SI NIMBUS YANG MERESAHKAN
30 Juni 2025 / By Administrator,
Oleh dr. Titiek Sulistyowati, M. Ked. Klin, Sp. MK (K)
Varian COVID baru sedang dipantau secara ketat oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dikarenakan terjadi peningkatan infeksi di beberapa belahan dunia. Varian baru ini pertama kali diidentifikasi pada akhir Januari, yang secara resmi diberi nama NB.1.8.1 dan secara informal dikenal sebagai Nimbus dengan kasus yang semakin banyak di Irlandia, serta di seluruh Eropa, Amerika, Asia Tenggara, dan Australia.
Sampai dengan 18 Mei 2025, terdapat 518 sekuens NB.1.8.1 yang diserahkan ke GISAID dari 22 negara, yang mewakili 10,7% dari sekuens yang tersedia secara global pada minggu epidemiologi ke-17 tahun 2025 (21 - 27 April 2025). Meskipun jumlah masih rendah, peningkatan prevalensi terjadi secara signifikan (2,5%) pada minggu epidemiologi ke-14 tahun 2025 (31 Maret - 6 April 2025). Antara minggu epidemiologi ke-14 dan ke-17 tahun 2025, prevalensi NB.1.8.1 meningkat di ketiga wilayah WHO secara konsisten yaitu peningkatan dari 8,9% menjadi 11,7% untuk wilayah Pasifik Barat (WPR), dari 1,6% menjadi 4,9% untuk Wilayah Amerika (AMR), dan dari 1,0% menjadi 6,0% untuk Wilayah Eropa (EUR). Hanya ada 5 sekuens NB.1.8.1 dari Wilayah Asia Tenggara (SEAR) dan tidak ada dari Wilayah Afrika (AFR) maupun Wilayah Mediterania Timur (EMR).
NB.1.8.1 memiliki pohon keluarga yang rumit. Virus ini merupakan virus hibrida, yang terbentuk dari proses yang disebut rekombinasi, beberapa virus (semua versi varian COVID Omicron) menginfeksi sel yang sama dan bertukar materi genetik. Virus ini merupakan turunan dari XDV -- hibrida JN.1 dan XDE (hibrida GW.5.1 dan FL.13.4).
Karakterisitik Varian NB 1.8.1
NB.1.8.1 adalah varian SARS-CoV-2 yang berasal dari varian rekombinan XDV.1.5.1, dengan sampel pertama kali dikumpulkan pada 22 Januari 2025. NB.1.8.1 adalah salah satu dari enam Variant Under Monitoring (VUM) yang diawasi ketat oleh WHO dan ditetapkan sebagai VUM pada tanggal 23 Mei 2025. Dibandingkan dengan varian SARS-CoV-2 yang dominan saat ini yaitu LP.8.1, NB.1.8.1 memiliki mutasi Spike sebagai berikut: T22N, F59S, G184S, A435S, V445H, dan T478I. Jika dibandingkan dengan JN.1, NB.1.8.1 memiliki mutasi sebagai berikut: T22N, F59S, G184S, A435S, F456L, T478I, dan Q493E. Mutasi spike pada posisi 445 telah terbukti meningkatkan afinitas pengikatan terhadap reseptor human angiotensin-I converting enzyme-2 (hACE2) yang digunakan SARS-CoV-2 untuk memasuki sel manusia sehingga menyebabkan peningkatan penularan varian. Pengikatan protein spike SARS-CoV-2 ke hACE2 akan menargetkan virus ke pneumosit tipe II di dalam paru yang mengakibatkan luka, peradangan, dan gangguan pernapasan. Mutasi pada posisi 435 terbukti mengurangi potensi netralisasi antibodi kelas 1 dan kelas 1/4, sedangkan mutasi pada posisi 478 terbukti meningkatkan penghindaran antibodi kelas 1/2. Menggunakan pseudovirus dan plasma dari infeksi terobosan BA.5 dengan infeksi JN.1 atau XDV+F456L, NB.1.8.1 menunjukkan adanya pengurangan netralisasi 1,5–1,6 kali lipat dibandingkan dengan LP.8.1.1. Pada tikus yang sebelumnya diimunisasi dengan varian SARS-CoV-2, imunisasi lebih lanjut menggunakan vaksin mRNA monovalen KP.2 atau monovalen LP.8.1 menghasilkan titer antibodi penetral yang serupa atau sedikit lebih rendah terhadap NB.1.8.1 dibandingkan dengan yang dihasilkan oleh imunisasi antigen KP.2 atau LP.8.1.
