Menjawab Pertanyaan seputar Penularan Cacar Monyet
08 Agustus 2023 / By Administrator,
Oleh dr. Titiek Sulistyowati, M. Ked. Klin, Sp. MK (K)
Apakah cacar monyet termasuk infeksi menular seksual (IMS)?
Cacar monyet dapat menyebar melalui kontak dekat dalam bentuk apapun, termasuk melalui ciuman, sentuhan, seks oral dan penetrasi melalui vagina atau anal dengan seseorang yang dapat menularkan penyakit tersebut. Orang yang berhubungan seks dengan banyak pasangan mempunyai resiko yang besar terhadap penularan penyakit ini.
Siapa pun yang mengalami ruam atau lesi baru dan tidak biasa harus menghindari hubungan seks atau kontak dekat lainnya dengan orang lain sampai mereka telah menjalani tes Infeksi Menular Seksual (IMS) dan pemeriksaan cacar monyet. Ruam cacar monyet juga dapat ditemukan di area yang sulit dilihat di dalam tubuh, termasuk mulut, tenggorokan, alat kelamin, vagina, dan anus atau sekitar anus.
Beberapa studi menunjukkan bahwa virus cacar monyet ditemukan pada sampel cairan air mani dari 13,06% kasus yang dikonfirmasi. Menurut Reda A dkk, virus ini dapat diidentifikasi dalam sampel air mani dari hari pertama sampai dengan 19 hari setelah timbulnya gejala. Kapasitas replikasi partikel virus yang ditemukan dalam sampel mani juga diuji. Studi tersebut menunjukkan bahwa virus cacar monyet berhasil ditumbuhkan atau dikultur dari sampel mani dari dua pasien cacar monyet, sehingga makin menguatkan peran penularan penyakit secara seksual. Akan tetapi, penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk menjelaskan lebih banyak tentang potensi replikasi partikel ini.
Apakah cacar monyet menyebar melalui udara seperti COVID-19 ?
Penelitian terbaru pada pasien cacar monyet telah mengidentifikasi tingginya jumlah virus di saluran pernapasan (swab tenggorokan dan nasofaring), air liur, dan sampel udara, tetapi penularan melalui tetesan pernapasan (droplet) atau pada jarak yang lebih jauh melalui aerosol tampaknya tidak berperan dalam wabah saat ini. Kemungkinan bahwa virus cacar monyet dapat bermutasi dan meningkatkan viral load dalam droplet dan aerosol, atau efisiensinya untuk menginfeksi sel manusia di mukosa pernapasan, akan meningkatkan penularannya melalui pernapasan, dan hal ini harus dipantau di kasus masa depan. Bukti penularan cacar melalui udara telah dilaporkan dan cacar monyet mungkin berkembang ke arah yang sama.
Penularan penyakit menular melalui saluran pernapasan sering kali dikotomisasi menjadi penularan melalui tetesan (droplet) dan penularan melalui udara (airborne). Penularan droplet mengacu pada penyebaran patogen melalui partikel besar (yaitu tetesan) yang dihasilkan saat bersin, batuk, atau berbicara, dan akan dideposit ke selaput lendir (membran mukosa) host/inang yang rentan. Partikel besar ini biasanya hanya bergerak dalam jarak pendek (yaitu <2 m) sebelum menetap di tanah atau permukaan lain. Penularan melalui udara mengacu pada penyebaran patogen dalam partikel yang sangat kecil (misal aerosol) yang juga dapat dihasilkan melalui bersin, batuk, dan berbicara, dan tetap berada di udara untuk jangka waktu lama, sehingga tidak memerlukan kontak dekat (<2 m) dengan individu yang terinfeksi. Kedua jenis partikel tersebut dapat menular jika terhirup atau bersentuhan dengan selaput lendir seseorang. Dalam konteks kasus cacar monyet, materi partikulat yang berasal dari lesi (misal, bahan keropeng yang dihaluskan) dari lesi non-oral juga dapat terhirup ketika tersuspensi di udara. Studi Beeson et al secara kolektif menyebut bahwa penularan melalui udara (baik melalui percikan tetesan atau menghirup aerosol atau partikulat yang berasal dari lesi) sebagai penularan melalui pernapasan.
