VARIAN VIRUS SARS CoV-2
14 April 2021 / By Administrator,
VARIAN VIRUS SARS CoV-2
dr. Titiek Sulistyowati, M. Ked. Klin, Sp. MK
Virus SARS CoV2 terus berubah melalui mutasi dan membentuk varian baru. Mutasi yang terjadi bisa satu atau lebih sehingga bisa dibedakan dengan varian yang sebelumnya. Varian multipel telah didokumentasikan oleh CDC secara global selama pandemic. CDC pun membuat klasifikasi terkait varian tersebut sesuai dengan karakteristiknya. Konsen mereka adalah mendeteksi dengan cepat varian yang muncul dan terus memonitor potensial dampak, termasuk vaksin, terapi dan diagnostik. CDC menetapkan 3 kelas varian SARS CoV2 antara lain :
1. Variant of Interest (VOI)
Varian dengan penanda genetik spesifik yang dikaitkan dengan perubahan pada pengikatan reseptor, pengurangan netralisasi oleh antibodi yang dihasilkan terhadap infeksi atau vaksinasi sebelumnya, pengurangan kemanjuran terapi, potensi dampak diagnostik, atau peningkatan prediksi penularan atau keparahan penyakit. Yang termasuk dalam klasifikasi ini adalah varian B.1.526 (US New York-November 2020), B.1.526.1 (US New York-Oktober 2020), B.1.525 (UK/Nigeria-Desember 2020), dan P.2 (Brazil-April 2020).
2. Varint of Concern (VOC)
Varian yang menunjukkan bukti peningkatan penularan, penyakut yang lebih parah (misal, peningkatan pasien rawat inap atau angka kematian), penurunan signifikan dalam netralisasi oleh antibodi yang dihasilkan selama infeksi atau vaksinasi sebelumnya, penurunan efektivitas pengobatan atau vaksin, kegagalan deteksi diagnostik. Yang termasuk dalam klasifikasi ini adalah varian B.1.1.7 (UK), B.1.351 (Afrika Selatan), P.1 (Jepang/Brazil), B.1.427 (US-California) dan B.1.429 (US-California).
3. Variant of High Consequence (VOHC)
Varian ini mempunyai bukti yang jelas bahwa tindakan pencegahan maupun tindakan pencegahan medis telah secara signifikan mengurangi efektivitas relatif terhadap varian yang beredar sebelumnya.
Tidak ada varian yang terdeteksi untuk kelompok ini.
Genom SARS CoV 2 mengkodekan instruksi yang diatur menjadi beberapa bagian untuk membangun virus, yang disebut sebagai gen. Para ilmuwan menggunakan proses yang disebut sekuensing genom untuk memecahkan kode gen dan mempelajari lebih lanjut tentang virus. Pengurutan atau sekuensing genom dapat mengidentifikasi SARS CoV2 dan memantau perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu menjadi varian baru. Mereka juga mempelajari bagaimana perubahan tersebut dapat mempengaruhi karakteristik virus dan menggunakan informasi ini untuk lebih memahami bagaimana hal tersebut bisa mempengaruhi kesehatan.
Beberapa virus yang membentuk varian baru telah mengalami mutasi pada spike-like S protein yang digunakan virus untuk mengikat dan menginfeksi sel.
1. Varian B.1.1.7 merupakan varian yang lebih mudah menyebar dan memiliki peningkatan resiko kematian.
2. Varian B.135.1 merupakan varian yang lebih mudah menyebar. Varian ini berdampak sedang terhadap keefektifan terapi antibody monoclonal maupun pengurangan keefektifan antibodi infeksi atau vaksin sebelumnya.
3. Varian H.1 berdampak sedang terhadap keefektifan terapi antibodi monoklonal maupun pengurangan keefektifan antibodi infeksi atau vaksin sebelumnya.
4. Varian B.1.429 mudah menyebar. Varian ini cukup signifikan menurunkan keefektivitasan perawatan dan pengurangan keefektifan antibody infeksi atau vaksin sebelumnya.
Apakah varian tersebut lebih berbahaya ?
