DEMAM DENGUE & DEMAM BERDARAH DENGUE
23 Juni 2021 / By Administrator,
Oleh dr. Titiek Sulistyowati, M. Ked. Klin, Sp. MK
Dengue merupakan penyakit yang ditemukan di wilayah dengan iklim tropis dan subtropis di seluruh dunia, sebagian besar area perkotaan atau semi perkotaan. Dengue tersebar luas degan variasi lokal yang dipengaruhi oleh curah hujan, suhu, kelembapan relatif dan urbanisasi. Penyakit ini disebabkan oleh virus dengue (sering disebut DENV) yang ditularkan oleh nyamuk betina terutama dari spesies Aedes aegypti dan pada tingkat lebih rendah yaitu Aedes albopictus. Nyamuk ini juga merupakan vector chikunguynya, demam kuning dan virus ZIKA. DENV ini mempunyai 4 (empat) serotipe antara lain DENV-1, DENV-2, DENV-3 dan DENV-4, sehingga memungkinkan seseorang terkena infeksi sebanyak 4 kali. Gejala yang ditimbulkan oleh virus dengue ini bervariasi mulai dari gejala ringan seperti flu akut sampai dengan gejala berat karena komplikasi, bahkan bisa menyebabkan kematian. Komplikasi yang ditimbulkan antara lain pendarahan parah (sering disebut sebagai demam berdarah), kerusakan organ dan kebocoran plasma yang mengakibatkan syok. Demam berdarah parah memiliki resiko kematian tinggi jika tidak ditangani dengan tepat. Pemulihan dari infeksi diyakini memberikan kekebalan seumur hidup terhadap serotipe tersebut. Namun, kekebalan silang dari satu serotipe ke serotipe lain setelah pemulihan hanya sebagian dan sementara. Infeksi berikutnya (infeksi sekunder) oleh serotipe lain meningkatkan risiko berkembangnya demam berdarah yang parah.
PENULARAN
1.Dari nyamuk ke manusia
Virus ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk betina yang terinfeksi, terutama nyamuk Aedes aegypti. Setelah mengambil darah dari manusia yang terinfeksi, maka virus bereplikasi atau memperbanyak diri di usus, sebelum disebarkan ke jaringan sekunder, termasuk kelenjar liur. Waktu dari menelan virus sampai ditularkan ke inang baru disebut sebagai periode inkubasi ekstrinsik, dengan waktu antara 8-12 hari pada suhu sekitar 25-28°C. Faktor yang mempengaruhi periode inkubasi ekstrinsik antara lain suhu sekitar, fluktuasi suhu harian, genotip virus, konsentrasi virus di waktu awal. Setelah terinfeksi, nyamuk bisa menularkan virus selama sisa hidupnya.
2.Dari manusia ke nyamuk
Nyamuk bisa menjadi terinfeksi dari manusia atau orang yang sedang terinfeksi virus DENV. Manusia ini adalah orang yang bergejala, sebelum bergejala, bahkan yang tidak bergejala. Penularan dari manusia ke nyamuk dapat terjadi 2 hari sebelum seseorang menunjukkan gejala penyakit hingga 2 hari setelah demam reda. Risiko infeksi nyamuk berhubungan positif dengan viremia tinggi dan demam tinggi pada pasien. Sebaliknya, tingkat antibodi spesifik DENV yang tinggi berkaitan dengan penurunan risiko infeksi nyamuk. Sebagian besar orang yang mengalami viremia selama sekitar 4-5 hari, tetapi viremia bisa bertahan selama 12 hari.
3. Rute lain
Cara utama penularan DENV antar manusia melibatkan vektor nyamuk. Namun, ada bukti kemungkinan penularan ibu (dari ibu hamil ke bayinya), meskipun tampak rendah kejadiannya. Ketika ibu terinfeksi DENV saat hamil, ada resiko yang mungkin terjadi pada bayi antara lain kelahiran prematur, berat badan lahir rendah dan gawat janin.
EKOLOGI VEKTOR
Nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor utama DENV, hidup di habitat perkotaan dan berkembang biak pada container atau wadah buatan manusia. Nyamuk ini adalah pemakan siang hari, puncak periode menggigit adalah pagi dan sore hari sebelum matahari terbenam. Nyamuk betina sering mencari makan beberapa kali antara setiap periode bertelur. Setelah seekor nyamuk betina bertelur, telur ini dapat bertahan selama beberapa bulan dan akan menetas ketika bersentuhan dengan air.
