STOP PENYEBARAN “SUPERBUG” GUNAKAN ANTIBIOTIK DENGAN BIJAK
03 November 2020 / By Administrator,
dr. Titiek Sulistyowati, MKK, Sp. MK
BBLK Surabaya
Apa itu superbug ? Yaitu jenis bakteri yang kebal terhadap beberapa antibiotik. Setiap tahun bakteri superbug ini menginfeksi lebih dari 2 juta manusia di seluruh dunia dan menyebabkan kematian kurang lebih 23.000 orang menurut data CDC. Bahkan, setiap 15 menit, orang di Amerika Serikat meninggal dunia dikarenakan bakteri superbug. Beberapa bakteri kebal antibiotik antara lain Staphylococcus aureus, Mycobacyerium tuberculosis complex, Neisseria gonorhoeae, Escherichia coli, dll yang merupakan sedikit dari bakteri superbug yang harus kita hadapi saat ini.
Antibiotik merupakan obat yang telah ditemukan para ilmuwan sejak zaman dulu untuk mengatasi dan membunuh bakteri penyebab sakit dan infeksi. Akan tetapi, penggunaan antibiotik ini makin meluas dan sudah melebihi ekspektasi penggunaan bijak dan rasional. Stigma ini makin berkembang seiring berjalan waktu sehingga antibiotik dianggap sebagai obat ketika demam, obat ketika batuk pilek, obat untuk pencegahan infeksi saat akan operasi, obat saat jatuh dan terluka, obat untuk binatang ternak sehingga aman dari infeksi dan mempercepat pertumbuhan, obat untuk tanaman, dll. Antibiotik sudah keluar dari fungsi awal dan mudah dibeli tanpa resep dari dokter. Beberapa penyakit yang disebabkan oleh virus pun juga selalu dianggap sembuh jika diberikan antibiotik (nb = antibiotik adalah obat pembunuh bakteri, bukan virus). Selain digunakan bebas untuk mengobati infeksi pada manusia, antibiotik juga digunakan oleh masyarakat pada bidang peternakan, pertanian dan perikanan untuk pencegahan penyakit dan merangsang pertumbuhan. Penggunaan antibiotik yang salah dan berlebihan inilah yang menyebabkan karakter bakteri berubah dari sifat yang biasa menjadi luar biasa. Bakteri akan menolak antibiotik tersebut dengan berbagai macam mekanisme sehingga antibiotik tersebut sudah tidak mampu membunuh bakteri. Bakteri yang kebal obat tersebut akan makin berkembang dan bahkan menyebar menginfeksi manusia dengan karakter yang lebih infeksius dan susah untuk diatasi. Penggunaan antibiotik yang tidak bijak dan rasional juga akan membunuh banyak bakteri flora normal atau bakteri yang memang hidup untuk kebaikan dan keuntungan manusia sehingga justru akan menurunkan sistem imun tubuh seperti bakteri kulit, mulut, usus, dll.
Salah satu bakteri superbug, contoh MRSA yaitu Methicilline Resistant Staphylococcus aureus merupakan bakteri yang sudah tidak merespon antibiotik methicillin dan antibiotik lain yang berkaitan. MRSA dapat menyebabkan infeksi kulit dan kasus serius seperti pneumonia atau infeksi aliran darah. Infeksi oleh MRSA dapat berupa satu atau lebih bintil merah berisi air atau nanah, kemudian menjadi bengkak, nyeri dan hangat pada perabaan. Infeksi MRSA dapat menyebar ke orang lain melalui luka terbuka baik karena trauma, gigitan, cakaran atau lainnya yang kontak dengan bakteri tersebut. Beberapa orang sembuh dari infeksi MRSA, tetapi beberapa kasus mengalami kegawatan sehingga membutuhkan bantuan kedaruratan. CDC memperkirakan lebih dari 80.000 infeksi agresif oleh MRSA dan 11.000 berkaitan dengan kematian setiap tahun di Amerika Serikat. Bakteri MRSA dulu hanya menjadi masalah di rumah sakit atau fasilitas Kesehatan lain, tetapi kasus MRSA mulai bergeser ke komunitas. Saat antibiotik diperlukan, dokter biasanya akan memberikan resep antibiotik yang paling ringan sebelum memberikan terapi atau pengobatan yang lebih agresif seperti antiotik vancomycin. Beberapa antibiotik baru bisa jadi lebih toksik dan lebih mahal dibandingkan antibiotik lama. Bahkan, bakteri akan mengembangkan mekanisme resistensi ke antibiotik baru. Dalam beberapa tahun, beberapa superbug, seperti Enterococci sudah mengalami resistensi terhadap obat vancomisin, disebut sebagai Vancomycin Resistance Enterococci (VRE).
