AWaRe
09 Desember 2024 / By Administrator,
Oleh dr. Titiek Sulistyowati, M. Ked. Klin, Sp. MK (K)
Antibiotik dapat menyelamatkan nyawa karena bisa mengobati baik infeksi umum maupun serius, termasuk infeksi yang dapat menyebabkan sepsis. Kapan pun antibiotik atau antijamur digunakan, mereka dapat menimbulkan efek samping dan berkontribusi terhadap perkembangan resistensi antimikroba, yang merupakan salah satu ancaman paling mendesak terhadap kesehatan masyarakat.
Resistensi antimikroba terjadi ketika kuman, seperti bakteri dan jamur, mengembangkan kemampuan untuk mengalahkan obat yang digunakan untuk membunuh mereka. Berdasarkan data WHO, bakteri resisten secara langsung bertanggung jawab atas 1,27 juta kematian global pada tahun 2019 dan berkontribusi terhadap 4,95 juta kematian.
Laporan Sistem Pengawasan Penggunaan dan Resistensi Antimikroba Global (GLASS) tahun 2022 menunjukkan bahwa tingkat kekebalan bakteri penyebab penyakit infeksi sangat mengkhawatirkan. Bakteri E. coli yang kebal terhadap antibiotik Cephalosporin generasi ke 3 adalah 42%, sedangkan bakteri S. aureus yang kebal terhadap antibiotik methicillin adalah 35%. Jika bakteri kebal terhadap antibiotik, maka pengobatan infeksi umum secara efektif akan menjadi sulit. Penyakit infeksi makin kompleks karena komplikasi dari bakteri kebal tersebut sehingga berakibat kematian. WHO menyatakan bahwa perlu adanya perbaikan terhadap para profesional kesehatan tentang cara membuat resep antibiotik dan edukasi terhadap pasien tentang cara minum antibiotik. Tujuannya adalah membantu pasien tetap sehat dari efek samping, memerangi resistensi antimikroba, dan membantu memastikan obat-obatan penyelamat jiwa ini akan tersedia untuk generasi mendatang.
Salah satu cara yang dikembangkan oleh WHO adalah pengelolaan antimikroba, yaitu pendekatan sistematis untuk mendidik dan mendukung para profesional perawatan kesehatan agar mengikuti pedoman berbasis bukti untuk meresepkan dan memberikan antimikroba. Pendidikan tenaga kesehatan sangat penting, karena mereka merupakan garis depan dalam menjaga efektivitas obat antimikroba. WHO memandu negara-negara untuk mengembangkan dan menerapkan Program Pengelolaan Antimikroba sebagai salah satu intervensi yang paling hemat biaya untuk mengoptimalkan penggunaan obat antimikroba, meningkatkan hasil pasien, dan mengurangi bakteri resisten serta infeksi terkait perawatan kesehatan. Untuk meningkatkan akses ke perawatan yang tepat dan mengurangi penggunaan antibiotik yang tidak tepat, WHO mengembangkan klasifikasi antibiotik AWaRe (Access, Watch, Reserve). Buku antibiotik WHO AWaRe ini memberikan panduan ringkas berbasis bukti tentang pilihan antibiotik, dosis, rute pemberian, dan durasi perawatan untuk lebih dari 30 infeksi klinis paling umum pada anak-anak dan orang dewasa baik di perawatan kesehatan primer maupun di rumah sakit.
AWaRe adalah sistem klasifikasi antibiotik yang dibuat oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk membantu memastikan antibiotik digunakan dengan aman dan efektif. Klasifikasi AWaRe mengelompokkan antibiotik ke dalam tiga kategori: Access, Watch, dan Reserve.
Access
Antibiotik yang menjadi pilihan pertama atau kedua untuk infeksi umum dan harus tersedia secara luas. Antibiotik adalah antibiotik dengan spektrum aktivitas yang sempit, umumnya dengan efek samping yang lebih sedikit, potensi yang lebih rendah untuk seleksi resistensi antimikroba dan biaya yang lebih rendah. Obat antara lain Amikasin; amoksisilin; amoksisilin + asam klavulanat; ampisilin; benzatin benzilpenisilin; benzilpenisilin; sefaleksin; sefazolin; kloramfenikol; klindamisin; kloksasilin; doksisiklin; gentamisin; metronidazol; nitrofurantoin; fenoksimetilpenisilin; prokain benzilpenisilin; spektinomisin (tidak tercantum dalam daftar untuk anak-anak); sulfametoksazol + trimetoprim; dan trimetoprim.
