HERD IMMUNITY
27 Mei 2020 / By Administrator,
MENGENAL LEBIH JAUH HERD IMMUNITY
DI ERA PANDEMIK COVID-19
By dr. Titiek Sulistyowati, MKK, Sp. MK
Di era pandemik COVID-19 ini, beberapa orang telah berbicara tentang herd immunity. Berbagai kontroversi telah mewarnai perbincangan dan diskusi yang menarik. Saya ingin membuat tulisan ini dengan mengambil beberapa literatur yang sudah terbit.
Herd immunity berasal dari kata herd dan immunity. Herd adalah kumpulan, kawanan atau orang kebanyakan, sedangkan immunity adalah kekebalan atau imunitas. Jadi, herd immunity adalah suatu bentuk perlindungan secara tidak langsung dari penyakit menular yang terjadi ketika sebagian besar populasi menjadi kebal terhadap infeksi, baik melalui vaksinasi atau terpapar infeksi sebelumnya. Bahkan orang yang tidak divaksinasi (seperti bayi baru lahir, wanita hamil dan orang dengan kekebalan rendah) akan mendapatkan perlindungan karena penyakit ini memiliki sedikit kesempatan untuk menyebar dalam masyarakat 1.
Berbagai transmisi atau penularan virus di antara inang atau host mempunyai tingkat efisiensi yang berbeda. Angka reproduksi dasar (R0) menunjukkan jumlah rata-rata kasus yang terinfeksi dari satu kasus yang terinfeksi. R0 dapat sangat bervariasi mulai dari nilai di atas 1 hingga lebih dari 10. R0 rendah biasanya ditemukan di antara virus yang berkembang pesat yang sering di bawah tekanan seleksi positif yang kuat, sementara R0 tinggi sering ditemukan di antara virus yang sangat stabil. R0 menentukan ambang batas dari herd immunity. R0 yang lebih rendah membutuhkan herd immunity yang lebih rendah untuk menghentikan wabah2.
Herd immunity ini sendiri juga bertindak sebagai tekanan evolusi pada virus tertentu (mempengaruhi evolusi virus) dengan menambah produksi strain virus baru (=disebut juga sebagai escape mutant atau mutan yang melarikan diri) dan dapat menyebar lebih mudah. Virus keluar dari herd immunity melalui penyimpangan antigenik (antigenic drift). Sebagian besar virus R0 tinggi akan stabil secara antigenik dan mengandung serotipe tunggal atau terbatas. Vaksin menjadi sangat efektif, dan escape mutant tidak menjadi masalah. Kelompok virus ini sering menyebabkan penyakit pada masa kanak-kanak, seperti gondong, campak, rubella, dan poliomielitis. Sebaliknya, antigenisitas virus dengan R0 rendah, seperti virus influenza, sangat beragam. Varian antigenik baru terus muncul untuk menggantikan strain yang sudah ada sebelumnya. Apa yang disebut antigenic drift ini adalah masalah terpenting dalam produksi dan implementasi vaksin influenza. Strain vaksin harus diprediksi dan dipilih untuk setiap musim penyebaran berdasarkan data pengawasan yang luas. Vaksinasi perlu diulang setiap tahun dan ada risiko ketidaksesuaian antara vaksin dan strain yang beredar3.
Tingkat herd immunity yang dibutuhkan untuk mengakhiri wabah tergantung pada R0. Patogen dengan R0 lebih tinggi membutuhkan tingkat herd immunity yang lebih tinggi. Ambang batas herd immunity dapat dihitung dengan rumus 1 - 1 / R0. Misal, penyakit dengan R0 = 2 akan membutuhkan tingkat herd immunity yaitu 1 - 1/2 atau 50% dari populasi, sedangkan penyakit dengan R0 = 10 akan membutuhkan tingkat herd immunity 1 - 1/10 atau 90%. Secara teoritis, populasi homogen dengan tingkat kontak yang cukup dan merata, tingkat herd immunity akan tercapai terlepas dari R0. Meskipun virus dengan R0 lebih tinggi membutuhkan tingkat herd immunity lebih tinggi, ia dapat menyebar lebih cepat sehingga jumlah kasus yang terinfeksi lebih tinggi, dan tingkat herd immunity yang dibutuhkan akan tercapai. Pada populasi heterogen, ambang batas tingkat herd immunity mungkin tidak pernah tercapai. Tingkat kontak tidak menyebar secara merata dalam suatu populasi dan dapat bervariasi secara demografis dan geografis. Populasi yang realistis terdiri dari beberapa kompartemen yang berinteraksi satu sama lain pada berbagai tingkat kontak. Meskipun patogen dengan R0 tinggi sangat efektif dalam mentransmisikan dalam populasi kecil dengan tingkat kontak yang tinggi, mungkin tidak seefektif pada populasi yang lebih besar dengan beberapa kompartemen yang berinteraksi dengan tingkat kontak lebih rendah. Oleh karena itu, tingkat herd immunity tinggi yang diperlukan untuk menghilangkan wabah dengan R0 tinggi mungkin tidak tercapai dan kantong host/inang naif akan selalu tersedia untuk mengabadikan rantai transmisi. Sebaliknya, penyakit dengan R0 rendah, yang hanya membutuhkan tingkat herd immunity rendah, akan lebih mungkin mendapatkan herd immunity yang cukup. Selain itu, penyakit dengan R0 lebih rendah lebih sedikit tergantung pada tingkat kontak tinggi, sehingga akan lebih efektif dalam mentransmisikan antar kompartemen dalam suatu populasi. Jika tingkat herd immunity yang efektif tercapai, itu akan memberikan tekanan selektif yang kuat untuk memilih immune escape3.