Untuk mengatasi masalah resistensi dari superbug ini, maka cara untuk menghambat bakteri berbahaya yang dapat dilakukan antara lain:
- Cuci tangan sesering mungkin dengan air mengalir dan sabun atau gunakan hand sanitizer berbahan dasar alkohol.
- Jika sakit, maka segera hubungi atau konsultasikan dengan dokter untuk memahami penyakit dan diagnosis. Diskusikan apakah perlu penggunaan antibiotik atau tidak.
- Jika diperlukan antbiotik, maka minum sesuai dengan anjuran dokter baik cara dan waktu penggunaan antibiotik. Jangan simpan antibiotik untuk periode sakit berikutnya atau jangan dibagi dengan orang lain karena penyakit belum tentu sama.
- Jaga kesehatan dan keseimbangan gaya hidup termasuk diet yang tepat, olahraga, dan higieni sanitasi yang baik untuk mencegah penyakit sehingga terhindar dari penggunaan antibiotik yang salah atau berlebihan.
Referensi : https://newsinhealth.nih.gov/2014/02/stop-spread-superbugs
Artikel Terbaru
Lihat >>
Pernah Merasa Seperti Jatuh Saat Mau Tidur? Kenali Hypnic Jerk
Lihat >>
Risiko Penyakit Infeksi dan Sistem Surveilan untuk Penanganan Pasca Bencana Gempa Bumi: Penguatan Peran Labkesmas dalam Deteksi Dini dan Respon KLB
Lihat >>
Mengulas Bacillus cereus: Karakteristik Patogen, Risiko Toksin, dan Manajemen Pencegahan KLB Pangan
Lihat >>
Campak pada Dewasa: Bukan Sekadar Penyakit Anak
Lihat >>
Selamat Hari Tuberkulosis Sedunia
Lihat >>
Puasa sebagai Intervensi Mikrobiologis : Dampaknya terhadap Kesehatan Usus
Lihat >>
PENGUMUMAN: Pelaksanaan Program Nasional Pemantapan Mutu Eksternal (PNPME) Tahun 2026
Lihat >>
Menelusuri Jejak Mikroba pada Kasus Keracunan Pangan
Lihat >>
Sakit Sendi Setelah Demam? Ini yang Perlu Kamu Tahu
Lihat >>
SI NIMBUS YANG MERESAHKAN
Lihat >>
Hipertensi: Si Pembunuh Senyap yang Sering Diabaikan
Lihat >>
Prinsip Pemenuhan Nutrisi untuk Pasien Tuberkulosis Dalam Rangka Hari TB Dunia
Lihat >>
Bekerja aman di Biosafety Cabinet (BSC)
Lihat >>
Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG)
Lihat >>
AWaRe
Lihat >>
Budaya Kerja Kemenkes
Lihat >>
Nyamuk Aedes pembawa Wolbachia untuk mencegah infeksi demam berdarah
Lihat >>
Kondisi medis, gejala, dan penatalaksanaan yang berhubungan dengan panas
Lihat >>
Menjawab Pertanyaan seputar Penularan Cacar Monyet
Lihat >>
Yang Harus Diketahui Tentang Antraks
Lihat >>
Listeriosis (Foodborne Disease)
Lihat >>
DETEKSI DNA HPV UNTUK SKRINING KANKER SERVIKS
Lihat >>
Kanker serviks dikarenakan virus HPV
Lihat >>
Infeksi manusia oleh virus flu burung A(H5)
Lihat >>
