VIRUS NIPAH (Niv)
02 Maret 2021 / By Administrator,
Oleh dr. Titiek Sulistyowati, M. Ked. Klin, Sp. MK
Isu tentang virus Nipah (Niv) makin santer terdengar dan disebutkan akan menjadi pandemik berikutnya setelah pandemik COVID-19 yang mengancam dunia. Apakah benar tentang isu tersebut? Mungkin lebih baik kita mengetahui dulu apa itu virus Nipah dan karakteristiknya.
Virus Nipah (Niv) merupakan virus zoonosis yang dapat menyebar baik pada hewan maupun manusia. Kelelawar buah, disebut juga fruit bats atau flying foxes (genus Pteropus) adalah reservoir dari Niv pada alam. Niv juga diketahui sebagai penyebab penyakit pada babi dan manusia. Niv adalah anggota dari family Paramyxoviridae, genus Henipavirus, spesies Nipah henipavirus. Niv secara genetik berkaitan dengan virus Hendra yaitu jenis lain dari Henipavirus yang dibawa oleh kelelawar. Transmisi atau penularan ke manusia dapat terjadi melalui kontak dekat dengan hewan terinfeksi atau cairan tubuh (air liur atau air kencing). Wabah atau kejadian luar biasa (KLB) Niv ini terjadi hampir setiap tahun di bagian wilayah Asia, terutama Bangladesh dan India. Niv ditemukan pertama kali tahun 1999, KLB pada babi, orang Malaysia dan Singapura. KLB ini menyebabkan 300 kasus infeksi pada manusia dan lebih dari 100 angka kematian. Banyak babi yang dibinasakan untuk membantu kontrol KLB.
Niv menyebabkan infeksi saluran napas akut dan ensefalitis (keradangan otak). Penyakit tersebut bervariasi mulai dari tanpa gejala, ringan sampai dengan berat, bahkan kematian. Gejala akan muncul pada hari ke 4-14 setelah terpapar oleh virus. Gejala awal di hari ke 3-14 adalah demam, sakit kepala, muntah dan gejala pernapasan seperti batuk, nyeri telan, dan sesak. Fase pembengkakan dan keradangan otak (ensefalitis) dapat terjadi dengan gejala berupa kantuk, disorientasi dan kebingungan mental, yang dapat berkembang cepat menjadi kejang dan koma dalam waktu 24-48 jam. Kematian terjadi pada 40-75% kasus. Efek samping jangka panjang pada orang yang selamat dari infeksi Niv yang dilaporkan antara lain kejang persisten atau menetap dan perubahan kepribadian.
Infeksi Niv dapat didiagnosis baik selama sakit maupun setelah pemulihan. Selama fase akut penyakit, tes laboratorium yang digunakan adalah pemeriksaan Real Time – Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) dari usap tenggorokan dan hidung, cairan otak (serebrospinalis), urin (air kencing) dan darah. Kemudian dalam perjalanan penyakit dan setelah pemulihan, pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah deteksi antibodi dengan metode Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA). Diagnosis dini infeksi Niv menjadi tantangan karena gejala awal penyakit tidak spesifik. Namun, deteksi dan diagnosis dini sangat penting untuk meningkatkan angka harapan hidup di antara individu yang terinfeksi, untuk mencegah penularan ke orang lain, dan untuk mengelola upaya tanggap darurat wabah atau KLB. Niv harus dipertimbangkan untuk orang dengan gejala yang sesuai, riwayat kontak dengan binatang kelelawar dan babi yang sakit, dan riwayat dari daerah yang sering wabah Niv.
Pengobatan infeksi Niv ini masih belum ada. Terapi terbatas pada perawatan suportif seperti istirahat atau tirah baring, hidrasi, dan pengurangan gejala. Berdasarkan data, para peneliti sedang mengembangkan dan mengevaluasi perawatan imunoterapi (terapi antibodi monoklonal). Salah satu antibodi monoklonal (m102.4) telah menyelesaikan uji klinis fase 1. Selain itu, pengobatan antivirus Remdesivir terbukti efektif pada primata bukan manusia ketika digunakan sebagai profilaksis paska pajanan dan mungkin melengkapi pengobatan imunoterapi. Antivirus Ribavirin digunakan untuk mengobati sejumlah kecil pada awal wabah Niv di Malaysia, tetapi efikasi obat ini pada manusia masih tidak jelas.