Secara historis, laporan kasus cacar monyet pada manusia mencakup gejala saluran pernafasan atas atau bawah, tetapi bisa juga tidak ada gejala. Gangguan pernafasan yang parah atau bronkopneumonia telah ditemukan pada akhir perjalanan penyakit dengan Monkeypox virus clade I (MPXV clade I). Lesi pada mulut, selain tanda dan gejala orofaring lain (misal, lesi tonsil, faringitis, odynophagia, dan epiglotitis) telah dilaporkan, baik secara historis dan selama wabah clade II tahun 2022. Sakit tenggorokan dilaporkan terjadi pada 17–37% pasien pada tahun 2022. Sebelum tahun 2022, batuk tercatat terjadi pada sekitar setengah pasien dengan MPXV clade I dan clade II, tetapi laporan wabah tahun 2022, gejala ini disertai sesak napas dan hidung tersumbat, jauh lebih jarang terjadi, dengan batuk hanya terjadi pada 7% pasien dalam satu penelitian cross-sectional. Laporan historis dan saat ini juga mendokumentasikan isolasi MPXV dari lokasi anatomi mulut atau pernapasan. DNA MPXV dari usap faring dan air liur telah terdeteksi PCR pada pasien dengan lesi kulit bersamaan. Adler dan rekannya juga mengidentifikasi DNA MPXV clade II saluran pernapasan atas pada tujuh pasien yang dijelaskan dalam serangkaian kasus dari UK (2018–2021) tanpa adanya gejala pernafasan dan bahkan setelah lesi kulit sembuh. Pada tiga pasien, pelepasan saluran pernafasan bagian atas terjadi selama lebih dari 3 minggu. DNA virus juga terdeteksi pada satu pasien kambuh yang terjadi 6 minggu setelah keluar dari rumah sakit dan 10 minggu setelah timbul gejala awal. Hubungan antara keberadaan DNA virus dan pelepasan virus menular yang dapat hidup dari saluran pernafasan yang menyebabkan infeksi tidak diketahui, karena banyak dari penelitian ini tidak melakukan kultur sel. Hanya satu penelitian yang membiakkan virus dari beberapa usap orofaring dan diukur dengan uji plak.
Meskipun gejala pernafasan tampaknya merupakan manifestasi MPXV yang jarang terjadi pada wabah tahun 2022, keberadaan DNA virus di saluran pernafasan telah didokumentasikan bahkan pada individu tanpa gejala pernafasan. Apakah manifestasi pernafasan dari infeksi MPXV atau isolasi MPXV dari mulut atau pernafasan sekret pada manusia mempunyai korelasi dengan potensi penularan melalui pernafasan masih belum jelas dan membutuhkan studi lebih lanjut.
Apakah virus cacar monyet bisa menular melalui permukaan yang terkontaminasi ?
Virus cacar monyet juga mungkin bertahan selama beberapa waktu pada pakaian, selimut, handuk, benda, barang elektronik, dan permukaan yang pernah disentuh oleh pasien cacar monyet. Orang lain yang menyentuh barang tersebut dapat terinfeksi, terutama jika mereka mengalami luka atau lecet atau menyentuh mata, hidung, mulut, atau selaput lendir lainnya tanpa mencuci tangan terlebih dahulu. Membersihkan dan melakukan desinfeksi permukaan/benda serta membersihkan tangan setelah menyentuh permukaan/benda yang mungkin terkontaminasi dapat membantu mencegah penularan jenis ini.
Evaluasi stabilitas MPXV pada permukaan yang berbeda penting untuk meminimalkan penularan. Studi Li F et al menunjukkan stabilitas MPXV pada berbagai jenis permukaan yang sering disentuh. MPXV diamati memiliki pola stabilitas yang berbeda dan tergantung pada jenis permukaan. Virus yang aktif terdeteksi pada kaca dan baja tahan karat hingga 5 hari dan pada permukaan plastik hingga 3 hari. Sebaliknya, tidak ada MPXV yang terdeteksi pada papan kayu dan karton, yang merupakan permukaan berpori dan menyerap air, setelah inkubasi 1 dan 2 hari. Selain itu, DNA MPXV lebih stabil dan menunjukkan korelasi yang lebih baik dengan titer virus pada baja tahan karat, plastik, dan kaca. Hasil studi tersebut menunjukkan bahwa penularan MPXV melalui fomite (benda atau bahan yang mungkin membawa infeksi, seperti pakaian, perkakas, dan furnitur) menjadi masuk akal. Selain itu, stabilitas MPXV sangat bergantung pada permukaan dan lebih stabil pada permukaan halus, yang dapat memberikan lebih banyak informasi untuk meminimalkan penularan cacar monyet dan menekankan pentingnya desinfeksi lingkungan dalam pencegahan dan pengendalian cacar monyet.