Meskipun varian ini mungkin sebagian dapat melewati beberapa sistem kekebalan tubuh, para ahli WHO mengatakan tingkat "pelarian kekebalan" ini mirip dengan yang terlihat pada subvarian Omicron sebelumnya. Suatu studi menyatakan bahwa virus ini juga menunjukkan daya infeksi yang kuat pada sel yang tumbuh di laboratorium, yang menunjukkan bahwa virus ini sangat siap untuk menyebar. Daya infeksinya adalah 2,5 kali lebih tinggi daripada LP.8.1 (varian COVID-19 yang saat ini paling umum di seluruh dunia). Hal ini dapat membantu menjelaskan mengapa virus ini mengalahkan varian lain, bukan karena virus ini lebih mudah menghindari sistem imun, tetapi karena virus ini menginfeksi orang dengan lebih efisien. Yang terpenting, varian tersebut tampaknya tidak resisten terhadap pengobatan antivirus dan vaksin saat ini masih memberikan perlindungan yang kuat terhadap penyakit ini.
Nimbus membawa mutasi genetik yang dapat membuatnya lebih mudah menular dan lebih mampu menghindari antibodi tertentu sehingga menjadi lebih mudah menular daripada jenis sebelumnya. Namun, WHO telah menilai risiko kesehatan masyarakat secara keseluruhan sebagai ‘rendah’ dalam skala global. Seperti varian lainnya, Nimbus mengalami perubahan pada protein spike yaitu bagian dari virus yang membantu untuk masuk sel manusia. Perubahan ini dapat meningkatkan kemampuannya untuk menyebar dan melemahkan efek antibodi dari infeksi sebelumnya. Data terbatas mengenai tingkat keparahan karena infeksi memerlukan waktu berminggu-minggu untuk berkembang. Munculnya varian baru ini di musim panas telah mengubah anggapan bahwa Covid-19 adalah penyakit musiman yang terjadi pada musim dingin. Meski begitu, WHO melaporkan tidak ada bukti bahwa Nimbus menyebabkan penyakit yang lebih parah daripada jenis lain yang beredar saat ini dan tidak menyebabkan rawat inap atau tingkat kematian yang lebih tinggi.
Gejala Varian NB 1.8.1
Beberapa laporan menunjukkan bahwa gejala varian ini secara umum mirip dengan versi Omicron lain. Gejala tersebut meliputi sakit tenggorokan, batuk, hidung tersumbat, kelelahan, demam, nyeri otot, kehilangan indra perasa atau penciuman, kesulitan bernapas, mual, muntah, dan diare. Dokter di Inggris menyampaikan sensasi "pisau silet" di tenggorokan dan gejala gastrointestinal seperti mual, muntah, diare, nyeri ulu hati, kembung, sembelit, dan sakit perut, bisa menjadi tanda-tanda khusus yang perlu diwaspadai pada NB.1.8.1, meskipun hal ini belum dikonfirmasi dalam studi ilmiah. Dokter di India juga telah menandai suara serak sebagai hal yang umum di antara pasien yang baru-baru ini datang ke departemen rawat jalan rumah sakit di sana. Beberapa laporan menyoroti gejala unik yang terkait dengan NB.1.8.1 yaitu sakit tenggorokan yang parah dan terus-menerus. Gejala ini tampaknya lebih umum atau parah daripada varian sebelumnya, meskipun penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengkonfirmasi tren ini.
Pencegahan dan Manajemen
Tindakan pencegahan COVID-19 standar masih tetap efektif yaitu memakai masker di tempat ramai atau berisiko tinggi, menjaga kebersihan hidung dan tangan, berkumur, dan menghindari kontak dekat dengan orang yang bergejala. Namun, bagi mereka yang berisiko tinggi (termasuk orang tua), orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah, atau mereka yang memiliki kondisi kesehatan kronis, Nimbus berpotensi menimbulkan ancaman. WHO merekomendasikan untuk menghindari kontak dengan orang lain selama lima hari jika mengalami gejala.
