Sakit Sendi Setelah Demam? Ini yang Perlu Kamu Tahu
22 September 2025 / By Administrator,
Oleh dr. Titiek Sulistyowati, M. Ked. Klin, Sp. MK (K)
Pernahkah kamu mengalami demam tinggi selama beberapa hari, lalu tiba-tiba merasa nyeri hebat di persendian hingga sulit bergerak? Banyak orang mengira itu hanyalah efek samping dari kelelahan atau flu biasa. Padahal, bisa jadi itu adalah gejala dari penyakit Chikungunya — infeksi virus yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes spp, sama seperti demam berdarah. Chikungunya memang kerap disalahartikan karena gejalanya mirip dengan penyakit lain. Namun, nyeri sendi yang berlangsung lama setelah demam adalah salah satu ciri khas yang perlu diwaspadai. Jika tidak ditangani dengan tepat, kondisi ini bisa mengganggu aktivitas sehari-hari dan menurunkan kualitas hidup. Kita akan membahas lebih lanjut tentang Chikungunya: mulai dari penyebab, gejala khas, diagnosis, pengobatan, hingga langkah pencegahan agar kamu dan keluarga tetap terlindungi.
Chikungunya adalah penyakit virus yang ditularkan melalui nyamuk Aedes spp, pada umumnya adalah Aedes aegypti dan Aedes albopictus dan disebabkan oleh virus chikungunya (CHIKV), suatu virus RNA untai positif dalam genus alphavirus dari famili Togaviridae. Nama chikungunya berasal dari sebuah kata dalam bahasa Kimakonde di Tanzania selatan, yang berarti "yang melengkung ke atas" dan menggambarkan postur tubuh orang yang terinfeksi yang bengkok disertai nyeri sendi yang parah.
Wabah Chikungunya: Dari Afrika ke Seluruh Dunia
Penyakit chikungunya, yang dulunya hanya dikenal di sebagian wilayah Afrika, kini telah menjadi ancaman global. Dalam beberapa dekade terakhir, virus ini telah menunjukkan kemampuannya untuk menyebar dengan cepat ke berbagai belahan dunia, menimbulkan wabah yang cukup besar dan mengkhawatirkan. CHIKV pertama kali teridentifikasi pada tahun 1952 di Republik Tanzania, Afrika Timur. Setelah itu, virus ini menyebar ke negara-negara lain di Afrika dan Asia. Wabah di daerah perkotaan tercatat pertama kali di Thailand pada tahun 1967, kemudian menyusul di India pada dekade 1970-an. Saat itu, penyebarannya masih terbatas secara geografis dan belum dianggap sebagai ancaman global.
Virus CHIKV mulai menunjukkan peningkatan frekuensi dan cakupan wilayah penyebaran sejak tahun 2004. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh mutasi virus yang membuatnya lebih mudah ditularkan oleh jenis nyamuk lain, yaitu Aedes albopictus, selain nyamuk Aedes aegypti yang selama ini dikenal sebagai vektor utama. Adaptasi ini memperluas jangkauan virus ke wilayah yang sebelumnya tidak terdampak. Ditambah lagi, virus ini menyebar ke populasi manusia yang belum memiliki kekebalan alami, membuatnya lebih mudah menyebabkan wabah besar. CHIKV kini telah diidentifikasi lebih dari 110 negara di Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika. Selama ada nyamuk Aedes aegypti atau Aedes albopictus di suatu wilayah, maka penularan lokal berpotensi terjadi. Uniknya, di beberapa pulau atau wilayah yang sebelumnya mengalami wabah besar, penularan bisa berhenti secara alami karena sebagian besar penduduknya sudah terinfeksi dan kebal. Namun, di negara yang mayoritas penduduk masih rentan, penyebaran virus ini bisa berlangsung lama dan terus berkembang.
Bagaimana Chikungunya Menular?