Untuk pencegahan infeksi Niv pada manusia, maka orang yang berada di daerah wabah Niv yaitu Bangladesh, Malaysia, India dan Singapura harus selalu menjalankan protokol kesehatan antara lain (1) praktik cuci tangan secara teratur dengan sabun dan air, (2) menghindari kontak dengan kelelawar atau babi yang sakit, (3) menghindari area tempat kelelawar bertengger, (4) menghindari konsumsi nira kurma mentah, (5) menghindari konsumsi buah-buahan yang mungkin terkontaminasi kelelawar, (6) menghindari kontak dengan darah atau cairan tubuh siapapun yang diketahui terinfeksi Niv. Praktik kontrol infeksi standar di rumah sakit juga harus diterapkan secara ketat karena dapat membantu pencegahan penularan dari manusia ke manusia jika ada pasien yang terkonfirmasi atau dicurigai terinfeksi Niv.
Lokasi geografis lain yang mungkin beresiko terhadap wabah atau KLB Niv di masa mendatang, seperti kawasan tempat tinggal kelelawar buah. Saat ini kelelawar buah ditemukan di negara Kamboja, Indonesia, Madagaskar, Filipina dan Thailand. Orang yang tinggal atau mengunjungi daerah ini harus mempertimbangkan tindakan pencegahan sesuai protokol kesehatan. Upaya pencegahan lebih luas meliputi (1) meningkatkan pengawasan hewan dan manusia di daerah Niv berada, (2) meningkatkan penelitian tentang ekologi kelelawar buah untuk memahami habitat dan bagaimana mereka menyebarkan virus ke hewan dan manusia lain, (3) evaluasi teknologi atau metode baru untuk meminimalkan penyebaran virus dalam populasi kelelawar, (4) meningkatkan kapasitas dan kapabilitas alat untuk deteksi virus sejak dini di masyarakat dan peternakan, (5) memperkuat protokol untuk praktik pengendalian infeksi standar untuk mencegah penyebaran dari orang ke orang, (6) meningkatkan kesadaran tentang tanda, gejala dan risiko Niv pada populasi berisiko tinggi karena lokasi geografis, riwayat kontak dan bekerja di lingkungan fasilitas kesehatan.
Sumber : Saduran dari WHO dan CDC
Artikel Terbaru
Lihat >>
Pernah Merasa Seperti Jatuh Saat Mau Tidur? Kenali Hypnic Jerk
Lihat >>
Risiko Penyakit Infeksi dan Sistem Surveilan untuk Penanganan Pasca Bencana Gempa Bumi: Penguatan Peran Labkesmas dalam Deteksi Dini dan Respon KLB
Lihat >>
Mengulas Bacillus cereus: Karakteristik Patogen, Risiko Toksin, dan Manajemen Pencegahan KLB Pangan
Lihat >>
Campak pada Dewasa: Bukan Sekadar Penyakit Anak
Lihat >>
Selamat Hari Tuberkulosis Sedunia
Lihat >>
Puasa sebagai Intervensi Mikrobiologis : Dampaknya terhadap Kesehatan Usus
Lihat >>
PENGUMUMAN: Pelaksanaan Program Nasional Pemantapan Mutu Eksternal (PNPME) Tahun 2026
Lihat >>
Menelusuri Jejak Mikroba pada Kasus Keracunan Pangan
Lihat >>
Sakit Sendi Setelah Demam? Ini yang Perlu Kamu Tahu
Lihat >>
SI NIMBUS YANG MERESAHKAN
Lihat >>
Hipertensi: Si Pembunuh Senyap yang Sering Diabaikan
Lihat >>
Prinsip Pemenuhan Nutrisi untuk Pasien Tuberkulosis Dalam Rangka Hari TB Dunia
Lihat >>
Bekerja aman di Biosafety Cabinet (BSC)
Lihat >>
Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG)
Lihat >>
AWaRe