Watch
Antibiotik yang hanya boleh digunakan untuk infeksi tertentu dalam jumlah terbatas dan harus diawasi secara ketat. Antibiotik umumnya memiliki potensi lebih tinggi untuk memicu resistensi antimikroba dan lebih umum digunakan pada pasien yang sakit di fasilitas rumah sakit. Penggunaannya harus dipantau secara cermat untuk menghindari penggunaan berlebihan. Obat antara lain Azithromycin; cefixime; cefotaxime; ceftazidime; ceftriaxone; cefuroxime; ciprofloxacin; clarithromycin; meropenem; piperacillin + tazobactam; and vancomycin.
Reserve
Antibiotik merupakan antibiotik pilihan terakhir yang hanya boleh digunakan untuk mengobati infeksi berat yang disebabkan oleh patogen yang resistan terhadap banyak obat. Obat antara lain Cefiderocol (tidak tercantum dalam daftar untuk anak-anak); ceftazidime + avibactam; colistin; fosfomycin; linezolid; meropenem + vaborbactam (tidak tercantum dalam daftar untuk anak-anak); plazomicin (tidak tercantum dalam daftar untuk anak-anak); dan polimiksin B.
Klasifikasi AWaRe dapat membantu pembuat kebijakan:
1. Untuk memantau konsumsi antibiotik digunakan secara rasional
2. Untuk menyelaraskan antara daftar obat esensial nasional dengan WHO
3. Untuk memperbarui atau menetapkan pedoman pengobatan sesuai dengan kategori AWaRe.
Sebuah jurnal menuliskan beberapa tantangan yang kerap dihadapi terkait implementasi AWaRe antara lain
1. Kurangnya kesadaran dan edukasi tentang penggunaan antibiotik yang tepat. Banyak penyedia layanan kesehatan dan pasien masih belum sepenuhnya menyadari risiko yang terkait dengan penggunaan antibiotik yang tidak bijaksana dan konsekuensi dari bakteri resisten.
2. Kurangnya kesadaran terhadap kerangka kerja WHO AWaRe tentang antibiotik sehingga mempengaruhi petugas layanan kesehatan untuk meresepkan dan memberikan antibiotik tanpa mengikuti pedoman.
3. Terbatasnya sumber daya dan kapasitas untuk menerapkan kerangka kerja tersebut di banyak negara, terutama di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.
4. Rendahnya ketersediaan antibiotik yang terjangkau dan berkualitas baik mempengaruhi penerapan sistem AWaRe yang berkelanjutan.
5. Kurangnya komitmen politik di banyak negara yang menjadi penghalang bagi penerapan kerangka kerja AWaRe tentang antibiotik.
Tantangan ini dapat mempengaruhi penguatan program pengendalian antibiotik, sistem pengawasan dan pemantauan terhadap penggunaan antibiotik dan adanya bakteri resisten antimikroba, termasuk penelitian dan pengembangan antibiotik baru dan pilihan pengobatan alternatif. Untuk mengatasi tantangan ini, maka ada beberapa rekomendasi antara lain :
1. Perlu dilakukan upaya kolaboratif berkelanjutan untuk meningkatkan program pengendalian antibiotik. Upaya ini meliputi peningkatan kesadaran dan edukasi tentang penggunaan antibiotik yang tepat, penguatan sistem pengawasan dan pemantauan, serta promosi penelitian dan pengembangan antibiotik baru dan pilihan pengobatan alternatif. Layanan kesehatan harus meningkatkan kampanye kesadaran dan sosialisasi serta kegiatan edukasi yang dapat mempromosikan penggunaan dan kepatuhan terhadap klasifikasi antibiotik WHO AWaRe. Petugas layanan kesehatan, seperti dokter, apoteker, perawat, dokter bedah gigi, dan petugas klinis, harus dididik tentang kerangka kerja tersebut karena mereka adalah pemberi resep dan penyalur utama antibiotik baik di fasilitas layanan kesehatan publik maupun swasta.
2. Penting untuk mengeksplorasi peran potensial kolaborasi dan kemitraan global dalam mempromosikan program pengendalian antibiotik. Penerapan AWaRe memerlukan sumber daya tambahan seperti kebutuhan manusia dan pendanaan. Sehingga penting adanya kolaborasi dengan negara-negara dan organisasi lain serta belajar dari negara lain yang telah berhasil menerapkan kerangka kerja antibiotik AWaRe.
3. Penting juga untuk mengatasi faktor penentu sosial kesehatan lain, seperti kemiskinan, pendidikan, dan akses ke layanan kesehatan, dalam menangani bakteri resisten antimikroba dan mempromosikan penggunaan antibiotik yang bijaksana. Perhatian terhadap masalah sosial ini dapat membantu mengurangi beban infeksi dan penyakit tidak menular, yang mengarah pada pengurangan penggunaan antibiotik.
