Bahaya Tersembunyi Salmonella Enterocolitis Keracunan makanan akibat bakteri Salmonella
09 Desember 2019 / By Administrator,
Oleh :
dr. Titiek Sulistyowati, M. Ked. Klin, Sp. MK
Spesialis Mikrobiologi Klinik
BBLK Surabaya
Apa itu Salmonella?
Salmonella adalah nama bakteri dengan habitat di usus yang sering menyebabkan penyakit tifoid (masyarakat awam: tipes/tifus), paratifoid, dan keracunan makanan. Infeksi dikarenakan bakteri Salmonella biasa disebut juga Salmonellosis. Diperkirakan ada lebih dari 2000 strain bakteri Salmonella di dunia ini.
Apa itu Salmonella Enterocolitis?
Salmonella Enterocolitis adalah infeksi bakteri pada lapisan usus halus yang disebabkan oleh bakteri Salmonella. Penyakit ini merupakan salah satu jenis keracunan makanan. Hal tersebut bisa terjadi dikarenakan menelan makanan atau minuman yang terkontaminasi bakteri Salmonella, misal: unggas mentah, telur, daging sapi, buah atau sayur yang tidak dicuci. Masa inkubasi sekitar 12-72 jam, tetapi bisa lebih lama.
Apa saja gejala Salmonella Enterocolitis?
- Mual
- Diare (sering dan umumnya tanpa darah)
- Nyeri perut (kontraksi dari otot perut)
- Muntah (bahaya dehidrasi)
- Demam (tidak lebih dari 39 °C)
- Menggigil
- Sakit kepala
- Nyeri otot (jarang: otot paha dan lengan)
Siapa saja yang beresiko terkena Salmonella Enterocolitis?
- Orang yang makan makanan yang tidak dimasak dan tidak disimpan dengan benar.
- Orang yang berada di sekitar anggota keluarga yang terkena infeksi Salmonella.
- Orang yang bekerja di Rumah Sakit, fasilitas kesehatan dan panti jompo.
- Orang yang mempunyai hewan peliharaan reptil dan amfibi (ular, kura, iguana, dll).
- Orang yang mempunyai peternakan ungags.
- Orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah.
- Orang yang mengkonsumsi obat penghambat asam lambung.
- Orang dengan penyakit Crohn atau Colitis ulseratif.
- Orang dengan penggunaan antibiotik di masa lalu.
Apa yang harus dilakukan?
- Segera hubungi dokter untuk penggunaan antibiotik dengan tepat.
- Untuk pertolongan pertama adalah minum air yang banyak untuk mencegah dehidrasi.
Bagaimana cara untuk mendeteksi?
Dokter dapat menilai dari anamnesis, riwayat, serta gejala klinis dan mungkin memerlukan satu atau lebih pemeriksaan penunjang untuk mendiagnosis Salmonella Enterocolitis dengan akurat. Banyak kondisi klinis dengan tanda dan gejala yang mirip. Penyedia layanan kesehatan dapat melakukan tes tambahan untuk mengesampingkan kondisi klinis lain sehingga mendapat diagnosis pasti.
Apa saja pemeriksaan laboratorium penunjang ?
- Isolasi organisme dengan kultur / biakan dari sampel tinja segar atau fresh stool (pemeriksaan mikrobiologi à diagnosis pasti).
- Isolasi organisme dengan kultur/biakan dari sampel darah (pemeriksaan mikrobiologi à diagnosis pasti).
- Pemeriksaan darah lengkap (penurunan WBC/leukosit, penurunan neutrofil).
- Pemeriksaan fungsi hati (SGOT, SGPT)
Apa komplikasi Salmonella Enterocolitis ?
- Dehidrasi akibat diare.
- Perforasi usus.
- Meningitis (radang meningen otak).
- Sepsis (infeksi darah).
- Infeksi kandung empedu.
Bagaimana pengobatannya ?
- Mengatasi cairan akibat dehidrasi.
- Antibiotik seperti ciprofloxacin, makrolid (azitromisin), sefalosporin generasi 3 (seftriaxone) sesuai resep dari dokter klinisi.
- Obat anti diare tidak direkomendasikan.
Sumber :
- Brooks GF, Carroll KC, Butel JS, Morse SA, Mietzner TA, 2013. Jawetz, Melnick, & Adelberg’s Medical Microbiology. 26th edn. The McGraw-Hill companies. USA.
- Giannella RA. Salmonella. In: Baron S, editor. Medical Microbiology. 4th edition. Galveston (TX): University of Texas Medical Branch at Galveston; 1996. Chapter 21. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK8435/
- Tille PM, 2014. Bailey & Scott’s diagnostic microbiology. 13th edn. Mosby. Elsevier. Missouri.
