SEPUTAR HIV DAN PENCEGAHAN HIV: PROFILAKSIS PASKA PAJANAN
02 Desember 2022 / By Administrator,
WORLD AIDS DAY – 1 DESEMBER
Oleh dr. Titiek Sulistyowati., M. Ked. Klin., Sp. MK
Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang melemahkan sistem kekebalan seseorang dengan menghancurkan sel-sel penting yang melawan penyakit dan infeksi. Saat ini tidak ada obat yang efektif. Begitu orang tertular HIV, mereka mengidapnya seumur hidup. Tetapi dengan perawatan medis yang tepat, HIV dapat dikendalikan. Jika HIV tidak diobati, dapat menyebabkan Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS).
Infeksi HIV pada manusia berasal dari sejenis simpanse di Afrika Tengah. Studi menunjukkan bahwa HIV mungkin telah berpindah dari simpanse ke manusia sejak akhir 1800-an. Versi simpanse dari virus ini disebut simian immunodeficiency virus dan mungkin ditularkan ke manusia ketika manusia memburu simpanse ini untuk diambil dagingnya dan bersentuhan dengan darah mereka yang terinfeksi. Selama beberapa dekade, HIV perlahan menyebar ke seluruh Afrika dan kemudian ke bagian lain dunia. Virus ini telah ada di Amerika Serikat setidaknya sejak pertengahan hingga akhir 1970-an.
Kebanyakan orang memiliki gejala mirip flu dalam waktu 2 - 4 minggu setelah infeksi. Gejala dapat berlangsung selama beberapa hari atau minggu. Gejala ini bukan berarti mengidap HIV. Penyakit lain dapat menyebabkan gejala serupa. Beberapa orang tidak memiliki gejala sama sekali. Satu-satunya cara untuk mengetahui apakah mengidap HIV adalah dengan melakukan tes. Mengetahui status HIV akan membantu pembuatan keputusan sehat untuk mencegah tertular atau menularkan HIV.
Ketika orang HIV tidak mendapatkan pengobatan, mereka biasanya berkembang melalui 3 tahap. Tetapi pengobatan HIV dapat memperlambat atau mencegah perkembangan penyakit. Dengan kemajuan pengobatan HIV, perkembangan ke tahap 3 (AIDS) lebih jarang terjadi saat ini dibandingkan pada tahun-tahun awal HIV.
1. Tahap 1 infeksi HIV akut
• Orang memiliki sejumlah besar HIV dalam darahnya dan sangat menular.
• Kebanyakan orang memiliki gejala seperti flu.
• Jika Anda memiliki gejala mirip flu dan berpikir Anda mungkin telah terpajan HIV, maka lakukan tes.
2. Tahap 2 infeksi HIV kronik
• Tahap ini juga disebut infeksi HIV tanpa gejala atau latensi klinis.
• HIV masih aktif dan terus berkembang biak di dalam tubuh.
• Orang mungkin tidak memiliki gejala atau sakit selama fase ini, tetapi dapat menularkan HIV.
• Orang yang menggunakan pengobatan HIV sesuai resep mungkin tidak akan pernah pindah ke Tahap 3 (AIDS).
• Tanpa pengobatan HIV, tahap ini dapat berlangsung satu dekade atau lebih lama, atau dapat berkembang lebih cepat.
• Pada akhir tahap ini, jumlah HIV di dalam darah (viral load) meningkat dan orang tersebut dapat berpindah ke Tahap 3 (AIDS).
3. Tahap 3 Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS)
• Tahap paling parah dari infeksi HIV.
• Orang dengan AIDS dapat memiliki viral load yang tinggi dan dapat dengan mudah menularkan HIV kepada orang lain.
• Orang dengan AIDS memiliki sistem kekebalan tubuh yang rusak parah. Mereka bisa mendapatkan peningkatan jumlah infeksi oportunistik atau penyakit serius lainnya.
• Tanpa pengobatan HIV, orang dengan AIDS biasanya bertahan sekitar tiga tahun.
Kebanyakan orang tertular HIV melalui hubungan seks anal atau vaginal, berbagi jarum suntik, atau alat suntik narkoba lainnya. Anda dapat menggunakan strategi seperti tidak berhubungan seks secara bebas, tidak menggunakan narkoba, atau penerapan K3 saat penanganan pasien untuk para petugas kesehatan. Anda juga dapat memanfaatkan obat pencegahan HIV seperti profilaksis prapajanan (Pre- Exposure Prophylaxis = PrEP) dan profilaksis pascapajanan (Post - Exposure Prophylaxis = PEP).
