KONDISI PASKA COVID
24 Februari 2022 / By Administrator,
Oleh : dr. Titiek Sulistyowati, M. Ked. Klin., Sp. MK
Sebagian orang yang terinfeksi COVID-19 akan menjadi lebih baik dalam beberapa minggu setelah sakit, tetapi ada beberapa orang yang mengalami kondisi paska COVID. Apa itu kondisi paska COVID ? Yaitu, suatu keadaan berkelanjutan yang dialami oleh orang pada empat minggu atau lebih setelah pertama kali terinfeksi virus penyebab COVID-19. Bahkan, orang yang tidak mengalami gejala (orang tanpa gejala = OTG) dalam beberapa hari atau minggu setelah terinfeksi dapat mengalami kondisi paska COVID. Kondisi paska COVID ini sering disebut sebagai COVID jangka panjang, atau COVID-19 paska akut, atau efek jangka panjang COVID, atau COVID kronis. Insiden paska COVID ini diperkirakan 10-35% pada pasien tanpa rawat inap dan komorbid dan diperkirakan hingga 80% pada pasien dengan riwayat rawat inap dan parah. CDC dan para ahli di seluruh dunia masih terus mempelajari lebih lanjut dan lebih detail tentang efek kesehatan jangka pendek dan jangka panjang yang terkait dengan COVID-19. Secara umum, kondisi paska COVID ditandai dengan tidak kembalinya kondisi kesehatan seperti biasa setelah infeksi COVID-19 akut.
Gejala
Beberapa orang mengalami serangkaian gejala baru atau berkelanjutan yang dapat berlangsung selama beberapa minggu atau bulan setelah pertama kali terinfeksi virus penyebab COVID-19. Gejala ini bisa terjadi pada siapapun yang pernah terinfeksi virus ini baik yang bergejala maupun tidak. Orang sering melaporkan kombinasi berbeda dari beberapa gejala sebagai berikut : Kesulitan bernapas atau sesak, napas, kelelahan atau letih lemah lesu, kesulitan berpikir atau konsentrasi (=brain fog = otak berkabut), batuk, nyeri dada atau perut, sakit kepala, jantung berdebar, nyeri sendi atau otot, perasaan seperti tertusuk jarum, diare, gangguan tidur, demam, pusing saat berdiri atau kepala terasa ringan, ruam kulit, perubahan suasana hati, perubahan pembauan atau rasa, perubahan siklus menstruasi.
Patogenesis
Patogenesis sindrom paska COVID adalah multi-faktorial dan lebih dari satu mekanisme dapat terlibat dalam beberapa manifestasi klinis. Peradangan yang berkepanjangan memiliki peran kunci dalam patogenesis dan menyebabkan beberapa komplikasi sistem saraf, gangguan fungsi kognitif, dan beberapa gejala lain. Selain itu, kerusakan endotel dan tromboemboli juga diduga sangat berperan dalam patogenesis utama. Kerusakan endotel disebabkan invasi virus atau proses peradangan yang lebih dalam, peningkatan kadar faktor koagulasi, dan hipoksia karena gangguan pernapasan.
Efek multi organ
Beberapa orang yang menderita penyakit parah karena COVID-19 akan mengalami efek multi organ atau kondisi autoimun dalam waktu lebih lama dengan gejala yang berlangsung beberapa minggu sampai beberapa bulan setelah penyakit COVID-19. Efek multi organ dapat mempengaruhi sistem tubuh antara lain fungsi jantung, paru, ginjal, kulit dan otak. Kondisi autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang sel sehat secara tidak sengaja dan menyebabkan peradangan atau pembengkakan atau kerusakan jaringan di bagian tubuh yang terkena. Meskipun sangat jarang terjadi, beberapa orang terutama anak-anak, akan mengalami Multisystem Inflammation Syndrome (MIS) selama atau segera setelah infeksi COVID-19. MIS adalah suatu kondisi dimana bagian tubuh yang berbeda bisa mengalami peradangan. MIS dapat juga menyebabkan kondisi paska COVID jika seseorang terus mengalami efek multiorgan atau gejala lain.