GEJALA PENYAKIT
Demam Dengue (DD)
•Demam selama 2-7 hari.
•Gejala lain seperti sakit kepala, nyeri otot dan sendi.
•Kadar trombosit dalam darah turun.
•Panas akan turun pada hari ke 3-4.
•Tingkat penyembuhan lebih baik.
Demam Berdarah Dengue (DBD)
•Demam tinggi mendadak, 2-7 hari, terus-menerus.
•Gejala lain seperti nyeri kepala, nyeri di bagian belakang bola mata, kadang nyeri perut.
•Ruam atau bintik merah di kulit.
•Tidak ada batuk atau sakit di tenggorokan.
•Trombosit dan leukosit turun.
•Peningkatan hematokrit (naik 20% dari jumlah normal).
•Perdarahan pada jaringan lunak (hidung, mulut, atau gusi).
•Terjadi kebocoran plasma dan bisa mengakibatkan syok.
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Penegakan diagnosis melalui pemeriksaan laboratorium dapat memberikan hasil akurat dan tersedia komersial adalah:
1.Deteksi antigen virus
Deteksi antigen virus dengue yang banyak dilaksanakan dan tersedia secara komersil adalah pemeriksaan NS-1 Antigen virus dengue (NS-1 dengue antigen) yaitu suatu glikoprotein yang diproduksi oleh semua flavivirus. Antigen ini dapat dideteksi sejak hari pertama demam dan menghilang setelah 5 (lima) hari. Kemungkinan positif tinggi terutama pada 1-2 hari demam, kemudian menurun setelahnya.
2.Deteksi serum respon imun / uji serologi serum imun
Ada beberapa metode pemeriksaan, tetapi yang banyak dilakukan dan tersedia komersial adalah pemeriksaan serologi IgM dan IgG anti dengue. IgM anti dengue mempunyai kadar yang bervariasi, pada umumnya terdeteksi pada hari sakit ke-5 (kelima) dan menjadi tidak terdeteksi setelah 90 hari. Pada infeksi dengue primer atau terjadi pertama kali, IgG anti dengue akan muncul lebih lambat, sedangkan infeksi sekunder akan muncul lebih cepat. Kadar IgG anti dengue akan bertahan cukup lama dalam serum. IgM dan IgG anti dengue merupakan petunjuk untuk menetukan apakah infeksi primer atau sekunder.
3.Analisis parameter hematologi
Parameter hematologi yang bisa membantu diagnosis infeksi DENV ini antara lain :
-Hitung leukosit : awal fase demam hitung leukosit bisa normal atau peningkatan neutrofil. Kemudian mengalami penurunan baik leukosit dan neutrofil sampai titik terendah pada akhir fase demam.
-Trombosit : awal fase demam, trombosit masih normal dan akan mengalami penurunan. Penurunan trombosit biasanya terjadi pada sakit hari ke-3 sampai hari ke-8. Jumlah trombosit ini berhubungan dengan derajat sakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Penurunan trombosit < 100.000/uL secara mendadak biasanya terjadi pada akhir fase demam memasuki fase kritis atau saat penurunan suhu.
-Hematokrit : awal fase demam, nilai hematokrit masih normal. Peningkatan ringan disebabkan demam tinggi, anoreksia dan muntah. Jika peningkatan >20%, maka ada indikasi kebocoran plasma.
Catatan : Penurunan trombosit < 100.000/uL dan peningkatan hematokrit >20% merupakan bagian dari diagnosis klinis DBD.
TATA LAKSANA
Tidak ada pengobatan spesifik untuk Demam Dengue dan Demam Berdarah Dengue.
Kasus DD dapat dilakukan dengan rawat jalan. Penurun demam dan penghilang rasa sakit yang direkomendasikan adalah parasetamol dengan dosis 10-15mg/kgBB/dosis yang dapat diulang setiap 4-6 jam tiap kali demam atau nyeri. Penggunaan obat nyeri jenis NSAID (obat antiinflamasi non steroid), seperrti ibuprofen, asam mefenamat atau aspirin harus dihindari karena bisa menyebabkan pengenceran darah dan beresiko terjadi perdarahan. Pasien juga dianjurkan untuk cukup minum, boleh air putih atau teh, tapi lebih baik jika diberikan minuman yang mengandung elektrolit seperti jus buah, oralit, atau air tajin. Tanda kecukupan cairan dengan mengamati frekuensi kencing setiap 4-6 jam. Pasien rawat jalan juga tetap harus memperhatikan progresivitas penyakit dengan melihat gejala klinis maupun hasil pemeriksaan laboratorium. Apabila ada perburukan klinis, maka harus segera konsultasi dengan dokter atau datang ke rumah sakit.
