Listeriosis (Foodborne Disease)
07 Juni 2023 / By Administrator,
Hari Keamanan Pangan Sedunia : 7 Juni 2023
Oleh dr. Titiek Sulistyowati, M. Ked. Klin, Sp. MK (K)
Latar Belakang
Listeriosis merupakan salah satu penyakit yang berasal dari makanan (foodborne disease) dan disebabkan oleh bakteri Listeria monocytogenes. Sebelumnya pernah ada kasus keracunan makanan yaitu apel akibat L. monocytogenes di Amerika tahun 2015 dan keracunan jamur enoki di Korea tahun 2020. Data CDC memperkirakan bahwa 1.600 orang terkena listeriosis setiap tahun dan sekitar 260 orang meninggal. Infeksi ini kemungkinan besar menyerang wanita hamil dan bayi baru lahir, orang dewasa berusia 65 tahun atau lebih, dan orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah. Meskipun jumlah kasus listeriosis kecil, tingginya angka kematian akibat infeksi ini menjadikannya masalah kesehatan masyarakat yang signifikan.
Transmisi
L. monocytogenes banyak ditemukan di tanah, air dan saluran pencernaan hewan. Sayuran bisa terkontaminasi bakteri tersebut melalui tanah atau pupuk kandang. Makanan siap saji juga dapat terkontaminasi selama pemrosesan dan bakteri dapat berkembang biak hingga tingkat yang berbahaya selama distribusi dan penyimpanan. Tidak seperti bakteri penyebab foodborne disease lain, L. monocytogenes dapat bertahan dan berkembang biak pada suhu rendah atau dingin yang biasanya ditemukan di lemari es. Jaluran penularan utama adalah dengan mengonsumsi makanan yang terkontaminasi L. monocytogenes dengan jumlah banyak. Infeksi juga bisa menular antar manusia, terutama dari ibu hamil ke bayi yang dikandungnya.
Makanan yang paling sering dikaitkan dengan listeriosis antara lain makanan yang disimpan lama dalam lemari es (L. monocytogenes dapat tumbuh dalam makanan dengan jumlah signifikan pada suhu lemari es jika diberikan waktu yang cukup); dan makanan yang dikonsumsi tanpa pengolahan lebih lanjut (L. monocytogenes dalam makanan akan mati ketika dimasak dengan baik).
Manifestasi klinis, diagnosis dan pengobatan
Ada dua jenis utama listeriosis yaitu bentuk non invasif dan bentuk invasif.
1. Listeriosis non invasif (febrile listerial gastroenteritis) adalah bentuk penyakit ringan yang umumnya menyerang orang sehat. Gejala klinis meliputi diare, demam, sakit kepala, dan mialgia (nyeri otot). Masa inkubasi singkat (beberapa hari). Gejala penyakit usus biasanya dimulai dalam waktu 24 jam setelah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi Listeria dan biasanya berlangsung 1-3 hari. Wabah penyakit ini umumnya melibatkan konsumsi makanan yang mengandung L. monocytogenes dosis tinggi.
2. Listeriosis invasif adalah bentuk penyakit yang lebih parah dan menyerang kelompok masyarakat tertentu yang berisiko tinggi dengan penyakit komorbid dan sistem imun rendah termasuk wanita hamil, lanjut usia, dan bayi. Bentuk penyakit ini ditandai dengan gejala parah dan angka kematian yang tinggi (20-30%). Gejalanya antara lain demam, mialgia (nyeri otot), perubahan status mental, septikemia, meningitis, ensefalitis, abortus spontan. Masa inkubasi adalah 1-2 minggu, tetapi dapat bervariasi antara beberapa hari hingga 90 hari.
Diagnosis awal listeriosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan deteksi bakteri pada darah, cairan serebrospinal (CSF), mekonium bayi baru lahir (atau janin dalam kasus aborsi), serta dari feses, muntahan, makanan atau pakan ternak. L. monocytogenes adalah bakteri batang Gram positif, fakultatif intraseluler yang bersifat katalase positif dan beta-hemolitik bila ditumbuhkan pada media agar darah. Berbagai metode deteksi, termasuk pemeriksaan PCR bisa digunakan untuk diagnosis listeriosis pada manusia. Selama kehamilan, kultur darah dan plasenta adalah cara paling andal untuk mengetahui apakah gejalanya disebabkan oleh listeriosis.
Listeriosis dapat diobati jika dilakukan diagnosis sejak dini. Antibiotik digunakan untuk mengobati gejala parah seperti meningitis. Jika infeksi terjadi selama kehamilan, pemberian antibiotik segera akan mencegah infeksi pada janin atau bayi baru lahir. Pengobatan antibiotik pilihan adalah ampisilin atau penisilin G intravena (IV). Antibiotik alternatif adalah trimethoprim-sulfamethoxazole jika pasien memiliki alergi penisilin. L. monocytogenes secara inheren resisten terhadap semua antibiotik sefalosporin.