Tergantung pada jenis variannya. Sebagian besar varian tersebut tidak meningkatkan kemampuan penyebaran virus. Beberapa, seperti varian B.1.1.7 Inggris, telah terbukti lebih menular daripada virus awal. Yang lain, varian Afrika Selatan dan Brazil memiliki mutasi yang menurut penelitian agak lebih kebal atau resisten terhadap pengobatan atau vaksin. Varian yang lebih menular berpotensi menjadi perhatian yang lebih besar karena seberapa cepat virus tersebut menyebar ke seluruh populasi.
Apakah vaksin efektif ?
Efektivitas vaksinasi COVID-19 dipengaruhi oleh munculnya varian tersebut. Ini bisa menjadi lebih bermasalah karena virus terus menyebar dan meningkatkan peluang untuk mutasi. Varian ini dapat mempengaruhi tidak hanya keefektifan vaksin, tetapi juga kekebalan alami yang telah muncul pada penyintas COVID-19. Ada wacana bahwa booster vakisn diperlukan tiap tahunan untuk kekebalan COVID-19.
Penerima vaksin juga belum secara keseluruhan, sehingga harus tetap diwaspadai peningkatan kasus COVID-19 dan variannya di sekitar kita. Tetap jaga protokol kesehatan 5 M yaitu Mencuci Tangan, Memakai Masker, Menjaga Jarak, Menjauhi Kerumunan, dan Membatasi Mobilisasi. Terima kasih.
Sumber : CDC
Artikel Terbaru
Lihat >>
Pernah Merasa Seperti Jatuh Saat Mau Tidur? Kenali Hypnic Jerk
Lihat >>
Risiko Penyakit Infeksi dan Sistem Surveilan untuk Penanganan Pasca Bencana Gempa Bumi: Penguatan Peran Labkesmas dalam Deteksi Dini dan Respon KLB
Lihat >>
Mengulas Bacillus cereus: Karakteristik Patogen, Risiko Toksin, dan Manajemen Pencegahan KLB Pangan
Lihat >>
Campak pada Dewasa: Bukan Sekadar Penyakit Anak
Lihat >>
Selamat Hari Tuberkulosis Sedunia
Lihat >>
Puasa sebagai Intervensi Mikrobiologis : Dampaknya terhadap Kesehatan Usus
Lihat >>
PENGUMUMAN: Pelaksanaan Program Nasional Pemantapan Mutu Eksternal (PNPME) Tahun 2026
Lihat >>
Menelusuri Jejak Mikroba pada Kasus Keracunan Pangan
Lihat >>
Sakit Sendi Setelah Demam? Ini yang Perlu Kamu Tahu
Lihat >>
SI NIMBUS YANG MERESAHKAN
Lihat >>
Hipertensi: Si Pembunuh Senyap yang Sering Diabaikan
Lihat >>
Prinsip Pemenuhan Nutrisi untuk Pasien Tuberkulosis Dalam Rangka Hari TB Dunia
Lihat >>
Bekerja aman di Biosafety Cabinet (BSC)
Lihat >>
Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG)
Lihat >>
AWaRe
Lihat >>
Budaya Kerja Kemenkes
Lihat >>
Nyamuk Aedes pembawa Wolbachia untuk mencegah infeksi demam berdarah
Lihat >>
Kondisi medis, gejala, dan penatalaksanaan yang berhubungan dengan panas
Lihat >>
Menjawab Pertanyaan seputar Penularan Cacar Monyet
Lihat >>
Yang Harus Diketahui Tentang Antraks
Lihat >>
Listeriosis (Foodborne Disease)
Lihat >>