4. Pendekatan one health untuk memastikan bahwa pengendalian bakteri resisten ditangani di semua sektor, termasuk manusia, hewan, pertanian, lingkungan, dan semua sistem ekologinya.
5. Perlu perluasan penerapan program pengendalian penggunaan antibiotik dari fasilitas layanan kesehatan terpusat yang lebih besar ke fasilitas layanan kesehatan yang lebih kecil. Dengan banyaknya pasien yang ditangani di fasilitas layanan kesehatan yang lebih kecil seperti klinik dan rumah sakit tingkat pertama, risiko penyalahgunaan dan penggunaan antibiotik yang berlebihan menjadi tinggi dan memerlukan penerapan kerangka kerja antibiotik AWaRe dalam pengaturan tersebut. Komponen utama dalam pengembangan dan keberlanjutan program ini memerlukan kerangka penelitian dan pengembangan yang kuat sehingga sesuai dengan kebutuhan masing-masing negara.
6. Kemauan politik dari pemerintah sangat penting dalam membangun, menerapkan, dan mempertahankan program perawatan kesehatan seperti pengendalian penggunaan antibiotik. Implementasi kerangka kerja antibiotik AWaRe yang berhasil mungkin memerlukan banyak pelaku politik, seperti mereka yang berada dalam politik kepemimpinan, politik birokrasi, politik kelompok kepentingan, politik penerima manfaat, politik anggaran, dan politik aktor eksternal.
Referensi:
1. Mudenda S, Daka V, Matafwali SK. World Health Organization AWaRe framework for antibiotic stewardship: Where are we now and where do we need to go? An expert viewpoint. Antimicrob Steward Healthc Epidemiol. 2023 Apr 26;3(1):e84. doi: 10.1017/ash.2023.164. PMID: 37179758; PMCID: PMC10173285.
2. Web Annex C. WHO AWaRe (access, watch, reserve) classification of antibiotics for evaluation and monitoring of use, 2023. In: The selection and use of essential medicines 2023: Executive summary of the report of the 24th WHO Expert Committee on the Selection and Use of Essential Medicines, 24 – 28 April 2023. Geneva: World Health Organization; 2023 (WHO/MHP/HPS/EML/2023.04).
3. Zanichelli V, Sharland M, Cappello B, Moja L, Getahun H, Pessoa-Silva C, Sati H, van Weezenbeek C, Balkhy H, Simão M, Gandra S, Huttner B. The WHO AWaRe (Access, Watch, Reserve) antibiotic book and prevention of antimicrobial resistance. Bull World Health Organ. 2023 Apr 1;101(4):290–6. doi: 10.2471/BLT.22.288614. Epub 2023 Feb 10. PMCID: PMC10042089.
Artikel Terbaru
Lihat >>
Pernah Merasa Seperti Jatuh Saat Mau Tidur? Kenali Hypnic Jerk
Lihat >>
Risiko Penyakit Infeksi dan Sistem Surveilan untuk Penanganan Pasca Bencana Gempa Bumi: Penguatan Peran Labkesmas dalam Deteksi Dini dan Respon KLB
Lihat >>
Mengulas Bacillus cereus: Karakteristik Patogen, Risiko Toksin, dan Manajemen Pencegahan KLB Pangan
Lihat >>
Campak pada Dewasa: Bukan Sekadar Penyakit Anak
Lihat >>
Selamat Hari Tuberkulosis Sedunia
Lihat >>
Puasa sebagai Intervensi Mikrobiologis : Dampaknya terhadap Kesehatan Usus
Lihat >>
PENGUMUMAN: Pelaksanaan Program Nasional Pemantapan Mutu Eksternal (PNPME) Tahun 2026
Lihat >>
Menelusuri Jejak Mikroba pada Kasus Keracunan Pangan
Lihat >>
Sakit Sendi Setelah Demam? Ini yang Perlu Kamu Tahu
Lihat >>
SI NIMBUS YANG MERESAHKAN
Lihat >>
Hipertensi: Si Pembunuh Senyap yang Sering Diabaikan
Lihat >>