Metode pengendalian
Pengendalian L. monocytogenes diperlukan di semua tahapan rantai makanan dan diperlukan pendekatan terpadu untuk mencegah perbanyakan bakteri ini pada produk akhir makanan. Tantangan pengendalian cukup besar karena bakteri ini ada dimanapun, resistensi tinggi terhadap metode pengawetan umum, seperti pengasinan, pengasapan atau pengasaman makanan, serta kemampuan bertahan hidup dan tumbuh pada suhu pendingin (sekitar 5 °C). Semua sektor dalam rantai pangan harus Menerapkan Praktik Higienis yang Baik dan Praktik Manufaktur yang Baik serta menerapkan sistem manajemen keamanan pangan berdasarkan prinsip Titik Kendali Kritis Analisis Bahaya. Produsen makanan juga harus melakukan pengujian mikrobiologi untuk memvalidasi dan memverifikasi berfungsinya prosedur keamanan dan kebersihan makanan. Selain itu, produsen makanan yang terkait dengan risiko Listeria juga harus melakukan pemantauan lingkungan.
Pencegahan
L. monocytogenes dalam makanan bisa mati melalui pasteurisasi dan proses pemasakan. Secara umum, pedoman pencegahan listeriosis serupa dengan pedoman lain untuk mencegah foodborne disease. Hal ini termasuk mempraktikkan penanganan makanan yang aman dengan mengikuti Lima Kunci Makanan Aman dari WHO:
1.Jaga kebersihan
2.Pisahkan makanan mentah dan matang
3.Masak sampai matang
4.Simpan makanan pada suhu aman
5.Gunakan air dan bahan baku aman.
Orang-orang dalam kelompok risiko tinggi harus:
1.Hindari konsumsi produk susu yang terbuat dari susu yang tidak dipasteurisasi; daging deli dan produk daging siap saji seperti sosis, ham, olesan daging, serta makanan laut yang diasap dingin (seperti salmon asap)
2.Baca dan ikuti dengan cermat masa simpan dan suhu penyimpanan yang tertera pada label produk.
Penting untuk mematuhi aturan umur simpan dan suhu penyimpanan yang tertulis pada label makanan siap saji untuk memastikan bahwa bakteri yang berpotensi ada dalam makanan tersebut tidak berkembang biak dalam jumlah yang membahayakan. Memasak sebelum makan adalah cara lain yang sangat efektif untuk membunuh bakteri.
Daftar Pustaka
1. Listeriosis (who.int)
2. Symptoms | Listeria | CDC
3. Rogalla D, Bomar PA. Listeria Monocytogenes. [Updated 2023 Jul 4]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2023 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK534838/
Artikel Terbaru
Lihat >>
Pernah Merasa Seperti Jatuh Saat Mau Tidur? Kenali Hypnic Jerk
Lihat >>
Risiko Penyakit Infeksi dan Sistem Surveilan untuk Penanganan Pasca Bencana Gempa Bumi: Penguatan Peran Labkesmas dalam Deteksi Dini dan Respon KLB
Lihat >>
Mengulas Bacillus cereus: Karakteristik Patogen, Risiko Toksin, dan Manajemen Pencegahan KLB Pangan
Lihat >>
Campak pada Dewasa: Bukan Sekadar Penyakit Anak
Lihat >>
Selamat Hari Tuberkulosis Sedunia
Lihat >>
Puasa sebagai Intervensi Mikrobiologis : Dampaknya terhadap Kesehatan Usus
Lihat >>
PENGUMUMAN: Pelaksanaan Program Nasional Pemantapan Mutu Eksternal (PNPME) Tahun 2026
Lihat >>
Menelusuri Jejak Mikroba pada Kasus Keracunan Pangan
Lihat >>
Sakit Sendi Setelah Demam? Ini yang Perlu Kamu Tahu
Lihat >>
SI NIMBUS YANG MERESAHKAN
Lihat >>
Hipertensi: Si Pembunuh Senyap yang Sering Diabaikan
Lihat >>