PROFILAKSIS PASKA PAJANAN (Post - Exposure Prophylaxis = PEP)
Profilaksis paska pajanan berarti minum obat untuk mencegah HIV setelah kemungkinan pajanan. Profilaksis ini harus dimulai dalam 72 jam setelah kemungkinan terpapar HIV. Bicaralah segera (dalam 72 jam) dengan penyedia layanan kesehatan Anda, dokter ruang gawat darurat, atau penyedia layanan darurat tentang profilaksis paska pajanan jika Anda merasa baru saja terpapar HIV. Semakin cepat Anda memulai profilaksis paska pajanan, maka hasil akan semakin baik. Setiap jam sangat berarti. Jika Anda diresepkan obat, maka Anda harus meminumnya setiap hari selama 28 hari. Profilaksis ini diberikan setelah kemungkinan terpapar HIV dan bukanlah pengganti penggunaan rutin pencegahan HIV lainnya. Profilaksis paska pajanan bukanlah pilihan yang tepat untuk orang yang mungkin sering terpapar HIV.
Ketika seseorang melaporkan pajanan seksual atau pajanan terhadap darah, cairan yang terlihat berdarah, atau bahan menular lainnya dari seseorang yang diketahui mengidap HIV atau yang status HIV-nya tidak diketahui, dokter harus memberikan dosis pertama untuk profilaksis paska pajanan dengan segera. Waktu ideal dalam 2 jam dan tidak lebih dari 72 jam paska pajanan.
REFERENSI :
1. HIV Basics | HIV/AIDS | CDC
2. WHO. 2014. Guidelines on post-exposure prophylaxis for HIV and the use of co-trimoxazole prophylaxis for HIV-related infections among adults, adolescents and children: recommendations for a public health approach. December 2014 supplement to the 2013 consolidated guidelines on the use of antiretroviral drugs for treating and preventing HIV infection.
Artikel Terbaru
Lihat >>
Pernah Merasa Seperti Jatuh Saat Mau Tidur? Kenali Hypnic Jerk
Lihat >>
Risiko Penyakit Infeksi dan Sistem Surveilan untuk Penanganan Pasca Bencana Gempa Bumi: Penguatan Peran Labkesmas dalam Deteksi Dini dan Respon KLB
Lihat >>
Mengulas Bacillus cereus: Karakteristik Patogen, Risiko Toksin, dan Manajemen Pencegahan KLB Pangan
Lihat >>
Campak pada Dewasa: Bukan Sekadar Penyakit Anak
Lihat >>
Selamat Hari Tuberkulosis Sedunia
Lihat >>
Puasa sebagai Intervensi Mikrobiologis : Dampaknya terhadap Kesehatan Usus
Lihat >>
PENGUMUMAN: Pelaksanaan Program Nasional Pemantapan Mutu Eksternal (PNPME) Tahun 2026
Lihat >>
Menelusuri Jejak Mikroba pada Kasus Keracunan Pangan
Lihat >>
Sakit Sendi Setelah Demam? Ini yang Perlu Kamu Tahu
Lihat >>
SI NIMBUS YANG MERESAHKAN
Lihat >>
Hipertensi: Si Pembunuh Senyap yang Sering Diabaikan
Lihat >>
Prinsip Pemenuhan Nutrisi untuk Pasien Tuberkulosis Dalam Rangka Hari TB Dunia
Lihat >>
Bekerja aman di Biosafety Cabinet (BSC)
Lihat >>
Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG)
Lihat >>
AWaRe
Lihat >>
Budaya Kerja Kemenkes
Lihat >>
Nyamuk Aedes pembawa Wolbachia untuk mencegah infeksi demam berdarah
Lihat >>
Kondisi medis, gejala, dan penatalaksanaan yang berhubungan dengan panas
