JENIS VAKSIN
12 Oktober 2021 / By Administrator,
Oleh: dr. Titiek Sulistyowati, M. Ked. Klin, Sp. MK
Ada tiga pendekatan utama untuk merancang vaksin. Perbedaan terletak pada apakah vaksin tersebut menggunakan :
1. Seluruh virus atau bakteri.
2. Hanya bagian virus atau bakteri yang memicu sistem kekebalan.
3. Hanya materi genetik yang memberikan instruksi untuk membuat protein spesifik dan bukan keseluruhan virus / bakteri.
1. Pendekatan seluruh-mikroba
a. Vaksin tidak aktif
Cara pertama pembuatan vaksin adalah mengambil virus atau bakteri pembawa penyakit, atau yang sangat mirip dengannya, dan menonaktifkan atau membunuhnya dengan bahan kimia, panas atau radiasi. Pendekatan ini menggunakan teknologi yang telah terbukti berhasil pada manusia (cara pembuatan vaksin flu dan polio) dan vaksin dapat diproduksi dalam skala yang wajar. Namun, diperlukan fasilitas laboratorium khusus untuk menumbuhkan virus atau bakteri dengan aman, dapat memiliki waktu produksi yang relatif lama, dan kemungkinan membutuhkan dua atau tiga dosis untuk diberikan.
b. Vaksin hidup yang dilemahkan
Vaksin hidup yang dilemahkan menggunakan versi virus yang hidup tetapi dilemahkan atau yang sangat mirip. Vaksin campak, gondok dan rubella (MMR) dan vaksin cacar air dan herpes zoster adalah contoh dari jenis vaksin ini. Pendekatan ini menggunakan teknologi yang mirip dengan vaksin yang tidak aktif dan dapat diproduksi dalam skala besar. Namun, vaksin seperti ini mungkin tidak cocok untuk orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.
c. Vaksin vektor virus
Jenis vaksin ini menggunakan virus yang aman untuk mengirimkan sub-bagian spesifik mikroba yang diinginkan (disebut protein) sehingga dapat memicu respon imun tanpa menyebabkan penyakit. Untuk melakukan hal ini, instruksi untuk membuat bagian tertentu dari patogen yang diinginkan dimasukkan ke dalam virus yang aman. Virus yang aman kemudian berfungsi sebagai platform atau vektor untuk mengirimkan protein ke dalam tubuh. Protein inilah yang akan memicu respon imun. Vaksin Ebola merupakan vaksin vektor virus dan jenis ini dapat dikembangkan dengan pesat.
2. Pendekatan sub unit
Vaksin subunit adalah vaksin yang hanya menggunakan bagian yang sangat spesifik (subunit) dari virus atau bakteri yang perlu dikenali oleh sistem kekebalan. Vaksin ini tidak mengandung seluruh mikroba atau menggunakan virus yang aman sebagai vektor. Subunit dapat berupa protein atau gula. Sebagian besar vaksin pada jadwal masa kanak-kanak adalah vaksin subunit, melindungi orang dari penyakit seperti batuk rejan (pertussis), tetanus, difteri, dan meningitis meningokokus.
3. Pendekatan genetik
Tidak seperti pendekatan vaksin yang menggunakan mikroba utuh atau sebagian yang dilemahkan atau mati, vaksin asam nukleat hanya menggunakan bagian materi genetik yang memberikan instruksi untuk protein tertentu, bukan seluruh mikroba. DNA dan RNA adalah instruksi yang digunakan sel kita untuk membuat protein. Dalam sel kita, DNA pertama kali diubah menjadi RNA pembawa pesan, yang kemudian digunakan sebagai cetak biru (blue print) untuk membuat protein tertentu.
Vaksin asam nukleat memberikan serangkaian instruksi spesifik ke sel kita, baik sebagai DNA atau mRNA, bagi mereka untuk membuat protein spesifik yang kita ingin sistem kekebalan kita kenali dan kita respon.
Pendekatan asam nukleat adalah cara baru untuk mengembangkan vaksin. Sebelum pandemi COVID-19, belum ada yang melalui proses persetujuan penuh untuk digunakan pada manusia. Meskipun beberapa vaksin DNA, termasuk untuk kanker tertentu, sedang menjalani uji coba pada manusia. Karena pandemi, penelitian di bidang ini telah berkembang sangat cepat dan beberapa vaksin mRNA untuk COVID-19 mendapatkan otorisasi penggunaan darurat, yang berarti sekarang dapat diberikan kepada orang-orang di luar penggunaannya hanya dalam uji klinis.