Prinsip Pemenuhan Nutrisi untuk Pasien Tuberkulosis Dalam Rangka Hari TB Dunia
Lihat >>
Bekerja aman di Biosafety Cabinet (BSC)
Lihat >>
Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG)
Lihat >>
AWaRe
Lihat >>
Budaya Kerja Kemenkes
Lihat >>
Nyamuk Aedes pembawa Wolbachia untuk mencegah infeksi demam berdarah
Lihat >>
Kondisi medis, gejala, dan penatalaksanaan yang berhubungan dengan panas
Lihat >>
Menjawab Pertanyaan seputar Penularan Cacar Monyet
Lihat >>
Yang Harus Diketahui Tentang Antraks
Lihat >>
Listeriosis (Foodborne Disease)
Lihat >>
DETEKSI DNA HPV UNTUK SKRINING KANKER SERVIKS
Lihat >>
Kanker serviks dikarenakan virus HPV
Lihat >>
Infeksi manusia oleh virus flu burung A(H5)
Lihat >>
Deteksi Infeksi Laten Tuberkulosis (ILTB)
Lihat >>
Patogenesis dan diagnosis Mycobacterium leprae
Lihat >>
SEPUTAR HIV DAN PENCEGAHAN HIV: PROFILAKSIS PASKA PAJANAN
Lihat >>
Resistensi Antimikroba Terkait Perjalanan
Lihat >>
DETEKSI LABORATORIUM Legionella pneumophilla DARI SPESIMEN MANUSIA
Lihat >>
LEGIONELLOSIS
Lihat >>
BAKTERI DALAM AIR SUSU IBU (ASI)
Lihat >>
DEKONTAMINASI
Lihat >>
PENYAKIT MULUT DAN KUKU PADA HEWAN TERNAK
Lihat >>
PENYAKIT CACAR MONYET (MONKEY POX)
Lihat >>
PENYAKIT HEPATITIS PADA ANAK YANG TIDAK DIKETAHUI PENYEBABNYA
Lihat >>
WORLD TB DAY 24 Maret 2022 Invest to End TB. Save Lives
Lihat >>
KONDISI PASKA COVID
Lihat >>
VARIAN OMICRON, EPISODE BARU DARI SARS-CoV-2
Lihat >>
DISBARISME
Lihat >>
HIPOKSIA
Lihat >>
JENIS VAKSIN
Lihat >>
PRINSIP DASAR VAKSIN
Lihat >>
KESEHATAN PENERBANGAN
Lihat >>
PERHATIKAN: PEMAKAIAN MASKER YANG BISA MELINDUNGI DARI COVID-19
Lihat >>
DEMAM DENGUE & DEMAM BERDARAH DENGUE
Lihat >>
PENGUMPULAN SPESIMEN DAHAK YANG BENAR
Lihat >>
VARIAN VIRUS SARS CoV-2
Lihat >>
VIRUS NIPAH (Niv)
Lihat >>
SEPUTAR FAKTA TENTANG VAKSIN COVID-19
Lihat >>
TRANSMISI VIRUS SARS-CoV-2
Lihat >>
BENARKAH ADA KASUS REINFEKSI COVID-19 ?
Lihat >>
STOP PENYEBARAN “SUPERBUG” GUNAKAN ANTIBIOTIK DENGAN BIJAK
Lihat >>
IMPACT OF TB LABORATORY DIAGNOSIS IN COVID-19 PANDEMIC
Lihat >>
Pemeriksaan usap dubur (swab rektal) untuk penjamah makanan
Lihat >>
DETEKSI BAKTERI RESISTEN
Lihat >>
Penerimaan Karyawan Non PNS Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya Tahun 2020
Lihat >>
HERD IMMUNITY
Lihat >>
MENINGITIS BAKTERI
Lihat >>
HARI TBC SEDUNIA
Lihat >>
PANDEMI COVID-19
Lihat >>
Fakta terbaru : Pneumonia oleh Corona Virus (2019-nCoV)
Lihat >>
Bahaya Tersembunyi Salmonella Enterocolitis Keracunan makanan akibat bakteri Salmonella
Lihat >>
Indonesia Masuki Periode Aging Population
Lihat >>
PENANGANAN PERTAMA DEMAM ANAK
Lihat >>
Hoax Imunisasi Masih Beredar
Lihat >>
WASPADALAH, DIFTERI MASIH ADA !
Lihat >>
Waspada, Filariasis Ditularkan Melalui Semua Jenis Nyamuk
Lihat >>
Satu Gigitan Anjing Bisa Renggut Nyawa
Lihat >>
Hari Santri 2018: ''Menag Ajak Santri Tebarkan Kedamaian di Sosial Media''
Lihat >>
Susu Kental Manis Bukan untuk Dikonsumsi Setiap Hari
Lihat >>
Hari Keluarga Nasional XXV Tahun 2018: Cinta Keluarga, Cinta Terencana
Lihat >>
Kemenkes: Kecanduan Game Adalah Gangguan Perilaku
Lihat >>
Pemberitahuan PNPME 2018
Lihat >>
Pengumuman Penutupan Pendaftaran PME Kimia Klinik & Mikrobiologi BTA
@bblabkesmas.surabaya
BBLKMSurabaya
BBLKMSurabaya