Deteksi Infeksi Laten Tuberkulosis (ILTB)
Lihat >>
Patogenesis dan diagnosis Mycobacterium leprae
Lihat >>
SEPUTAR HIV DAN PENCEGAHAN HIV: PROFILAKSIS PASKA PAJANAN
Lihat >>
Resistensi Antimikroba Terkait Perjalanan
Lihat >>
DETEKSI LABORATORIUM Legionella pneumophilla DARI SPESIMEN MANUSIA
Lihat >>
LEGIONELLOSIS
Lihat >>
BAKTERI DALAM AIR SUSU IBU (ASI)
Lihat >>
DEKONTAMINASI
Lihat >>
PENYAKIT MULUT DAN KUKU PADA HEWAN TERNAK
Lihat >>
PENYAKIT CACAR MONYET (MONKEY POX)
Lihat >>
PENYAKIT HEPATITIS PADA ANAK YANG TIDAK DIKETAHUI PENYEBABNYA
Lihat >>
WORLD TB DAY 24 Maret 2022 Invest to End TB. Save Lives
Lihat >>
KONDISI PASKA COVID
Lihat >>
VARIAN OMICRON, EPISODE BARU DARI SARS-CoV-2
Lihat >>
DISBARISME
Lihat >>
HIPOKSIA
Lihat >>
JENIS VAKSIN
Lihat >>
PRINSIP DASAR VAKSIN
Lihat >>
KESEHATAN PENERBANGAN
Lihat >>
PERHATIKAN: PEMAKAIAN MASKER YANG BISA MELINDUNGI DARI COVID-19
Lihat >>
DEMAM DENGUE & DEMAM BERDARAH DENGUE
Lihat >>
PENGUMPULAN SPESIMEN DAHAK YANG BENAR
Lihat >>
VARIAN VIRUS SARS CoV-2
Lihat >>
VIRUS NIPAH (Niv)
Lihat >>
SEPUTAR FAKTA TENTANG VAKSIN COVID-19
Lihat >>
TRANSMISI VIRUS SARS-CoV-2
Lihat >>
BENARKAH ADA KASUS REINFEKSI COVID-19 ?
Lihat >>
STOP PENYEBARAN “SUPERBUG” GUNAKAN ANTIBIOTIK DENGAN BIJAK
Lihat >>
IMPACT OF TB LABORATORY DIAGNOSIS IN COVID-19 PANDEMIC
Lihat >>
Pemeriksaan usap dubur (swab rektal) untuk penjamah makanan
Lihat >>
DETEKSI BAKTERI RESISTEN
Lihat >>
Penerimaan Karyawan Non PNS Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya Tahun 2020
Lihat >>
HERD IMMUNITY
Lihat >>
MENINGITIS BAKTERI
Lihat >>
HARI TBC SEDUNIA
Lihat >>
PANDEMI COVID-19
Lihat >>
Fakta terbaru : Pneumonia oleh Corona Virus (2019-nCoV)
Lihat >>
Bahaya Tersembunyi Salmonella Enterocolitis Keracunan makanan akibat bakteri Salmonella
Lihat >>
Indonesia Masuki Periode Aging Population
Lihat >>
PENANGANAN PERTAMA DEMAM ANAK
Lihat >>
Hoax Imunisasi Masih Beredar
Lihat >>
WASPADALAH, DIFTERI MASIH ADA !
Lihat >>
Waspada, Filariasis Ditularkan Melalui Semua Jenis Nyamuk
Lihat >>
Satu Gigitan Anjing Bisa Renggut Nyawa
Lihat >>
Hari Santri 2018: ''Menag Ajak Santri Tebarkan Kedamaian di Sosial Media''
Lihat >>
Susu Kental Manis Bukan untuk Dikonsumsi Setiap Hari
Lihat >>
Hari Keluarga Nasional XXV Tahun 2018: Cinta Keluarga, Cinta Terencana
Lihat >>
Kemenkes: Kecanduan Game Adalah Gangguan Perilaku
Lihat >>
Pemberitahuan PNPME 2018
Lihat >>
Pengumuman Penutupan Pendaftaran PME Kimia Klinik & Mikrobiologi BTA
@bblabkesmas.surabaya
BBLKMSurabaya
BBLKMSurabaya