Kasus DBD membutuhkan perawatan medis lebih intensif di rumah sakit. Pengobatan bersifat simtomatis dan suportif terutama untuk penggantian cairan. Kasus DBD menunjukkan kebocoran plasma cukup banyak sehingga berisiko terjadi syok sehingga membutuhkan observasi terapi cairan yang tepat. Selama perawatan, pasien juga akan diobservasi keadaan umum, nafsu makan atau kebutuhan nutrisi, gejala klinis seperti muntah, perdarahan dan tanda syok, serta pemeriksaan laboratorium serial. Tata laksana yang tepat dan segera dapat mengurangi kesakitan atau morbiditas dan kematian atau mortalitas.
PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN
Pencegahan DD dan DBD yang paling efektif dan efisien sampai saat ini adalah kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan cara 3M Plus, yaitu : 1) Menguras, adalah membersihkan tempat yang sering dijadikan tempat penampungan air seperti: bak mandi, ember air, tempat penampungan air minum, penampung air lemari es dll; 2) Menutup, yaitu menutup rapat-rapat tempat-tempat penampungan air seperti: drum, kendi, toren air, dll ; dan 3) Memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang memiliki potensi untuk jadi tempat perkembangbiakan nyamuk penular Demam Berdarah. Adapun yang dimaksud dengan Plus adalah segala bentuk kegiatan pencegahan lainnya seperti:
1.Menaburkan bubuk larvasida pada tempat penampungan air yang sulit dibersihkan, misalnya water toren, gentong/tempayan penampung air hujan, dll.
2.Menggunakan kelambu saat tidur,
3.Memelihara ikan pemangsa jentik nyamuk,
4.Menanam tanaman pengusir nyamuk,
5.Menghindari kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah yang bisa menjadi tempat istirahat nyamuk, dll.
6.Menggunakan anti nyamuk semprot maupun oles bila diperlukan.
Sumber :
1.Dengue and severe dengue (who.int)
2.IDAI. 2014. Pedoman Diagnosis Dan Tatalaksana Infeksi Virus Dengue Pada Anak
3.Kesiapsiagaan Menghadapi Peningkatan Kejadian Demam Berdarah Dengue Tahun 2019 | Direktorat Jendral P2P (kemkes.go.id)
Artikel Terbaru
Lihat >>
Pernah Merasa Seperti Jatuh Saat Mau Tidur? Kenali Hypnic Jerk
Lihat >>
Risiko Penyakit Infeksi dan Sistem Surveilan untuk Penanganan Pasca Bencana Gempa Bumi: Penguatan Peran Labkesmas dalam Deteksi Dini dan Respon KLB
Lihat >>
Mengulas Bacillus cereus: Karakteristik Patogen, Risiko Toksin, dan Manajemen Pencegahan KLB Pangan
Lihat >>
Campak pada Dewasa: Bukan Sekadar Penyakit Anak
Lihat >>
Selamat Hari Tuberkulosis Sedunia
Lihat >>
Puasa sebagai Intervensi Mikrobiologis : Dampaknya terhadap Kesehatan Usus
Lihat >>
PENGUMUMAN: Pelaksanaan Program Nasional Pemantapan Mutu Eksternal (PNPME) Tahun 2026
Lihat >>
Menelusuri Jejak Mikroba pada Kasus Keracunan Pangan
Lihat >>
Sakit Sendi Setelah Demam? Ini yang Perlu Kamu Tahu
Lihat >>
SI NIMBUS YANG MERESAHKAN
Lihat >>
Hipertensi: Si Pembunuh Senyap yang Sering Diabaikan
Lihat >>
Prinsip Pemenuhan Nutrisi untuk Pasien Tuberkulosis Dalam Rangka Hari TB Dunia
Lihat >>
Bekerja aman di Biosafety Cabinet (BSC)
Lihat >>
Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG)