Tindakan untuk meredakan gejala bagi mereka yang mengalami sakit tenggorokan unik, yang disarankan adalah tetap terhidrasi, minuman pelega tenggorokan dan obat kumur, atau menggunakan pelembab udara atau humidifier. "Semprotan hidung dan obat kumur merupakan tindakan pencegahan terbaik" yang menekankan strategi garis depan yang sederhana untuk mengurangi jumlah virus dan membantu menghentikan infeksi sebelum terjadi.
Tindakan lebih lanjut adalah konsultasi ke dokter diperlukan jika ada gejala yang makin berat. CDC menyarankan, pasien dibawa ke rumah sakit darurat atau IRD ketika mengalami nyeri dada, sesak napas, sulit bangun, atau merasa bingung dan disorientasi. Dr. Peter McCullough menganjurkan untuk tetap proaktif.
Kesimpulan
Varian COVID-19 NB.1.8.1 berkontribusi terhadap munculnya kembali kasus di Tiongkok dan telah terdeteksi di Amerika Serikat dan negara-negara lain. Meskipun memiliki banyak karakteristik yang sama dengan sub-varian Omicron sebelumnya, varian ini dapat menyebabkan sakit tenggorokan yang lebih parah. Tindakan pencegahan dan pengobatan tetap efektif, tetapi otoritas kesehatan global terus melakukan pengawasan ketat untuk merespon dengan cepat setiap perubahan dalam perilaku atau dampak varian tersebut. Pengobatan dini sangat penting dan merupakan faktor terpenting dalam mengelola penyakit ini. Pengobatan harus dimulai segera setelah timbulnya gejala seperti flu.
Referensi:
1. 23052025_nb.1.8.1_ire.pdf
2. Eight things you need to know about the new “Nimbus” and “Stratus” COVID-19 variants
3. New COVID-19 Variant NB.1.8.1 (Nimbus): Symptoms (Razor Blade Throat), Spread, and Impact in 2025
4. Efficacy and Advantages of Nasopharyngeal and Oropharyngeal Treatments for Early Intervention and Prophylaxis in Respiratory Viral Infections: A Systematic Review and Meta-Analysis (2025)
Artikel Terbaru
Lihat >>
Pernah Merasa Seperti Jatuh Saat Mau Tidur? Kenali Hypnic Jerk
Lihat >>
Risiko Penyakit Infeksi dan Sistem Surveilan untuk Penanganan Pasca Bencana Gempa Bumi: Penguatan Peran Labkesmas dalam Deteksi Dini dan Respon KLB
Lihat >>
Mengulas Bacillus cereus: Karakteristik Patogen, Risiko Toksin, dan Manajemen Pencegahan KLB Pangan
Lihat >>
Campak pada Dewasa: Bukan Sekadar Penyakit Anak
Lihat >>
Selamat Hari Tuberkulosis Sedunia
Lihat >>
Puasa sebagai Intervensi Mikrobiologis : Dampaknya terhadap Kesehatan Usus
Lihat >>
PENGUMUMAN: Pelaksanaan Program Nasional Pemantapan Mutu Eksternal (PNPME) Tahun 2026
Lihat >>
Menelusuri Jejak Mikroba pada Kasus Keracunan Pangan
Lihat >>
Sakit Sendi Setelah Demam? Ini yang Perlu Kamu Tahu
Lihat >>
SI NIMBUS YANG MERESAHKAN
Lihat >>
Hipertensi: Si Pembunuh Senyap yang Sering Diabaikan
Lihat >>
Prinsip Pemenuhan Nutrisi untuk Pasien Tuberkulosis Dalam Rangka Hari TB Dunia
Lihat >>
Bekerja aman di Biosafety Cabinet (BSC)
Lihat >>
Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG)
Lihat >>
AWaRe
Lihat >>
Budaya Kerja Kemenkes
Lihat >>