- https://www.cdc.gov/training/SIC_CaseStudy/Infection_Salmonella_ptversion.pdf
Artikel Terbaru
Lihat >>
Pernah Merasa Seperti Jatuh Saat Mau Tidur? Kenali Hypnic Jerk
Lihat >>
Risiko Penyakit Infeksi dan Sistem Surveilan untuk Penanganan Pasca Bencana Gempa Bumi: Penguatan Peran Labkesmas dalam Deteksi Dini dan Respon KLB
Lihat >>
Mengulas Bacillus cereus: Karakteristik Patogen, Risiko Toksin, dan Manajemen Pencegahan KLB Pangan
Lihat >>
Campak pada Dewasa: Bukan Sekadar Penyakit Anak
Lihat >>
Selamat Hari Tuberkulosis Sedunia
Lihat >>
Puasa sebagai Intervensi Mikrobiologis : Dampaknya terhadap Kesehatan Usus
Lihat >>
PENGUMUMAN: Pelaksanaan Program Nasional Pemantapan Mutu Eksternal (PNPME) Tahun 2026
Lihat >>
Menelusuri Jejak Mikroba pada Kasus Keracunan Pangan
Lihat >>
Sakit Sendi Setelah Demam? Ini yang Perlu Kamu Tahu
Lihat >>
SI NIMBUS YANG MERESAHKAN
Lihat >>
Hipertensi: Si Pembunuh Senyap yang Sering Diabaikan
Lihat >>
Prinsip Pemenuhan Nutrisi untuk Pasien Tuberkulosis Dalam Rangka Hari TB Dunia
Lihat >>
Bekerja aman di Biosafety Cabinet (BSC)
Lihat >>
Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG)
Lihat >>
AWaRe
Lihat >>
Budaya Kerja Kemenkes
Lihat >>
Nyamuk Aedes pembawa Wolbachia untuk mencegah infeksi demam berdarah
Lihat >>
Kondisi medis, gejala, dan penatalaksanaan yang berhubungan dengan panas
Lihat >>
Menjawab Pertanyaan seputar Penularan Cacar Monyet
Lihat >>
Yang Harus Diketahui Tentang Antraks
Lihat >>
Listeriosis (Foodborne Disease)
Lihat >>
DETEKSI DNA HPV UNTUK SKRINING KANKER SERVIKS
Lihat >>
Kanker serviks dikarenakan virus HPV
Lihat >>
Infeksi manusia oleh virus flu burung A(H5)
Lihat >>
Deteksi Infeksi Laten Tuberkulosis (ILTB)
Lihat >>
Patogenesis dan diagnosis Mycobacterium leprae
Lihat >>
SEPUTAR HIV DAN PENCEGAHAN HIV: PROFILAKSIS PASKA PAJANAN
Lihat >>
Resistensi Antimikroba Terkait Perjalanan
Lihat >>
DETEKSI LABORATORIUM Legionella pneumophilla DARI SPESIMEN MANUSIA
Lihat >>
LEGIONELLOSIS
Lihat >>
BAKTERI DALAM AIR SUSU IBU (ASI)
Lihat >>
DEKONTAMINASI
Lihat >>
PENYAKIT MULUT DAN KUKU PADA HEWAN TERNAK
Lihat >>
PENYAKIT CACAR MONYET (MONKEY POX)
Lihat >>
PENYAKIT HEPATITIS PADA ANAK YANG TIDAK DIKETAHUI PENYEBABNYA
Lihat >>
WORLD TB DAY 24 Maret 2022 Invest to End TB. Save Lives
Lihat >>
KONDISI PASKA COVID
Lihat >>
VARIAN OMICRON, EPISODE BARU DARI SARS-CoV-2
Lihat >>
DISBARISME
Lihat >>
HIPOKSIA
Lihat >>
JENIS VAKSIN
Lihat >>
PRINSIP DASAR VAKSIN
Lihat >>
KESEHATAN PENERBANGAN
Lihat >>
PERHATIKAN: PEMAKAIAN MASKER YANG BISA MELINDUNGI DARI COVID-19
Lihat >>
DEMAM DENGUE & DEMAM BERDARAH DENGUE
Lihat >>
PENGUMPULAN SPESIMEN DAHAK YANG BENAR
Lihat >>
VARIAN VIRUS SARS CoV-2
Lihat >>
VIRUS NIPAH (Niv)
Lihat >>
SEPUTAR FAKTA TENTANG VAKSIN COVID-19
Lihat >>
TRANSMISI VIRUS SARS-CoV-2
Lihat >>
BENARKAH ADA KASUS REINFEKSI COVID-19 ?
Lihat >>
STOP PENYEBARAN “SUPERBUG” GUNAKAN ANTIBIOTIK DENGAN BIJAK
Lihat >>
IMPACT OF TB LABORATORY DIAGNOSIS IN COVID-19 PANDEMIC
Lihat >>
Pemeriksaan usap dubur (swab rektal) untuk penjamah makanan
Lihat >>
DETEKSI BAKTERI RESISTEN
Lihat >>
Penerimaan Karyawan Non PNS Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya Tahun 2020
Lihat >>
HERD IMMUNITY
Lihat >>
MENINGITIS BAKTERI
Lihat >>
HARI TBC SEDUNIA
Lihat >>
PANDEMI COVID-19
Lihat >>
Fakta terbaru : Pneumonia oleh Corona Virus (2019-nCoV)
Lihat >>
Bahaya Tersembunyi Salmonella Enterocolitis Keracunan makanan akibat bakteri Salmonella
Lihat >>
Indonesia Masuki Periode Aging Population
Lihat >>
PENANGANAN PERTAMA DEMAM ANAK
Lihat >>
Hoax Imunisasi Masih Beredar
Lihat >>
WASPADALAH, DIFTERI MASIH ADA !
Lihat >>
Waspada, Filariasis Ditularkan Melalui Semua Jenis Nyamuk
Lihat >>
Satu Gigitan Anjing Bisa Renggut Nyawa
Lihat >>
Hari Santri 2018: ''Menag Ajak Santri Tebarkan Kedamaian di Sosial Media''
Lihat >>
Susu Kental Manis Bukan untuk Dikonsumsi Setiap Hari
Lihat >>
Hari Keluarga Nasional XXV Tahun 2018: Cinta Keluarga, Cinta Terencana
Lihat >>
Kemenkes: Kecanduan Game Adalah Gangguan Perilaku
Lihat >>
Pemberitahuan PNPME 2018
Lihat >>
Pengumuman Penutupan Pendaftaran PME Kimia Klinik & Mikrobiologi BTA
@bblabkesmas.surabaya
BBLKMSurabaya
BBLKMSurabaya