Chikungunya tidak menular langsung dari orang ke orang. Virus Chikungunya tidak menyebar lewat sentuhan, makanan, atau udara seperti flu. Satu-satunya cara virus ini menyebar adalah lewat gigitan nyamuk betina yang sudah terinfeksi virus Chikungunya. Dua jenis nyamuk yang paling sering menyebarkan Chikungunya adalah Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Nyamuk ini biasanya aktif menggigit pagi dan sore hari, tapi bisa kapan pun jika sedang mencari darah. Nyamuk betina butuh darah untuk memproduksi telur dan akan terus mencari mangsa sampai kebutuhannya terpenuhi.
Siklus Penularan: Dari Manusia ke Nyamuk, Lalu Kembali ke Manusia
- Manusia terinfeksi memiliki virus CHIKV yang beredar dalam darahnya.
- Saat nyamuk yang belum terinfeksi menggigit orang ini, virus masuk ke dalam tubuh nyamuk.
- Di dalam tubuh nyamuk, virus mulai berkembang biak dan setelah beberapa hari (biasanya 2–5 hari, disebut masa inkubasi ekstrinsik), virus berpindah ke seluruh tubuh nyamuk, termasuk ke kelenjar ludah.
- Ketika nyamuk tersebut menggigit orang lain, virus ditularkan melalui air liur ke dalam darah manusia baru.
- Virus kembali berkembang biak dalam tubuh manusia, mencapai konsentrasi tinggi, dan siap ditularkan lagi ke nyamuk berikutnya.
Gejala Chikungunya: Bukan Sekadar Demam Biasa
Gejala penyakit Chikungunya biasanya mulai muncul sekitar 3–7 hari setelah digigit oleh nyamuk yang membawa virus. Banyak orang mengira ini hanya flu biasa, padahal gejalanya bisa jauh lebih menyakitkan terutama di bagian sendi. Berikut adalah gejala utama yang perlu diwaspadai:
Dua Fase Penting dalam Perjalanan Penyakit Chikungunya
1. Fase Viremia (5–10 hari):
Pada tahap ini, virus masih aktif di dalam tubuh. Gejala biasanya muncul secara tiba-tiba, terutama:
- Demam tinggi (sering kali lebih dari 39°C),
- Nyeri sendi hebat di banyak area tubuh (poliartralgia),
- Nyeri otot (mialgia),
- Sakit kepala,
- Ruam pada kulit.
- Nyeri sendi yang terjadi seringkali sangat mengganggu hingga membuat penderita sulit bergerak atau berjalan.
2. Fase Pasca viremia (6–21 hari):
Setelah demam mereda, gejala lain masih bisa berlanjut, terutama:
- Nyeri dan radang sendi yang menetap,
- Rasa lelah berlebihan,
- Gatal-gatal (pruritus),
- Pembengkakan jaringan lunak,
- Pembesaran kelenjar getah bening (limfadenopati),
- Hilangnya nafsu makan.
Nyeri Sendi pada Chikungunya: Pola, Lokasi, dan Peradangan
Penyakit ini terutama menyerang sendi kecil dan besar pada bagian tubuh tertentu, dengan pola yang simetris (misal kedua pergelangan tangan atau kedua pergelangan kaki). Yang paling sering terkena adalah:
- Tungkai atas: pergelangan tangan, ruas jari (falang), bahu, dan siku.
- Tungkai bawah: pergelangan kaki, lutut, kaki, dan pinggul.
Dalam beberapa kasus, sendi-sendi lain seperti tulang belakang (vertebrae), rahang (temporomandibular), atau tulang dada (sternoclavicular) juga bisa terkena.
Pembengkakan dan kekakuan sendi merupakan tanda adanya peradangan sendi (sinovitis), yang bisa dikonfirmasi melalui pemeriksaan ultrasonografi (USGi. Gejala ini paling sering terjadi di sendi kecil seperti pergelangan tangan dan jari kaki. Pada beberapa pasien, kondisi ini bisa disertai tenosynovitis (radang pada selubung tendon) atau bursitis (radang pada kantung pelumas sendi), yang memperburuk rasa nyeri dan keterbatasan gerak.
Bagaimana Chikungunya Bisa Menjadi Penyakit Kronis?