Lihat >>
Menjawab Pertanyaan seputar Penularan Cacar Monyet
Lihat >>
Yang Harus Diketahui Tentang Antraks
Lihat >>
Listeriosis (Foodborne Disease)
Lihat >>
DETEKSI DNA HPV UNTUK SKRINING KANKER SERVIKS
Lihat >>
Kanker serviks dikarenakan virus HPV
Lihat >>
Infeksi manusia oleh virus flu burung A(H5)
Lihat >>
Deteksi Infeksi Laten Tuberkulosis (ILTB)
Lihat >>
Patogenesis dan diagnosis Mycobacterium leprae
Lihat >>
SEPUTAR HIV DAN PENCEGAHAN HIV: PROFILAKSIS PASKA PAJANAN
Lihat >>
Resistensi Antimikroba Terkait Perjalanan
Lihat >>
DETEKSI LABORATORIUM Legionella pneumophilla DARI SPESIMEN MANUSIA
Lihat >>
LEGIONELLOSIS
Lihat >>
BAKTERI DALAM AIR SUSU IBU (ASI)
Lihat >>
DEKONTAMINASI
Lihat >>
PENYAKIT MULUT DAN KUKU PADA HEWAN TERNAK
Lihat >>
PENYAKIT CACAR MONYET (MONKEY POX)
Lihat >>
PENYAKIT HEPATITIS PADA ANAK YANG TIDAK DIKETAHUI PENYEBABNYA
Lihat >>
WORLD TB DAY 24 Maret 2022 Invest to End TB. Save Lives
Lihat >>
KONDISI PASKA COVID
Lihat >>
VARIAN OMICRON, EPISODE BARU DARI SARS-CoV-2
Lihat >>
DISBARISME
Lihat >>
HIPOKSIA
Lihat >>
JENIS VAKSIN
Lihat >>
PRINSIP DASAR VAKSIN
Lihat >>
KESEHATAN PENERBANGAN
Lihat >>
PERHATIKAN: PEMAKAIAN MASKER YANG BISA MELINDUNGI DARI COVID-19
Lihat >>
DEMAM DENGUE & DEMAM BERDARAH DENGUE
Lihat >>
PENGUMPULAN SPESIMEN DAHAK YANG BENAR
Lihat >>
VARIAN VIRUS SARS CoV-2
Lihat >>
VIRUS NIPAH (Niv)
Lihat >>
SEPUTAR FAKTA TENTANG VAKSIN COVID-19
Lihat >>
TRANSMISI VIRUS SARS-CoV-2
Lihat >>
BENARKAH ADA KASUS REINFEKSI COVID-19 ?
Lihat >>
STOP PENYEBARAN “SUPERBUG” GUNAKAN ANTIBIOTIK DENGAN BIJAK
Lihat >>
IMPACT OF TB LABORATORY DIAGNOSIS IN COVID-19 PANDEMIC
Lihat >>
Pemeriksaan usap dubur (swab rektal) untuk penjamah makanan
Lihat >>
DETEKSI BAKTERI RESISTEN
Lihat >>
Penerimaan Karyawan Non PNS Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya Tahun 2020
Lihat >>
HERD IMMUNITY
Lihat >>
MENINGITIS BAKTERI
Lihat >>
HARI TBC SEDUNIA
Lihat >>
PANDEMI COVID-19
Lihat >>
Fakta terbaru : Pneumonia oleh Corona Virus (2019-nCoV)
Lihat >>
Bahaya Tersembunyi Salmonella Enterocolitis Keracunan makanan akibat bakteri Salmonella
Lihat >>
Indonesia Masuki Periode Aging Population
Lihat >>
PENANGANAN PERTAMA DEMAM ANAK
Lihat >>
Hoax Imunisasi Masih Beredar
Lihat >>
WASPADALAH, DIFTERI MASIH ADA !
Lihat >>
Waspada, Filariasis Ditularkan Melalui Semua Jenis Nyamuk
Lihat >>
Satu Gigitan Anjing Bisa Renggut Nyawa
Lihat >>
Hari Santri 2018: ''Menag Ajak Santri Tebarkan Kedamaian di Sosial Media''
Lihat >>
Susu Kental Manis Bukan untuk Dikonsumsi Setiap Hari
Lihat >>
Hari Keluarga Nasional XXV Tahun 2018: Cinta Keluarga, Cinta Terencana
Lihat >>
Kemenkes: Kecanduan Game Adalah Gangguan Perilaku
Lihat >>
Pemberitahuan PNPME 2018
Lihat >>
Pengumuman Penutupan Pendaftaran PME Kimia Klinik & Mikrobiologi BTA
@bblabkesmas.surabaya
BBLKMSurabaya
BBLKMSurabaya