>
Listeriosis (Foodborne Disease)
Lihat >>
DETEKSI DNA HPV UNTUK SKRINING KANKER SERVIKS
Lihat >>
Kanker serviks dikarenakan virus HPV
Lihat >>
Infeksi manusia oleh virus flu burung A(H5)
Lihat >>
Deteksi Infeksi Laten Tuberkulosis (ILTB)
Lihat >>
Patogenesis dan diagnosis Mycobacterium leprae
Lihat >>
SEPUTAR HIV DAN PENCEGAHAN HIV: PROFILAKSIS PASKA PAJANAN
Lihat >>
Resistensi Antimikroba Terkait Perjalanan
Lihat >>
DETEKSI LABORATORIUM Legionella pneumophilla DARI SPESIMEN MANUSIA
Lihat >>
LEGIONELLOSIS
Lihat >>
BAKTERI DALAM AIR SUSU IBU (ASI)
Lihat >>
DEKONTAMINASI
Lihat >>
PENYAKIT MULUT DAN KUKU PADA HEWAN TERNAK
Lihat >>
PENYAKIT CACAR MONYET (MONKEY POX)
Lihat >>
PENYAKIT HEPATITIS PADA ANAK YANG TIDAK DIKETAHUI PENYEBABNYA
Lihat >>
WORLD TB DAY 24 Maret 2022 Invest to End TB. Save Lives
Lihat >>
KONDISI PASKA COVID
Lihat >>
VARIAN OMICRON, EPISODE BARU DARI SARS-CoV-2
Lihat >>
DISBARISME
Lihat >>
HIPOKSIA
Lihat >>
JENIS VAKSIN
Lihat >>
PRINSIP DASAR VAKSIN
Lihat >>
KESEHATAN PENERBANGAN
Lihat >>
PERHATIKAN: PEMAKAIAN MASKER YANG BISA MELINDUNGI DARI COVID-19
Lihat >>
DEMAM DENGUE & DEMAM BERDARAH DENGUE
Lihat >>
PENGUMPULAN SPESIMEN DAHAK YANG BENAR
Lihat >>
VARIAN VIRUS SARS CoV-2
Lihat >>
VIRUS NIPAH (Niv)
Lihat >>
SEPUTAR FAKTA TENTANG VAKSIN COVID-19
Lihat >>
TRANSMISI VIRUS SARS-CoV-2
Lihat >>
BENARKAH ADA KASUS REINFEKSI COVID-19 ?
Lihat >>
STOP PENYEBARAN “SUPERBUG” GUNAKAN ANTIBIOTIK DENGAN BIJAK
Lihat >>
IMPACT OF TB LABORATORY DIAGNOSIS IN COVID-19 PANDEMIC
Lihat >>
Pemeriksaan usap dubur (swab rektal) untuk penjamah makanan
Lihat >>
DETEKSI BAKTERI RESISTEN
Lihat >>
Penerimaan Karyawan Non PNS Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya Tahun 2020
Lihat >>
HERD IMMUNITY
Lihat >>
MENINGITIS BAKTERI
Lihat >>
HARI TBC SEDUNIA
Lihat >>
PANDEMI COVID-19
Lihat >>
Fakta terbaru : Pneumonia oleh Corona Virus (2019-nCoV)
Lihat >>
Bahaya Tersembunyi Salmonella Enterocolitis Keracunan makanan akibat bakteri Salmonella
Lihat >>
Indonesia Masuki Periode Aging Population
Lihat >>
PENANGANAN PERTAMA DEMAM ANAK
Lihat >>
Hoax Imunisasi Masih Beredar
Lihat >>
WASPADALAH, DIFTERI MASIH ADA !
Lihat >>
Waspada, Filariasis Ditularkan Melalui Semua Jenis Nyamuk
Lihat >>
Satu Gigitan Anjing Bisa Renggut Nyawa
Lihat >>
Hari Santri 2018: ''Menag Ajak Santri Tebarkan Kedamaian di Sosial Media''
Lihat >>
Susu Kental Manis Bukan untuk Dikonsumsi Setiap Hari
Lihat >>
Hari Keluarga Nasional XXV Tahun 2018: Cinta Keluarga, Cinta Terencana
Lihat >>
Kemenkes: Kecanduan Game Adalah Gangguan Perilaku
Lihat >>
Pemberitahuan PNPME 2018
Lihat >>
Pengumuman Penutupan Pendaftaran PME Kimia Klinik & Mikrobiologi BTA
@bblabkesmas.surabaya
BBLKMSurabaya
BBLKMSurabaya