Cara menghadapi efek paska COVID
CDC memberikan saran terkait jenis pemeriksaan, pengobatan dan cara pendekatan untuk pasien dengan kondisi paska COVID. Pertama, pentingnya pengenalan masyarakat terhadap gejala atau kondisi paska COVID. Kedua, CDC menjelaskan bahwa tidak ada jenis pemeriksaan khusus terkait laboratorium yang bisa membedakan kondisi paska COVID dengan masalah kesehatan lain. Ketiga, petugas kesehatan harus lebih peka tentang kondisi paska COVID yang berkaitan dengan kesehatan mental, karena COVID juga mempunyai efek pada kesehatan mental. Hal ini bertujuan agar mendapatkan hasil evaluasi yang menyeluruh. Keempat, CDC merekomendasikan terapi pada pasien dengan kondisi paska COVID. Beberapa orang dengan kondisi tersebut mengalami perbaikan melalui terapi dan perawatan yang sudah ada. Contoh, latihan pernapasan untuk perbaikan sesak napas.
Sumber :
1.https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/long-term-effects/index.html
2.https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/long-term-effects/care-post-covid.html
3.Maltezou, H.C.; Pavli, A.; Tsakris, A. Post-COVID Syndrome: An Insight on Its Pathogenesis. Vaccines 2021, 9, 497. https:// doi.org/10.3390/vaccines9050497
Artikel Terbaru
Lihat >>
Pernah Merasa Seperti Jatuh Saat Mau Tidur? Kenali Hypnic Jerk
Lihat >>
Risiko Penyakit Infeksi dan Sistem Surveilan untuk Penanganan Pasca Bencana Gempa Bumi: Penguatan Peran Labkesmas dalam Deteksi Dini dan Respon KLB
Lihat >>
Mengulas Bacillus cereus: Karakteristik Patogen, Risiko Toksin, dan Manajemen Pencegahan KLB Pangan
Lihat >>
Campak pada Dewasa: Bukan Sekadar Penyakit Anak
Lihat >>
Selamat Hari Tuberkulosis Sedunia
Lihat >>
Puasa sebagai Intervensi Mikrobiologis : Dampaknya terhadap Kesehatan Usus
Lihat >>
PENGUMUMAN: Pelaksanaan Program Nasional Pemantapan Mutu Eksternal (PNPME) Tahun 2026
Lihat >>
Menelusuri Jejak Mikroba pada Kasus Keracunan Pangan
Lihat >>
Sakit Sendi Setelah Demam? Ini yang Perlu Kamu Tahu
Lihat >>
SI NIMBUS YANG MERESAHKAN
Lihat >>
Hipertensi: Si Pembunuh Senyap yang Sering Diabaikan
Lihat >>
Prinsip Pemenuhan Nutrisi untuk Pasien Tuberkulosis Dalam Rangka Hari TB Dunia
Lihat >>
Bekerja aman di Biosafety Cabinet (BSC)
Lihat >>
Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG)
Lihat >>
AWaRe
Lihat >>
Budaya Kerja Kemenkes
Lihat >>
Nyamuk Aedes pembawa Wolbachia untuk mencegah infeksi demam berdarah
Lihat >>
Kondisi medis, gejala, dan penatalaksanaan yang berhubungan dengan panas
Lihat >>
Menjawab Pertanyaan seputar Penularan Cacar Monyet
Lihat >>
Yang Harus Diketahui Tentang Antraks
Lihat >>
Listeriosis (Foodborne Disease)
Lihat >>