Sumber : Terjemahan dari WHO
Artikel Terbaru
Lihat >>
Pernah Merasa Seperti Jatuh Saat Mau Tidur? Kenali Hypnic Jerk
Lihat >>
Risiko Penyakit Infeksi dan Sistem Surveilan untuk Penanganan Pasca Bencana Gempa Bumi: Penguatan Peran Labkesmas dalam Deteksi Dini dan Respon KLB
Lihat >>
Mengulas Bacillus cereus: Karakteristik Patogen, Risiko Toksin, dan Manajemen Pencegahan KLB Pangan
Lihat >>
Campak pada Dewasa: Bukan Sekadar Penyakit Anak
Lihat >>
Selamat Hari Tuberkulosis Sedunia
Lihat >>
Puasa sebagai Intervensi Mikrobiologis : Dampaknya terhadap Kesehatan Usus
Lihat >>
PENGUMUMAN: Pelaksanaan Program Nasional Pemantapan Mutu Eksternal (PNPME) Tahun 2026
Lihat >>
Menelusuri Jejak Mikroba pada Kasus Keracunan Pangan
Lihat >>
Sakit Sendi Setelah Demam? Ini yang Perlu Kamu Tahu
Lihat >>
SI NIMBUS YANG MERESAHKAN
Lihat >>
Hipertensi: Si Pembunuh Senyap yang Sering Diabaikan
Lihat >>
Prinsip Pemenuhan Nutrisi untuk Pasien Tuberkulosis Dalam Rangka Hari TB Dunia
Lihat >>
Bekerja aman di Biosafety Cabinet (BSC)
Lihat >>
Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG)
Lihat >>
AWaRe
Lihat >>
Budaya Kerja Kemenkes
Lihat >>
Nyamuk Aedes pembawa Wolbachia untuk mencegah infeksi demam berdarah
Lihat >>
Kondisi medis, gejala, dan penatalaksanaan yang berhubungan dengan panas
Lihat >>
Menjawab Pertanyaan seputar Penularan Cacar Monyet
Lihat >>
Yang Harus Diketahui Tentang Antraks
Lihat >>
Listeriosis (Foodborne Disease)
Lihat >>
DETEKSI DNA HPV UNTUK SKRINING KANKER SERVIKS
Lihat >>
Kanker serviks dikarenakan virus HPV
Lihat >>
Infeksi manusia oleh virus flu burung A(H5)
Lihat >>
Deteksi Infeksi Laten Tuberkulosis (ILTB)
Lihat >>
Patogenesis dan diagnosis Mycobacterium leprae
Lihat >>
SEPUTAR HIV DAN PENCEGAHAN HIV: PROFILAKSIS PASKA PAJANAN
Lihat >>
Resistensi Antimikroba Terkait Perjalanan
Lihat >>
DETEKSI LABORATORIUM Legionella pneumophilla DARI SPESIMEN MANUSIA
Lihat >>
LEGIONELLOSIS
Lihat >>
BAKTERI DALAM AIR SUSU IBU (ASI)
Lihat >>
DEKONTAMINASI
Lihat >>
PENYAKIT MULUT DAN KUKU PADA HEWAN TERNAK
Lihat >>
PENYAKIT CACAR MONYET (MONKEY POX)
Lihat >>
PENYAKIT HEPATITIS PADA ANAK YANG TIDAK DIKETAHUI PENYEBABNYA
Lihat >>
WORLD TB DAY 24 Maret 2022 Invest to End TB. Save Lives
Lihat >>
KONDISI PASKA COVID
Lihat >>
VARIAN OMICRON, EPISODE BARU DARI SARS-CoV-2
Lihat >>
DISBARISME
Lihat >>
HIPOKSIA
Lihat >>
JENIS VAKSIN
Lihat >>
PRINSIP DASAR VAKSIN
Lihat >>
KESEHATAN PENERBANGAN
Lihat >>
PERHATIKAN: PEMAKAIAN MASKER YANG BISA MELINDUNGI DARI COVID-19
Lihat >>
DEMAM DENGUE & DEMAM BERDARAH DENGUE
Lihat >>
PENGUMPULAN SPESIMEN DAHAK YANG BENAR
Lihat >>
VARIAN VIRUS SARS CoV-2
Lihat >>
VIRUS NIPAH (Niv)
Lihat >>
SEPUTAR FAKTA TENTANG VAKSIN COVID-19
Lihat >>
TRANSMISI VIRUS SARS-CoV-2
Lihat >>
BENARKAH ADA KASUS REINFEKSI COVID-19 ?
Lihat >>
STOP PENYEBARAN “SUPERBUG” GUNAKAN ANTIBIOTIK DENGAN BIJAK
Lihat >>
IMPACT OF TB LABORATORY DIAGNOSIS IN COVID-19 PANDEMIC
Lihat >>
Pemeriksaan usap dubur (swab rektal) untuk penjamah makanan
Lihat >>
DETEKSI BAKTERI RESISTEN
Lihat >>
Penerimaan Karyawan Non PNS Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya Tahun 2020
Lihat >>
HERD IMMUNITY
Lihat >>
MENINGITIS BAKTERI
Lihat >>
HARI TBC SEDUNIA
Lihat >>
PANDEMI COVID-19
Lihat >>
Fakta terbaru : Pneumonia oleh Corona Virus (2019-nCoV)
Lihat >>
Bahaya Tersembunyi Salmonella Enterocolitis Keracunan makanan akibat bakteri Salmonella
Lihat >>
Indonesia Masuki Periode Aging Population
Lihat >>
PENANGANAN PERTAMA DEMAM ANAK
Lihat >>
Hoax Imunisasi Masih Beredar
Lihat >>
WASPADALAH, DIFTERI MASIH ADA !
Lihat >>
Waspada, Filariasis Ditularkan Melalui Semua Jenis Nyamuk
Lihat >>
Satu Gigitan Anjing Bisa Renggut Nyawa
Lihat >>
Hari Santri 2018: ''Menag Ajak Santri Tebarkan Kedamaian di Sosial Media''
Lihat >>
Susu Kental Manis Bukan untuk Dikonsumsi Setiap Hari
Lihat >>
Hari Keluarga Nasional XXV Tahun 2018: Cinta Keluarga, Cinta Terencana
Lihat >>
Kemenkes: Kecanduan Game Adalah Gangguan Perilaku
Lihat >>
Pemberitahuan PNPME 2018
Lihat >>
Pengumuman Penutupan Pendaftaran PME Kimia Klinik & Mikrobiologi BTA
@bblabkesmas.surabaya
BBLKMSurabaya
BBLKMSurabaya