Sebagian besar orang yang terkena chikungunya akan sembuh dalam waktu 1-2 minggu. Namun, pada sebagian pasien, gejala terutama nyeri sendi dapat berlangsung lebih lama. Kondisi ini disebut sebagai fase kronis chikungunya, atau kadang dikenal sebagai chronic chikungunya arthritis atau post-viral arthropathy. Gejala kronis yang umum adalah nyeri sendi menetap, terutama di pergelangan tangan, lutut, pergelangan kaki, tangan. Nyeri bisa migrasi (berpindah tempat). Sendi terasa kaku saat pagi hari dan terjadi pembengkakan sendi. Pasien pun akan merasakan kelelahan berkepanjangan dan kekuatan fisik menurun. Pasien juga akan mengalami gangguan tidur akibat nyeri. Yang berisiko mengalami kronisitas antara lain Lansia (usia >60 tahun), wanita, pasien dengan riwayat penyakit sendi (misal, rheumatoid arthritis), dan pasien penyakit kronis lain (hipertensi, diabetes, dll.).
Fase kronis chikungunya bukan berarti infeksinya masih berlangsung, tapi lebih ke reaksi tubuh yang berkepanjangan akibat infeksi yang sudah lewat. Mekanisme pasti mengapa hal ini terjadi belum sepenuhnya dipahami, namun para ahli menemukan dua kemungkinan penyebab utama: (1) Sisa virus yang tetap berada di tubuh. Virus atau materi genetiknya mungkin tidak benar-benar hilang, dan tetap berada dalam tubuh dalam jumlah kecil. Hal ini bisa terus merangsang sistem kekebalan tubuh secara berlebihan, sehingga menyebabkan peradangan berkepanjangan. (2) Reaksi autoimun. Infeksi chikungunya bisa memicu sistem kekebalan menyerang jaringan tubuh sendiri, terutama sendi. Hal ini diduga berkaitan dengan gangguan pada sel T regulator (bagian dari sistem imun) akibat lonjakan zat peradangan atau sitokin selama infeksi. Para peneliti juga menemukan bahwa penderita chikungunya kronis cenderung memiliki kadar tinggi beberapa penanda peradangan (biomarker) dalam darah, seperti: Interleukin-6 (IL-6), TNF-α (Tumor Necrosis Factor-alpha) dan MCP-1 (Monocyte Chemoattractant Protein-1). Biomarker ini menunjukkan bahwa peradangan dalam tubuh masih terus berlangsung, bahkan setelah infeksi akut selesai.
Membedakan Chikungunya dari Demam Lain: Kunci ada di Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium sangat penting untuk menegakkan diagnosis CHIKV, membedakan dari infeksi lain seperti dengue atau Zika, dan menentukan tahap infeksinya.
1. Pemeriksaan Darah Lengkap (Hematologi)
Pemeriksaan ini tidak spesifik, tapi bisa memberikan petunjuk awal adanya infeksi virus, terutama jika disertai gejala klinis yang khas. Temuan khas pada CHIKV:
- Leukopenia (penurunan sel darah putih) – bisa ringan hingga sedang
- Limfopenia (penurunan limfosit)
- Trombositopenia (penurunan trombosit) – tidak seberat dengue
- Hematokrit normal atau sedikit meningkat
- Peningkatan LED (laju endap darah) dan/atau CRP ringan
2. Pemeriksaan Serologi (Antibodi IgM/IgG) dengan metode ELISA
Serologi mendeteksi antibodi yang terbentuk oleh tubuh sebagai respons terhadap infeksi virus chikungunya.
IgM anti-CHIKV
Muncul sejak hari ke-4–7 setelah gejala dan puncak pada minggu ke-2–3. Titer ini bisa bertahan hingga 2–3 bulan. IgM positif → menandakan infeksi akut atau baru terjadi.
IgG anti-CHIKV
Muncul lebih lambat (sekitar minggu ke-2). Dapat bertahan selama bertahun-tahun. IgG positif saja → menandakan infeksi lampau.