DETEKSI DNA HPV UNTUK SKRINING KANKER SERVIKS
Lihat >>
Kanker serviks dikarenakan virus HPV
Lihat >>
Infeksi manusia oleh virus flu burung A(H5)
Lihat >>
Deteksi Infeksi Laten Tuberkulosis (ILTB)
Lihat >>
Patogenesis dan diagnosis Mycobacterium leprae
Lihat >>
SEPUTAR HIV DAN PENCEGAHAN HIV: PROFILAKSIS PASKA PAJANAN
Lihat >>
Resistensi Antimikroba Terkait Perjalanan
Lihat >>
DETEKSI LABORATORIUM Legionella pneumophilla DARI SPESIMEN MANUSIA
Lihat >>
LEGIONELLOSIS
Lihat >>
BAKTERI DALAM AIR SUSU IBU (ASI)
Lihat >>
DEKONTAMINASI
Lihat >>
PENYAKIT MULUT DAN KUKU PADA HEWAN TERNAK
Lihat >>
PENYAKIT CACAR MONYET (MONKEY POX)
Lihat >>
PENYAKIT HEPATITIS PADA ANAK YANG TIDAK DIKETAHUI PENYEBABNYA
Lihat >>
WORLD TB DAY 24 Maret 2022 Invest to End TB. Save Lives
Lihat >>
KONDISI PASKA COVID
Lihat >>
VARIAN OMICRON, EPISODE BARU DARI SARS-CoV-2
Lihat >>
DISBARISME
Lihat >>
HIPOKSIA
Lihat >>
JENIS VAKSIN
Lihat >>
PRINSIP DASAR VAKSIN
Lihat >>
KESEHATAN PENERBANGAN
Lihat >>
PERHATIKAN: PEMAKAIAN MASKER YANG BISA MELINDUNGI DARI COVID-19
Lihat >>
DEMAM DENGUE & DEMAM BERDARAH DENGUE
Lihat >>
PENGUMPULAN SPESIMEN DAHAK YANG BENAR
Lihat >>
VARIAN VIRUS SARS CoV-2
Lihat >>
VIRUS NIPAH (Niv)
Lihat >>
SEPUTAR FAKTA TENTANG VAKSIN COVID-19
Lihat >>
TRANSMISI VIRUS SARS-CoV-2
Lihat >>
BENARKAH ADA KASUS REINFEKSI COVID-19 ?
Lihat >>
STOP PENYEBARAN “SUPERBUG” GUNAKAN ANTIBIOTIK DENGAN BIJAK
Lihat >>
IMPACT OF TB LABORATORY DIAGNOSIS IN COVID-19 PANDEMIC
Lihat >>
Pemeriksaan usap dubur (swab rektal) untuk penjamah makanan
Lihat >>
DETEKSI BAKTERI RESISTEN
Lihat >>
Penerimaan Karyawan Non PNS Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya Tahun 2020
Lihat >>
HERD IMMUNITY
Lihat >>
MENINGITIS BAKTERI
Lihat >>
HARI TBC SEDUNIA
Lihat >>
PANDEMI COVID-19
Lihat >>
Fakta terbaru : Pneumonia oleh Corona Virus (2019-nCoV)
Lihat >>
Bahaya Tersembunyi Salmonella Enterocolitis Keracunan makanan akibat bakteri Salmonella
Lihat >>
Indonesia Masuki Periode Aging Population
Lihat >>
PENANGANAN PERTAMA DEMAM ANAK
Lihat >>
Hoax Imunisasi Masih Beredar
Lihat >>
WASPADALAH, DIFTERI MASIH ADA !
Lihat >>
Waspada, Filariasis Ditularkan Melalui Semua Jenis Nyamuk
Lihat >>
Satu Gigitan Anjing Bisa Renggut Nyawa
Lihat >>
Hari Santri 2018: ''Menag Ajak Santri Tebarkan Kedamaian di Sosial Media''
Lihat >>
Susu Kental Manis Bukan untuk Dikonsumsi Setiap Hari
Lihat >>
Hari Keluarga Nasional XXV Tahun 2018: Cinta Keluarga, Cinta Terencana
Lihat >>
Kemenkes: Kecanduan Game Adalah Gangguan Perilaku
Lihat >>
Pemberitahuan PNPME 2018
Lihat >>
Pengumuman Penutupan Pendaftaran PME Kimia Klinik & Mikrobiologi BTA
@bblabkesmas.surabaya
BBLKMSurabaya
BBLKMSurabaya