SARS-CoV-2, virus korona penyebab pandemi covid-19, diperkirakan memiliki R0 sekitar 2,24. Namun, perkiraan bervariasi antara 0,4 dan 4,6. Ini tidak biasa, karena estimasi R0 sering bervariasi, dengan model dan data yang berbeda digunakan untuk menghitungnya. Campak, misalnya, telah diberi nilai R0 antara 3,7 dan 203,03. Jika perkiraan R0 SARS-CoV-2 adalah sekitar 2,5, proporsi populasi yang perlu kebal untuk mencapai herd immunity adalah sekitar 60%. Namun, coronavirus, SARS-CoV-2, yang menjadi pusat pandemi saat ini adalah baru, yang berarti akibatnya ada kekurangan kekebalan yang sudah ada sebelumnya sehingga seluruh populasi rentan terhadap infeksi. Ini diperparah dengan tidak adanya vaksin yang efektif dan durasi yang tidak diketahui yang kekebalannya dapat bertahan5.
Para profesional dan pejabat kesehatan terus memperingatkan bahwa tidak ada jalan keluar yang mudah dari pandemi coronavirus, terutama dengan wilayah yang mulai melonggarkan physical distancing. Herd immunity tetap berada di luar jangkauan, bahkan di tempat-tempat yang paling parah dilanda pandemi. Ada dua cara utama untuk mencapai tingkat kekebalan yang tinggi dalam suatu populasi: Entah cukup banyak orang yang telah terinfeksi dan sistem kekebalan telah mengembangkan antibodi untuk melindungi terhadap infeksi di masa depan (setidaknya untuk jangka pendek) atau terdapat vaksin. Tanpa herd immunity atau perawatan yang efektif dan tanpa adanya langkah-langkah physical distancing diharapkan negara-negara perlu mempersiapkan lonjakan infeksi baru secara berkala baik dari segi fasilitas dan sarana prasarana kesehatan serta sumber daya manusia kesehatan yang memadai, bahkan dengan jumlah yang tak terduga, sampai vaksin telah siap dan tersedia secara luas6.
Referensi :
1. Fine, P.; Eames, K.; Heymann, D. L. (1 April 2011). "'Herd immunity': A rough guide". Clinical Infectious Diseases. 52 (7): 911–16. doi:10.1093/cid/cir007. PMID 21427399
2. Metcalf CJE, Ferrari M, Graham AL, Grenfell BT. Understanding Herd immunity. Trends Immunol.
3. Rodpothong, P; Auewarakul, P (2012). "Viral evolution and transmission effectiveness". World Journal of Virology.
4. Li Q, Guan X, Wu P, et al. Early Transmission Dynamics in Wuhan, China, of Novel Coronavirus-Infected Pneumonia. N Engl J Med.
5. https://www.nbcnews.com/science/science-news/can-herd-immunity-help-stop-coronavirus-experts-warn-it-s-n1207351
6. https://www.jhsph.edu/covid-19/articles/achieving-herd-immunity-with-covid19.html
Artikel Terbaru
Lihat >>
Pernah Merasa Seperti Jatuh Saat Mau Tidur? Kenali Hypnic Jerk
Lihat >>
Risiko Penyakit Infeksi dan Sistem Surveilan untuk Penanganan Pasca Bencana Gempa Bumi: Penguatan Peran Labkesmas dalam Deteksi Dini dan Respon KLB
Lihat >>
Mengulas Bacillus cereus: Karakteristik Patogen, Risiko Toksin, dan Manajemen Pencegahan KLB Pangan
Lihat >>
Campak pada Dewasa: Bukan Sekadar Penyakit Anak
Lihat >>
Selamat Hari Tuberkulosis Sedunia
Lihat >>
Puasa sebagai Intervensi Mikrobiologis : Dampaknya terhadap Kesehatan Usus
Lihat >>
PENGUMUMAN: Pelaksanaan Program Nasional Pemantapan Mutu Eksternal (PNPME) Tahun 2026
Lihat >>
Menelusuri Jejak Mikroba pada Kasus Keracunan Pangan
Lihat >>
Sakit Sendi Setelah Demam? Ini yang Perlu Kamu Tahu
Lihat >>
SI NIMBUS YANG MERESAHKAN
Lihat >>