3.RT-PCR (Reverse Transcription Polymerase Chain Reaction)
RT-PCR merupakan pemeriksaan paling akurat (gold standard) untuk mendeteksi materi genetik virus chikungunya di dalam darah. Pemeriksaan ideal dilakukan pada hari ke-1 sampai ke-7 sejak gejala muncul (fase viremia). Setelah fase ini, virus sulit terdeteksi, dan serologi jadi lebih diandalkan. Kelebihan pemeriksaan ini adalah sensitivitas dan spesifitas tinggi. Pemeriksaan ini juga bisa membedakan chikungunya dari dengue maupun Zika. Jika hasil positif, maka terkonfirmasi infeksi aktif CHIKV.
Pengobatan Chikungunya: Fokus pada Gejala
Hingga saat ini, belum tersedia obat antivirus khusus untuk mengobati chikungunya. Oleh karena itu, penanganan difokuskan pada perawatan gejala. Pasien dianjurkan untuk banyak istirahat, minum cukup cairan, dan mengkonsumsi obat pereda nyeri serta penurun demam.
Obat yang paling aman digunakan pada tahap awal adalah parasetamol (asetaminofen). Ini penting terutama di daerah endemis dengue, karena gejala awal chikungunya dan dengue sangat mirip. Penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid (seperti ibuprofen atau aspirin) sebaiknya ditunda sampai infeksi dengue bisa disingkirkan, karena bisa meningkatkan risiko perdarahan pada kasus dengue.
Jika nyeri sendi berlangsung lama, bisa diberikan obat antiinflamasi atau dilakukan terapi fisik ringan. Namun, semua pengobatan sebaiknya dikonsultasikan terlebih dahulu dengan tenaga medis.
Cegah Chikungunya dari Rumah: Langkah Sederhana, Dampak Besar
Cara terbaik untuk mencegah infeksi virus chikungunya (CHIKV) adalah dengan menghindari gigitan nyamuk. Pasien yang sedang sakit, terutama dalam minggu pertama, juga harus dilindungi dari gigitan nyamuk agar tidak menularkan virus ke nyamuk lain dan memperluas penyebaran.
Fokus Utama: Pengendalian Vektor dan Lingkungan
Pengendalian chikungunya bertumpu pada upaya mengurangi populasi nyamuk dan menghilangkan tempat perkembangbiakannya. Keterlibatan masyarakat sangat penting dalam upaya ini. Kegiatan antara lain :
1. Menguras dan membersihkan wadah air seminggu sekali
2. Menutup rapat wadah penampung air
3. Membuang sampah dan barang bekas yang bisa menampung air
4. Mendukung kegiatan pengendalian nyamuk di lingkungan
Tindakan Saat Wabah
Saat terjadi wabah, petugas kesehatan dapat melakukan:
- Penyemprotan insektisida (fogging) untuk membunuh nyamuk dewasa
- Penyemprotan residu di permukaan tempat nyamuk hinggap
- Penggunaan larvasida untuk membunuh jentik di tempat air tergenang
Namun, penggunaan bahan kimia ini sebaiknya dilakukan oleh tenaga profesional agar aman dan efektif.
Perlindungan Pribadi
Masyarakat yang tinggal atau bepergian ke daerah dengan penularan chikungunya, disarankan untuk:
- Memakai pakaian tertutup (lengan panjang dan celana panjang)
- Menggunakan kelambu berinsektisida, terutama untuk bayi, lansia, dan orang sakit
- Memasang kasa nyamuk di jendela dan pintu
- Mengoleskan repelan nyamuk yang mengandung DEET, IR3535, atau icaridin pada kulit atau pakaian, sesuai petunjuk
Dengan melakukan langkah-langkah pencegahan ini secara rutin, risiko penyebaran virus chikungunya dapat ditekan secara signifikan. Kunci keberhasilan ada pada kerja sama masyarakat dan pemerintah dalam menjaga lingkungan tetap bersih dan bebas nyamuk. Pencegahan yang konsisten dan melibatkan seluruh masyarakat sangat penting untuk memutus rantai penularan chikungunya.