Studi Morgan et al menunjukkan bahwa bulan Juli 2021 dilakukan pengambilan sampel lingkungan di rumah pasien cacar monyet dengan Mpox virus clade II West Africa (WA-MPXV) di Dallas, Texas, AS. Pengambilan sampel usap lingkungan dilakukan 15 hari setelah pasien meninggalkan rumah. Hasil menunjukkan kontaminasi DNA dari WA-MPXV yang luas dan berhasil mengisolasi virus hidup dari 7 sampel dalam kultur sel. Tidak ada perbedaan statistik (p = 0,94) antara positivitas dari DNA WA-MPXV pada permukaan berpori (9/10, 90%) vs permukaan tidak berpori (19/21, 90,5%), tetapi ada perbedaan signifikan (p<0,01) antara virus hidup yang terdeteksi dalam kultur permukaan berpori (6/10, 60%) vs. permukaan tidak berpori (21/1, 5%). Temuan ini menunjukkan bahwa permukaan berpori (misal, tempat tidur, pakaian) dapat menimbulkan risiko paparan MPXV lebih besar dibandingkan permukaan tidak berpori (misalnya logam, plastik). MPXV yang layak terdeteksi pada permukaan alat rumah tangga setidaknya setelah 15 hari. Namun, titer yang rendah menunjukkan potensi penularan tidak langsung yang terbatas.
REFERENSI
1. A. Akbulut, H. Akbulut, M. Ozguler, N. Inci and S. Yalcin, "Gastrointestinal Anthrax: A Case and Review of Literature," Advances in Infectious Diseases, Vol. 2 No. 3, 2012, pp. 67-71. doi: 10.4236/aid.2012.23010.
2. Angelo KM, Smith T, Camprubi-Ferrer D, et al. Epidemiological and clinical characteristics of patients with monkeypox in the GeoSentinel Network: a cross-sectional study. Lancet Infect Dis. 2022;23:196–206.
3. anthrax.pdf (centerforhealthsecurity.org)
4. Anthrax Infection Diagnosis & Testing | CDC
5. Antonio Alcamí. (2023). Pathogenesis of the circulating mpox virus and its adaptation to humans. Proceedings of the National Academy of Sciences. 2023. Vol. 120 No. 13.e2301662120. https://doi.org/10.1073/pnas.2301662120
6. Beeson, Amy & Styczynski, Ashley & Hutson, Christina & Whitehill, Florence & Angelo, Kristina & Minhaj, Faisal & Morgan, Clint & Ciampaglio, Kaitlyn & Reynolds, Mary & McCollum, Andrea & Guagliardo, Sarah Anne. (2023). Mpox respiratory transmission: the state of the evidence. The Lancet Microbe. 4. 10.1016/S2666-5247(23)00034-4.
7. Benites-Zapata VA, Ulloque-Badaracco JR, Alarcon-Braga EA, et al. Clinical features, hospitalisation and deaths associated with monkeypox: a systematic review and meta-analysis. Ann Clin Microbiol Antimicrob. 2022;21:36.
8. Li F, Shen X, Zhang H, Jin H, Zhang L, Lv B, Li W, Liang Z, Zhang X, Zhang D, Hou X, Pan Y, Kan B, Wang Q. Stability of mpox virus on different commonly contacted surfaces. J Med Virol. 2023 Dec;95(12):e29296. doi: 10.1002/jmv.29296. PMID: 38054540.