Hipertensi: Si Pembunuh Senyap yang Sering Diabaikan
Lihat >>
Prinsip Pemenuhan Nutrisi untuk Pasien Tuberkulosis Dalam Rangka Hari TB Dunia
Lihat >>
Bekerja aman di Biosafety Cabinet (BSC)
Lihat >>
Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG)
Lihat >>
AWaRe
Lihat >>
Budaya Kerja Kemenkes
Lihat >>
Nyamuk Aedes pembawa Wolbachia untuk mencegah infeksi demam berdarah
Lihat >>
Kondisi medis, gejala, dan penatalaksanaan yang berhubungan dengan panas
Lihat >>
Menjawab Pertanyaan seputar Penularan Cacar Monyet
Lihat >>
Yang Harus Diketahui Tentang Antraks
Lihat >>
Listeriosis (Foodborne Disease)
Lihat >>
DETEKSI DNA HPV UNTUK SKRINING KANKER SERVIKS
Lihat >>
Kanker serviks dikarenakan virus HPV
Lihat >>
Infeksi manusia oleh virus flu burung A(H5)
Lihat >>
Deteksi Infeksi Laten Tuberkulosis (ILTB)
Lihat >>
Patogenesis dan diagnosis Mycobacterium leprae
Lihat >>
SEPUTAR HIV DAN PENCEGAHAN HIV: PROFILAKSIS PASKA PAJANAN
Lihat >>
Resistensi Antimikroba Terkait Perjalanan
Lihat >>
DETEKSI LABORATORIUM Legionella pneumophilla DARI SPESIMEN MANUSIA
Lihat >>
LEGIONELLOSIS
Lihat >>
BAKTERI DALAM AIR SUSU IBU (ASI)
Lihat >>
DEKONTAMINASI
Lihat >>
PENYAKIT MULUT DAN KUKU PADA HEWAN TERNAK
Lihat >>
PENYAKIT CACAR MONYET (MONKEY POX)
Lihat >>
PENYAKIT HEPATITIS PADA ANAK YANG TIDAK DIKETAHUI PENYEBABNYA
Lihat >>
WORLD TB DAY 24 Maret 2022 Invest to End TB. Save Lives
Lihat >>
KONDISI PASKA COVID
Lihat >>
VARIAN OMICRON, EPISODE BARU DARI SARS-CoV-2
Lihat >>
DISBARISME
Lihat >>
HIPOKSIA
Lihat >>
JENIS VAKSIN
Lihat >>
PRINSIP DASAR VAKSIN
Lihat >>
KESEHATAN PENERBANGAN
Lihat >>
PERHATIKAN: PEMAKAIAN MASKER YANG BISA MELINDUNGI DARI COVID-19
Lihat >>
DEMAM DENGUE & DEMAM BERDARAH DENGUE
Lihat >>
PENGUMPULAN SPESIMEN DAHAK YANG BENAR
Lihat >>
VARIAN VIRUS SARS CoV-2
Lihat >>
VIRUS NIPAH (Niv)
Lihat >>
SEPUTAR FAKTA TENTANG VAKSIN COVID-19
Lihat >>
TRANSMISI VIRUS SARS-CoV-2
Lihat >>
BENARKAH ADA KASUS REINFEKSI COVID-19 ?
Lihat >>
STOP PENYEBARAN “SUPERBUG” GUNAKAN ANTIBIOTIK DENGAN BIJAK
Lihat >>
IMPACT OF TB LABORATORY DIAGNOSIS IN COVID-19 PANDEMIC
Lihat >>
Pemeriksaan usap dubur (swab rektal) untuk penjamah makanan
Lihat >>
DETEKSI BAKTERI RESISTEN
Lihat >>
Penerimaan Karyawan Non PNS Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya Tahun 2020
Lihat >>
HERD IMMUNITY
Lihat >>
MENINGITIS BAKTERI
Lihat >>
HARI TBC SEDUNIA
Lihat >>
PANDEMI COVID-19
Lihat >>
Fakta terbaru : Pneumonia oleh Corona Virus (2019-nCoV)
Lihat >>
Bahaya Tersembunyi Salmonella Enterocolitis Keracunan makanan akibat bakteri Salmonella
Lihat >>
Indonesia Masuki Periode Aging Population
Lihat >>
PENANGANAN PERTAMA DEMAM ANAK
Lihat >>
Hoax Imunisasi Masih Beredar
Lihat >>
WASPADALAH, DIFTERI MASIH ADA !
Lihat >>
Waspada, Filariasis Ditularkan Melalui Semua Jenis Nyamuk
Lihat >>
Satu Gigitan Anjing Bisa Renggut Nyawa
Lihat >>
Hari Santri 2018: ''Menag Ajak Santri Tebarkan Kedamaian di Sosial Media''
Lihat >>
Susu Kental Manis Bukan untuk Dikonsumsi Setiap Hari
Lihat >>
Hari Keluarga Nasional XXV Tahun 2018: Cinta Keluarga, Cinta Terencana
Lihat >>
Kemenkes: Kecanduan Game Adalah Gangguan Perilaku
Lihat >>
Pemberitahuan PNPME 2018
Lihat >>
Pengumuman Penutupan Pendaftaran PME Kimia Klinik & Mikrobiologi BTA
@bblabkesmas.surabaya
BBLKMSurabaya
BBLKMSurabaya