REFERENSI
- Acosta-Reyes J, Tuesca R, Navarro-Lechuga E, Bayona-Pacheco B, Viasus D. Chronicity and quality of life in Chikungunya virus infection: a cross-sectional study in Barranquilla, Colombia. J Microbiol Immunol Infect. 2025 Jul 12:S1684-1182(25)00140-9. doi: 10.1016/j.jmii.2025.07.005. Epub ahead of print. PMID: 40653423
- Chikungunya fact sheet
- Lyaruu L. Chikungunya Virus Transmission [Internet]. Infectious Diseases. IntechOpen; 2022. Available from: http://dx.doi.org/10.5772/intechopen.100199
- Chikungunya Virus Transmission Essentials
- Chikungunya: Symptoms, Prevention and Treatments - PAHO/WHO
- Chikungunya: Questions and Answers - PAHO/WHO | Pan American Health Organization
- Treatment and Prevention of Chikungunya Virus Disease | Chikungunya Virus | CDC
- W H Ng, K Amaral, E Javelle, S Mahalingam, Chronic chikungunya disease (CCD): clinical insights, immunopathogenesis and therapeutic perspectives, QJM: An International Journal of Medicine, Volume 117, Issue 7, July 2024, Pages 489–494, https://doi.org/10.1093/qjmed/hcae028
Artikel Terbaru
Lihat >>
Pernah Merasa Seperti Jatuh Saat Mau Tidur? Kenali Hypnic Jerk
Lihat >>
Risiko Penyakit Infeksi dan Sistem Surveilan untuk Penanganan Pasca Bencana Gempa Bumi: Penguatan Peran Labkesmas dalam Deteksi Dini dan Respon KLB
Lihat >>
Mengulas Bacillus cereus: Karakteristik Patogen, Risiko Toksin, dan Manajemen Pencegahan KLB Pangan
Lihat >>
Campak pada Dewasa: Bukan Sekadar Penyakit Anak
Lihat >>
Selamat Hari Tuberkulosis Sedunia
Lihat >>
Puasa sebagai Intervensi Mikrobiologis : Dampaknya terhadap Kesehatan Usus
Lihat >>
PENGUMUMAN: Pelaksanaan Program Nasional Pemantapan Mutu Eksternal (PNPME) Tahun 2026
Lihat >>
Menelusuri Jejak Mikroba pada Kasus Keracunan Pangan
Lihat >>
Sakit Sendi Setelah Demam? Ini yang Perlu Kamu Tahu
Lihat >>
SI NIMBUS YANG MERESAHKAN
Lihat >>
Hipertensi: Si Pembunuh Senyap yang Sering Diabaikan
Lihat >>
Prinsip Pemenuhan Nutrisi untuk Pasien Tuberkulosis Dalam Rangka Hari TB Dunia
Lihat >>
Bekerja aman di Biosafety Cabinet (BSC)
Lihat >>
Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG)
Lihat >>
AWaRe
Lihat >>
Budaya Kerja Kemenkes
Lihat >>
Nyamuk Aedes pembawa Wolbachia untuk mencegah infeksi demam berdarah
Lihat >>
Kondisi medis, gejala, dan penatalaksanaan yang berhubungan dengan panas
Lihat >>
Menjawab Pertanyaan seputar Penularan Cacar Monyet
Lihat >>
Yang Harus Diketahui Tentang Antraks
Lihat >>
Listeriosis (Foodborne Disease)
Lihat >>
DETEKSI DNA HPV UNTUK SKRINING KANKER SERVIKS
Lihat >>
Kanker serviks dikarenakan virus HPV