DETEKSI DNA HPV UNTUK SKRINING KANKER SERVIKS
Lihat >>
Kanker serviks dikarenakan virus HPV
Lihat >>
Infeksi manusia oleh virus flu burung A(H5)
Lihat >>
Deteksi Infeksi Laten Tuberkulosis (ILTB)
Lihat >>
Patogenesis dan diagnosis Mycobacterium leprae
Lihat >>
SEPUTAR HIV DAN PENCEGAHAN HIV: PROFILAKSIS PASKA PAJANAN
Lihat >>
Resistensi Antimikroba Terkait Perjalanan
Lihat >>
DETEKSI LABORATORIUM Legionella pneumophilla DARI SPESIMEN MANUSIA
Lihat >>
LEGIONELLOSIS
Lihat >>
BAKTERI DALAM AIR SUSU IBU (ASI)
Lihat >>
DEKONTAMINASI
Lihat >>
PENYAKIT MULUT DAN KUKU PADA HEWAN TERNAK
Lihat >>
PENYAKIT CACAR MONYET (MONKEY POX)
Lihat >>
PENYAKIT HEPATITIS PADA ANAK YANG TIDAK DIKETAHUI PENYEBABNYA
Lihat >>
WORLD TB DAY 24 Maret 2022 Invest to End TB. Save Lives
Lihat >>
KONDISI PASKA COVID
Lihat >>
VARIAN OMICRON, EPISODE BARU DARI SARS-CoV-2
Lihat >>
DISBARISME
Lihat >>
HIPOKSIA
Lihat >>
JENIS VAKSIN
Lihat >>
PRINSIP DASAR VAKSIN
Lihat >>
KESEHATAN PENERBANGAN
Lihat >>
PERHATIKAN: PEMAKAIAN MASKER YANG BISA MELINDUNGI DARI COVID-19
Lihat >>
DEMAM DENGUE & DEMAM BERDARAH DENGUE
Lihat >>
PENGUMPULAN SPESIMEN DAHAK YANG BENAR
Lihat >>
VARIAN VIRUS SARS CoV-2
Lihat >>
VIRUS NIPAH (Niv)
Lihat >>
SEPUTAR FAKTA TENTANG VAKSIN COVID-19
Lihat >>
TRANSMISI VIRUS SARS-CoV-2
Lihat >>
BENARKAH ADA KASUS REINFEKSI COVID-19 ?
Lihat >>
STOP PENYEBARAN “SUPERBUG” GUNAKAN ANTIBIOTIK DENGAN BIJAK
Lihat >>
IMPACT OF TB LABORATORY DIAGNOSIS IN COVID-19 PANDEMIC
Lihat >>
Pemeriksaan usap dubur (swab rektal) untuk penjamah makanan
Lihat >>
DETEKSI BAKTERI RESISTEN
Lihat >>
Penerimaan Karyawan Non PNS Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya Tahun 2020
Lihat >>
HERD IMMUNITY
Lihat >>
MENINGITIS BAKTERI
Lihat >>
HARI TBC SEDUNIA
Lihat >>
PANDEMI COVID-19
Lihat >>
Fakta terbaru : Pneumonia oleh Corona Virus (2019-nCoV)
Lihat >>
Bahaya Tersembunyi Salmonella Enterocolitis Keracunan makanan akibat bakteri Salmonella
Lihat >>
Indonesia Masuki Periode Aging Population
Lihat >>
PENANGANAN PERTAMA DEMAM ANAK
Lihat >>
Hoax Imunisasi Masih Beredar
Lihat >>
WASPADALAH, DIFTERI MASIH ADA !
Lihat >>
Waspada, Filariasis Ditularkan Melalui Semua Jenis Nyamuk
Lihat >>
Satu Gigitan Anjing Bisa Renggut Nyawa
Lihat >>
Hari Santri 2018: ''Menag Ajak Santri Tebarkan Kedamaian di Sosial Media''
Lihat >>
Susu Kental Manis Bukan untuk Dikonsumsi Setiap Hari
Lihat >>
Hari Keluarga Nasional XXV Tahun 2018: Cinta Keluarga, Cinta Terencana
Lihat >>
Kemenkes: Kecanduan Game Adalah Gangguan Perilaku
Lihat >>
Pemberitahuan PNPME 2018
Lihat >>
Pengumuman Penutupan Pendaftaran PME Kimia Klinik & Mikrobiologi BTA
@bblabkesmas.surabaya
BBLKMSurabaya
BBLKMSurabaya