Lihat >>
AWaRe
Lihat >>
Budaya Kerja Kemenkes
Lihat >>
Nyamuk Aedes pembawa Wolbachia untuk mencegah infeksi demam berdarah
Lihat >>
Kondisi medis, gejala, dan penatalaksanaan yang berhubungan dengan panas
Lihat >>
Menjawab Pertanyaan seputar Penularan Cacar Monyet
Lihat >>
Yang Harus Diketahui Tentang Antraks
Lihat >>
Listeriosis (Foodborne Disease)
Lihat >>
DETEKSI DNA HPV UNTUK SKRINING KANKER SERVIKS
Lihat >>
Kanker serviks dikarenakan virus HPV
Lihat >>
Infeksi manusia oleh virus flu burung A(H5)
Lihat >>
Deteksi Infeksi Laten Tuberkulosis (ILTB)
Lihat >>
Patogenesis dan diagnosis Mycobacterium leprae
Lihat >>
SEPUTAR HIV DAN PENCEGAHAN HIV: PROFILAKSIS PASKA PAJANAN
Lihat >>
Resistensi Antimikroba Terkait Perjalanan
Lihat >>
DETEKSI LABORATORIUM Legionella pneumophilla DARI SPESIMEN MANUSIA
Lihat >>
LEGIONELLOSIS
Lihat >>
BAKTERI DALAM AIR SUSU IBU (ASI)
Lihat >>
DEKONTAMINASI
Lihat >>
PENYAKIT MULUT DAN KUKU PADA HEWAN TERNAK
Lihat >>
PENYAKIT CACAR MONYET (MONKEY POX)
Lihat >>
PENYAKIT HEPATITIS PADA ANAK YANG TIDAK DIKETAHUI PENYEBABNYA
Lihat >>
WORLD TB DAY 24 Maret 2022 Invest to End TB. Save Lives
Lihat >>
KONDISI PASKA COVID
Lihat >>
VARIAN OMICRON, EPISODE BARU DARI SARS-CoV-2
Lihat >>
DISBARISME
Lihat >>
HIPOKSIA
Lihat >>
JENIS VAKSIN
Lihat >>
PRINSIP DASAR VAKSIN
Lihat >>
KESEHATAN PENERBANGAN
Lihat >>
PERHATIKAN: PEMAKAIAN MASKER YANG BISA MELINDUNGI DARI COVID-19
Lihat >>
DEMAM DENGUE & DEMAM BERDARAH DENGUE
Lihat >>
PENGUMPULAN SPESIMEN DAHAK YANG BENAR
Lihat >>
VARIAN VIRUS SARS CoV-2
Lihat >>
VIRUS NIPAH (Niv)
Lihat >>
SEPUTAR FAKTA TENTANG VAKSIN COVID-19
Lihat >>
TRANSMISI VIRUS SARS-CoV-2
Lihat >>
BENARKAH ADA KASUS REINFEKSI COVID-19 ?
Lihat >>
STOP PENYEBARAN “SUPERBUG” GUNAKAN ANTIBIOTIK DENGAN BIJAK
Lihat >>
IMPACT OF TB LABORATORY DIAGNOSIS IN COVID-19 PANDEMIC
Lihat >>
Pemeriksaan usap dubur (swab rektal) untuk penjamah makanan
Lihat >>
DETEKSI BAKTERI RESISTEN
Lihat >>
Penerimaan Karyawan Non PNS Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya Tahun 2020
Lihat >>
HERD IMMUNITY
Lihat >>
MENINGITIS BAKTERI
Lihat >>
HARI TBC SEDUNIA
Lihat >>
PANDEMI COVID-19
Lihat >>
Fakta terbaru : Pneumonia oleh Corona Virus (2019-nCoV)
Lihat >>
Bahaya Tersembunyi Salmonella Enterocolitis Keracunan makanan akibat bakteri Salmonella
Lihat >>
Indonesia Masuki Periode Aging Population
Lihat >>
PENANGANAN PERTAMA DEMAM ANAK
Lihat >>
Hoax Imunisasi Masih Beredar
Lihat >>
WASPADALAH, DIFTERI MASIH ADA !
Lihat >>
Waspada, Filariasis Ditularkan Melalui Semua Jenis Nyamuk
Lihat >>
Satu Gigitan Anjing Bisa Renggut Nyawa
Lihat >>
Hari Santri 2018: ''Menag Ajak Santri Tebarkan Kedamaian di Sosial Media''
Lihat >>
Susu Kental Manis Bukan untuk Dikonsumsi Setiap Hari
Lihat >>
Hari Keluarga Nasional XXV Tahun 2018: Cinta Keluarga, Cinta Terencana
Lihat >>
Kemenkes: Kecanduan Game Adalah Gangguan Perilaku
Lihat >>
Pemberitahuan PNPME 2018
Lihat >>
Pengumuman Penutupan Pendaftaran PME Kimia Klinik & Mikrobiologi BTA
@bblabkesmas.surabaya
BBLKMSurabaya
BBLKMSurabaya