Nyamuk Aedes pembawa Wolbachia untuk mencegah infeksi demam berdarah
Lihat >>
Kondisi medis, gejala, dan penatalaksanaan yang berhubungan dengan panas
Lihat >>
Menjawab Pertanyaan seputar Penularan Cacar Monyet
Lihat >>
Yang Harus Diketahui Tentang Antraks
Lihat >>
Listeriosis (Foodborne Disease)
Lihat >>
DETEKSI DNA HPV UNTUK SKRINING KANKER SERVIKS
Lihat >>
Kanker serviks dikarenakan virus HPV
Lihat >>
Infeksi manusia oleh virus flu burung A(H5)
Lihat >>
Deteksi Infeksi Laten Tuberkulosis (ILTB)
Lihat >>
Patogenesis dan diagnosis Mycobacterium leprae
Lihat >>
SEPUTAR HIV DAN PENCEGAHAN HIV: PROFILAKSIS PASKA PAJANAN
Lihat >>
Resistensi Antimikroba Terkait Perjalanan
Lihat >>
DETEKSI LABORATORIUM Legionella pneumophilla DARI SPESIMEN MANUSIA
Lihat >>
LEGIONELLOSIS
Lihat >>
BAKTERI DALAM AIR SUSU IBU (ASI)
Lihat >>
DEKONTAMINASI
Lihat >>
PENYAKIT MULUT DAN KUKU PADA HEWAN TERNAK
Lihat >>
PENYAKIT CACAR MONYET (MONKEY POX)
Lihat >>
PENYAKIT HEPATITIS PADA ANAK YANG TIDAK DIKETAHUI PENYEBABNYA
Lihat >>
WORLD TB DAY 24 Maret 2022 Invest to End TB. Save Lives
Lihat >>
KONDISI PASKA COVID
Lihat >>
VARIAN OMICRON, EPISODE BARU DARI SARS-CoV-2
Lihat >>
DISBARISME
Lihat >>
HIPOKSIA
Lihat >>
JENIS VAKSIN
Lihat >>
PRINSIP DASAR VAKSIN
Lihat >>
KESEHATAN PENERBANGAN
Lihat >>
PERHATIKAN: PEMAKAIAN MASKER YANG BISA MELINDUNGI DARI COVID-19
Lihat >>
DEMAM DENGUE & DEMAM BERDARAH DENGUE
Lihat >>
PENGUMPULAN SPESIMEN DAHAK YANG BENAR
Lihat >>
VARIAN VIRUS SARS CoV-2
Lihat >>
VIRUS NIPAH (Niv)
Lihat >>
SEPUTAR FAKTA TENTANG VAKSIN COVID-19
Lihat >>
TRANSMISI VIRUS SARS-CoV-2
Lihat >>
BENARKAH ADA KASUS REINFEKSI COVID-19 ?
Lihat >>
STOP PENYEBARAN “SUPERBUG” GUNAKAN ANTIBIOTIK DENGAN BIJAK
Lihat >>
IMPACT OF TB LABORATORY DIAGNOSIS IN COVID-19 PANDEMIC
Lihat >>
Pemeriksaan usap dubur (swab rektal) untuk penjamah makanan
Lihat >>
DETEKSI BAKTERI RESISTEN
Lihat >>
Penerimaan Karyawan Non PNS Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya Tahun 2020
Lihat >>
HERD IMMUNITY
Lihat >>
MENINGITIS BAKTERI
Lihat >>
HARI TBC SEDUNIA
Lihat >>
PANDEMI COVID-19
Lihat >>
Fakta terbaru : Pneumonia oleh Corona Virus (2019-nCoV)
Lihat >>
Bahaya Tersembunyi Salmonella Enterocolitis Keracunan makanan akibat bakteri Salmonella
Lihat >>
Indonesia Masuki Periode Aging Population
Lihat >>
PENANGANAN PERTAMA DEMAM ANAK
Lihat >>
Hoax Imunisasi Masih Beredar
Lihat >>
WASPADALAH, DIFTERI MASIH ADA !
Lihat >>
Waspada, Filariasis Ditularkan Melalui Semua Jenis Nyamuk
Lihat >>
Satu Gigitan Anjing Bisa Renggut Nyawa
Lihat >>
Hari Santri 2018: ''Menag Ajak Santri Tebarkan Kedamaian di Sosial Media''
Lihat >>
Susu Kental Manis Bukan untuk Dikonsumsi Setiap Hari
Lihat >>
Hari Keluarga Nasional XXV Tahun 2018: Cinta Keluarga, Cinta Terencana
Lihat >>
Kemenkes: Kecanduan Game Adalah Gangguan Perilaku
Lihat >>
Pemberitahuan PNPME 2018
Lihat >>
Pengumuman Penutupan Pendaftaran PME Kimia Klinik & Mikrobiologi BTA
@bblabkesmas.surabaya
BBLKMSurabaya
BBLKMSurabaya