9. McCollum AM, Damon IK. Human monkeypox. Clin Infect Dis. 2014;58:260–267.
10. Morgan CN, Whitehill F, Doty JB, Schulte J, Matheny A, Stringer J, et al. Environmental Persistence of Monkeypox Virus on Surfaces in Household of Person with Travel-Associated Infection, Dallas, Texas, USA, 2021. Emerg Infect Dis. 2022;28(10):1982-1989. https://doi.org/10.3201/eid2810.221047
11. Patel A, Bilinska J, Tam JCH, et al. Clinical features and novel presentations of human monkeypox in a central London centre during the 2022 outbreak: descriptive case series. BMJ. 2022;378
12. Simonsen KA, Chatterjee K. Anthrax. [Updated 2023 Jul 25]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2023 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK507773/
13. Reda A, Abdelaal A, Brakat AM, Lashin BI, Abouelkheir M, Abdelazeem B, Rodriguez-Morales AJ, Sah R. Monkeypox viral detection in semen specimens of confirmed cases: A systematic review and meta-analysis. J Med Virol. 2023 Jan;95(1):e28250. doi: 10.1002/jmv.28250. Epub 2022 Nov 3. PMID: 36271741.
14. Tarin-Vicente EJ, Alemany A, Agud-Dios M, et al. Clinical presentation and virological assessment of confirmed human monkeypox virus cases in Spain: a prospective observational cohort study. Lancet. 2022;400:661–669.
15. Thornhill JP, Barkati S, Walmsley S, et al. Monkeypox virus infection in humans across 16 countries - April-June 2022. N Engl J Med. 2022;387:679–691.
16. Types of Anthrax | CDC
17. Zasada AA. Detection and Identification of Bacillus anthracis: From Conventional to Molecular Microbiology Methods. Microorganisms. 2020 Jan 16;8(1):125. doi: 10.3390/microorganisms8010125. PMID: 31963339; PMCID: PMC7023132.
Artikel Terbaru
Lihat >>
Pernah Merasa Seperti Jatuh Saat Mau Tidur? Kenali Hypnic Jerk
Lihat >>
Risiko Penyakit Infeksi dan Sistem Surveilan untuk Penanganan Pasca Bencana Gempa Bumi: Penguatan Peran Labkesmas dalam Deteksi Dini dan Respon KLB
Lihat >>
Mengulas Bacillus cereus: Karakteristik Patogen, Risiko Toksin, dan Manajemen Pencegahan KLB Pangan
Lihat >>
Campak pada Dewasa: Bukan Sekadar Penyakit Anak
Lihat >>
Selamat Hari Tuberkulosis Sedunia
Lihat >>
Puasa sebagai Intervensi Mikrobiologis : Dampaknya terhadap Kesehatan Usus
Lihat >>
PENGUMUMAN: Pelaksanaan Program Nasional Pemantapan Mutu Eksternal (PNPME) Tahun 2026
Lihat >>
Menelusuri Jejak Mikroba pada Kasus Keracunan Pangan
Lihat >>
Sakit Sendi Setelah Demam? Ini yang Perlu Kamu Tahu
Lihat >>
SI NIMBUS YANG MERESAHKAN
Lihat >>
Hipertensi: Si Pembunuh Senyap yang Sering Diabaikan
Lihat >>
Prinsip Pemenuhan Nutrisi untuk Pasien Tuberkulosis Dalam Rangka Hari TB Dunia
Lihat >>
Bekerja aman di Biosafety Cabinet (BSC)
Lihat >>
Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG)
Lihat >>
AWaRe
Lihat >>
Budaya Kerja Kemenkes
Lihat >>
Nyamuk Aedes pembawa Wolbachia untuk mencegah infeksi demam berdarah
Lihat >>