Lihat >>
Infeksi manusia oleh virus flu burung A(H5)
Lihat >>
Deteksi Infeksi Laten Tuberkulosis (ILTB)
Lihat >>
Patogenesis dan diagnosis Mycobacterium leprae
Lihat >>
SEPUTAR HIV DAN PENCEGAHAN HIV: PROFILAKSIS PASKA PAJANAN
Lihat >>
Resistensi Antimikroba Terkait Perjalanan
Lihat >>
DETEKSI LABORATORIUM Legionella pneumophilla DARI SPESIMEN MANUSIA
Lihat >>
LEGIONELLOSIS
Lihat >>
BAKTERI DALAM AIR SUSU IBU (ASI)
Lihat >>
DEKONTAMINASI
Lihat >>
PENYAKIT MULUT DAN KUKU PADA HEWAN TERNAK
Lihat >>
PENYAKIT CACAR MONYET (MONKEY POX)
Lihat >>
PENYAKIT HEPATITIS PADA ANAK YANG TIDAK DIKETAHUI PENYEBABNYA
Lihat >>
WORLD TB DAY 24 Maret 2022 Invest to End TB. Save Lives
Lihat >>
KONDISI PASKA COVID
Lihat >>
VARIAN OMICRON, EPISODE BARU DARI SARS-CoV-2
Lihat >>
DISBARISME
Lihat >>
HIPOKSIA
Lihat >>
JENIS VAKSIN
Lihat >>
PRINSIP DASAR VAKSIN
Lihat >>
KESEHATAN PENERBANGAN
Lihat >>
PERHATIKAN: PEMAKAIAN MASKER YANG BISA MELINDUNGI DARI COVID-19
Lihat >>
DEMAM DENGUE & DEMAM BERDARAH DENGUE
Lihat >>
PENGUMPULAN SPESIMEN DAHAK YANG BENAR
Lihat >>
VARIAN VIRUS SARS CoV-2
Lihat >>
VIRUS NIPAH (Niv)
Lihat >>
SEPUTAR FAKTA TENTANG VAKSIN COVID-19
Lihat >>
TRANSMISI VIRUS SARS-CoV-2
Lihat >>
BENARKAH ADA KASUS REINFEKSI COVID-19 ?
Lihat >>
STOP PENYEBARAN “SUPERBUG” GUNAKAN ANTIBIOTIK DENGAN BIJAK
Lihat >>
IMPACT OF TB LABORATORY DIAGNOSIS IN COVID-19 PANDEMIC
Lihat >>
Pemeriksaan usap dubur (swab rektal) untuk penjamah makanan
Lihat >>
DETEKSI BAKTERI RESISTEN
Lihat >>
Penerimaan Karyawan Non PNS Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya Tahun 2020
Lihat >>
HERD IMMUNITY
Lihat >>
MENINGITIS BAKTERI
Lihat >>
HARI TBC SEDUNIA
Lihat >>
PANDEMI COVID-19
Lihat >>
Fakta terbaru : Pneumonia oleh Corona Virus (2019-nCoV)
Lihat >>
Bahaya Tersembunyi Salmonella Enterocolitis Keracunan makanan akibat bakteri Salmonella
Lihat >>
Indonesia Masuki Periode Aging Population
Lihat >>
PENANGANAN PERTAMA DEMAM ANAK
Lihat >>
Hoax Imunisasi Masih Beredar
Lihat >>
WASPADALAH, DIFTERI MASIH ADA !
Lihat >>
Waspada, Filariasis Ditularkan Melalui Semua Jenis Nyamuk
Lihat >>
Satu Gigitan Anjing Bisa Renggut Nyawa
Lihat >>
Hari Santri 2018: ''Menag Ajak Santri Tebarkan Kedamaian di Sosial Media''
Lihat >>
Susu Kental Manis Bukan untuk Dikonsumsi Setiap Hari
Lihat >>
Hari Keluarga Nasional XXV Tahun 2018: Cinta Keluarga, Cinta Terencana
Lihat >>
Kemenkes: Kecanduan Game Adalah Gangguan Perilaku
Lihat >>
Pemberitahuan PNPME 2018
Lihat >>
Pengumuman Penutupan Pendaftaran PME Kimia Klinik & Mikrobiologi BTA
@bblabkesmas.surabaya
BBLKMSurabaya
BBLKMSurabaya