Lihat >>
Budaya Kerja Kemenkes
Lihat >>
Nyamuk Aedes pembawa Wolbachia untuk mencegah infeksi demam berdarah
Lihat >>
Kondisi medis, gejala, dan penatalaksanaan yang berhubungan dengan panas
Lihat >>
Menjawab Pertanyaan seputar Penularan Cacar Monyet
Lihat >>
Yang Harus Diketahui Tentang Antraks
Lihat >>
Listeriosis (Foodborne Disease)
Lihat >>
DETEKSI DNA HPV UNTUK SKRINING KANKER SERVIKS
Lihat >>
Kanker serviks dikarenakan virus HPV
Lihat >>
Infeksi manusia oleh virus flu burung A(H5)
Lihat >>
Deteksi Infeksi Laten Tuberkulosis (ILTB)
Lihat >>
Patogenesis dan diagnosis Mycobacterium leprae
Lihat >>
SEPUTAR HIV DAN PENCEGAHAN HIV: PROFILAKSIS PASKA PAJANAN
Lihat >>
Resistensi Antimikroba Terkait Perjalanan
Lihat >>
DETEKSI LABORATORIUM Legionella pneumophilla DARI SPESIMEN MANUSIA
Lihat >>
LEGIONELLOSIS
Lihat >>
BAKTERI DALAM AIR SUSU IBU (ASI)
Lihat >>
DEKONTAMINASI
Lihat >>
PENYAKIT MULUT DAN KUKU PADA HEWAN TERNAK
Lihat >>
PENYAKIT CACAR MONYET (MONKEY POX)
Lihat >>
PENYAKIT HEPATITIS PADA ANAK YANG TIDAK DIKETAHUI PENYEBABNYA
Lihat >>
WORLD TB DAY 24 Maret 2022 Invest to End TB. Save Lives
Lihat >>
KONDISI PASKA COVID
Lihat >>
VARIAN OMICRON, EPISODE BARU DARI SARS-CoV-2
Lihat >>
DISBARISME
Lihat >>
HIPOKSIA
Lihat >>
JENIS VAKSIN
Lihat >>
PRINSIP DASAR VAKSIN
Lihat >>
KESEHATAN PENERBANGAN
Lihat >>
PERHATIKAN: PEMAKAIAN MASKER YANG BISA MELINDUNGI DARI COVID-19
Lihat >>
DEMAM DENGUE & DEMAM BERDARAH DENGUE
Lihat >>
PENGUMPULAN SPESIMEN DAHAK YANG BENAR
Lihat >>
VARIAN VIRUS SARS CoV-2
Lihat >>
VIRUS NIPAH (Niv)
Lihat >>
SEPUTAR FAKTA TENTANG VAKSIN COVID-19
Lihat >>
TRANSMISI VIRUS SARS-CoV-2
Lihat >>
BENARKAH ADA KASUS REINFEKSI COVID-19 ?
Lihat >>
STOP PENYEBARAN “SUPERBUG” GUNAKAN ANTIBIOTIK DENGAN BIJAK
Lihat >>
IMPACT OF TB LABORATORY DIAGNOSIS IN COVID-19 PANDEMIC
Lihat >>
Pemeriksaan usap dubur (swab rektal) untuk penjamah makanan
Lihat >>
DETEKSI BAKTERI RESISTEN
Lihat >>
Penerimaan Karyawan Non PNS Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya Tahun 2020
Lihat >>
HERD IMMUNITY
Lihat >>
MENINGITIS BAKTERI
Lihat >>
HARI TBC SEDUNIA
Lihat >>
PANDEMI COVID-19
Lihat >>
Fakta terbaru : Pneumonia oleh Corona Virus (2019-nCoV)
Lihat >>
Bahaya Tersembunyi Salmonella Enterocolitis Keracunan makanan akibat bakteri Salmonella
Lihat >>
Indonesia Masuki Periode Aging Population
Lihat >>
PENANGANAN PERTAMA DEMAM ANAK
Lihat >>
Hoax Imunisasi Masih Beredar
Lihat >>
WASPADALAH, DIFTERI MASIH ADA !
Lihat >>
Waspada, Filariasis Ditularkan Melalui Semua Jenis Nyamuk
Lihat >>
Satu Gigitan Anjing Bisa Renggut Nyawa
Lihat >>
Hari Santri 2018: ''Menag Ajak Santri Tebarkan Kedamaian di Sosial Media''
Lihat >>
Susu Kental Manis Bukan untuk Dikonsumsi Setiap Hari
Lihat >>
Hari Keluarga Nasional XXV Tahun 2018: Cinta Keluarga, Cinta Terencana
Lihat >>
Kemenkes: Kecanduan Game Adalah Gangguan Perilaku
Lihat >>
Pemberitahuan PNPME 2018
Lihat >>
Pengumuman Penutupan Pendaftaran PME Kimia Klinik & Mikrobiologi BTA
@bblabkesmas.surabaya
BBLKMSurabaya
BBLKMSurabaya