Kondisi medis, gejala, dan penatalaksanaan yang berhubungan dengan panas
Lihat >>
Menjawab Pertanyaan seputar Penularan Cacar Monyet
Lihat >>
Yang Harus Diketahui Tentang Antraks
Lihat >>
Listeriosis (Foodborne Disease)
Lihat >>
DETEKSI DNA HPV UNTUK SKRINING KANKER SERVIKS
Lihat >>
Kanker serviks dikarenakan virus HPV
Lihat >>
Infeksi manusia oleh virus flu burung A(H5)
Lihat >>
Deteksi Infeksi Laten Tuberkulosis (ILTB)
Lihat >>
Patogenesis dan diagnosis Mycobacterium leprae
Lihat >>
SEPUTAR HIV DAN PENCEGAHAN HIV: PROFILAKSIS PASKA PAJANAN
Lihat >>
Resistensi Antimikroba Terkait Perjalanan
Lihat >>
DETEKSI LABORATORIUM Legionella pneumophilla DARI SPESIMEN MANUSIA
Lihat >>
LEGIONELLOSIS
Lihat >>
BAKTERI DALAM AIR SUSU IBU (ASI)
Lihat >>
DEKONTAMINASI
Lihat >>
PENYAKIT MULUT DAN KUKU PADA HEWAN TERNAK
Lihat >>
PENYAKIT CACAR MONYET (MONKEY POX)
Lihat >>
PENYAKIT HEPATITIS PADA ANAK YANG TIDAK DIKETAHUI PENYEBABNYA
Lihat >>
WORLD TB DAY 24 Maret 2022 Invest to End TB. Save Lives
Lihat >>
KONDISI PASKA COVID
Lihat >>
VARIAN OMICRON, EPISODE BARU DARI SARS-CoV-2
Lihat >>
DISBARISME
Lihat >>
HIPOKSIA
Lihat >>
JENIS VAKSIN
Lihat >>
PRINSIP DASAR VAKSIN
Lihat >>
KESEHATAN PENERBANGAN
Lihat >>
PERHATIKAN: PEMAKAIAN MASKER YANG BISA MELINDUNGI DARI COVID-19
Lihat >>
DEMAM DENGUE & DEMAM BERDARAH DENGUE
Lihat >>
PENGUMPULAN SPESIMEN DAHAK YANG BENAR
Lihat >>
VARIAN VIRUS SARS CoV-2
Lihat >>
VIRUS NIPAH (Niv)
Lihat >>
SEPUTAR FAKTA TENTANG VAKSIN COVID-19
Lihat >>
TRANSMISI VIRUS SARS-CoV-2
Lihat >>
BENARKAH ADA KASUS REINFEKSI COVID-19 ?
Lihat >>
STOP PENYEBARAN “SUPERBUG” GUNAKAN ANTIBIOTIK DENGAN BIJAK
Lihat >>
IMPACT OF TB LABORATORY DIAGNOSIS IN COVID-19 PANDEMIC
Lihat >>
Pemeriksaan usap dubur (swab rektal) untuk penjamah makanan
Lihat >>
DETEKSI BAKTERI RESISTEN
Lihat >>
Penerimaan Karyawan Non PNS Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya Tahun 2020
Lihat >>
HERD IMMUNITY
Lihat >>
MENINGITIS BAKTERI
Lihat >>
HARI TBC SEDUNIA
Lihat >>
PANDEMI COVID-19
Lihat >>
Fakta terbaru : Pneumonia oleh Corona Virus (2019-nCoV)
Lihat >>
Bahaya Tersembunyi Salmonella Enterocolitis Keracunan makanan akibat bakteri Salmonella
Lihat >>
Indonesia Masuki Periode Aging Population
Lihat >>
PENANGANAN PERTAMA DEMAM ANAK
Lihat >>
Hoax Imunisasi Masih Beredar
Lihat >>
WASPADALAH, DIFTERI MASIH ADA !
Lihat >>
Waspada, Filariasis Ditularkan Melalui Semua Jenis Nyamuk
Lihat >>
Satu Gigitan Anjing Bisa Renggut Nyawa
Lihat >>
Hari Santri 2018: ''Menag Ajak Santri Tebarkan Kedamaian di Sosial Media''
Lihat >>
Susu Kental Manis Bukan untuk Dikonsumsi Setiap Hari
Lihat >>
Hari Keluarga Nasional XXV Tahun 2018: Cinta Keluarga, Cinta Terencana
Lihat >>
Kemenkes: Kecanduan Game Adalah Gangguan Perilaku
Lihat >>
Pemberitahuan PNPME 2018
Lihat >>
Pengumuman Penutupan Pendaftaran PME Kimia Klinik & Mikrobiologi BTA
@bblabkesmas.surabaya
BBLKMSurabaya
BBLKMSurabaya