Prinsip Pemenuhan Nutrisi untuk Pasien Tuberkulosis Dalam Rangka Hari TB Dunia
Lihat >>
Bekerja aman di Biosafety Cabinet (BSC)
Lihat >>
Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG)
Lihat >>
AWaRe
Lihat >>
Budaya Kerja Kemenkes
Lihat >>
Nyamuk Aedes pembawa Wolbachia untuk mencegah infeksi demam berdarah
Lihat >>
Kondisi medis, gejala, dan penatalaksanaan yang berhubungan dengan panas
Lihat >>
Menjawab Pertanyaan seputar Penularan Cacar Monyet
Lihat >>
Yang Harus Diketahui Tentang Antraks
Lihat >>
Listeriosis (Foodborne Disease)
Lihat >>
DETEKSI DNA HPV UNTUK SKRINING KANKER SERVIKS
Lihat >>
Kanker serviks dikarenakan virus HPV
Lihat >>
Infeksi manusia oleh virus flu burung A(H5)
Lihat >>
Deteksi Infeksi Laten Tuberkulosis (ILTB)
Lihat >>
Patogenesis dan diagnosis Mycobacterium leprae
Lihat >>
SEPUTAR HIV DAN PENCEGAHAN HIV: PROFILAKSIS PASKA PAJANAN
Lihat >>
Resistensi Antimikroba Terkait Perjalanan
Lihat >>
DETEKSI LABORATORIUM Legionella pneumophilla DARI SPESIMEN MANUSIA
Lihat >>
LEGIONELLOSIS
Lihat >>
BAKTERI DALAM AIR SUSU IBU (ASI)
Lihat >>
DEKONTAMINASI
Lihat >>
PENYAKIT MULUT DAN KUKU PADA HEWAN TERNAK
Lihat >>
PENYAKIT CACAR MONYET (MONKEY POX)
Lihat >>
PENYAKIT HEPATITIS PADA ANAK YANG TIDAK DIKETAHUI PENYEBABNYA
Lihat >>
WORLD TB DAY 24 Maret 2022 Invest to End TB. Save Lives
Lihat >>
KONDISI PASKA COVID
Lihat >>
VARIAN OMICRON, EPISODE BARU DARI SARS-CoV-2
Lihat >>
DISBARISME
Lihat >>
HIPOKSIA
Lihat >>
JENIS VAKSIN
Lihat >>
PRINSIP DASAR VAKSIN
Lihat >>
KESEHATAN PENERBANGAN
Lihat >>
PERHATIKAN: PEMAKAIAN MASKER YANG BISA MELINDUNGI DARI COVID-19
Lihat >>
DEMAM DENGUE & DEMAM BERDARAH DENGUE
Lihat >>
PENGUMPULAN SPESIMEN DAHAK YANG BENAR
Lihat >>
VARIAN VIRUS SARS CoV-2
Lihat >>
VIRUS NIPAH (Niv)
Lihat >>
SEPUTAR FAKTA TENTANG VAKSIN COVID-19
Lihat >>
TRANSMISI VIRUS SARS-CoV-2
Lihat >>
BENARKAH ADA KASUS REINFEKSI COVID-19 ?
Lihat >>
STOP PENYEBARAN “SUPERBUG” GUNAKAN ANTIBIOTIK DENGAN BIJAK
Lihat >>
IMPACT OF TB LABORATORY DIAGNOSIS IN COVID-19 PANDEMIC
Lihat >>
Pemeriksaan usap dubur (swab rektal) untuk penjamah makanan
Lihat >>
DETEKSI BAKTERI RESISTEN
Lihat >>
Penerimaan Karyawan Non PNS Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya Tahun 2020
Lihat >>
HERD IMMUNITY
Lihat >>
MENINGITIS BAKTERI
Lihat >>
HARI TBC SEDUNIA
Lihat >>
PANDEMI COVID-19
Lihat >>
Fakta terbaru : Pneumonia oleh Corona Virus (2019-nCoV)
Lihat >>
Bahaya Tersembunyi Salmonella Enterocolitis Keracunan makanan akibat bakteri Salmonella
Lihat >>
Indonesia Masuki Periode Aging Population
Lihat >>
PENANGANAN PERTAMA DEMAM ANAK
Lihat >>
Hoax Imunisasi Masih Beredar
Lihat >>
WASPADALAH, DIFTERI MASIH ADA !
Lihat >>
Waspada, Filariasis Ditularkan Melalui Semua Jenis Nyamuk
Lihat >>
Satu Gigitan Anjing Bisa Renggut Nyawa
Lihat >>
Hari Santri 2018: ''Menag Ajak Santri Tebarkan Kedamaian di Sosial Media''
Lihat >>
Susu Kental Manis Bukan untuk Dikonsumsi Setiap Hari
Lihat >>
Hari Keluarga Nasional XXV Tahun 2018: Cinta Keluarga, Cinta Terencana
Lihat >>
Kemenkes: Kecanduan Game Adalah Gangguan Perilaku
Lihat >>
Pemberitahuan PNPME 2018
Lihat >>
Pengumuman Penutupan Pendaftaran PME Kimia Klinik & Mikrobiologi BTA
@bblabkesmas.surabaya
BBLKMSurabaya
BBLKMSurabaya