Prinsip Pemenuhan Nutrisi untuk Pasien Tuberkulosis Dalam Rangka Hari TB Dunia
05 Mei 2025 / By Administrator,
Oleh: dr. Titiek Sulistyowati, M. Ked. Klin, Sp. MK (K)
Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit menular yang masih sangat berkaitan dengan stigma kemiskinan, kekurangan gizi, dan fungsi kekebalan tubuh kurang. Morbiditas dan mortalitas TBC tertinggi terdapat di negara berkembang termasuk Indonesia. Kekurangan gizi akan meningkatkan risiko penyakit TBC dan penyakit TBC sendiri juga dapat menyebabkan kekurangan gizi. Oleh karena itu, kekurangan gizi sangat umum terjadi di antara pasien TBC. Kekurangan gizi merupakan faktor risiko perkembangan infeksi menjadi penyakit TBC aktif. Kekurangan gizi saat diagnosis TBC aktif merupakan prediktor peningkatan risiko kematian dan kambuhnya TBC.
Infeksi dapat menyebabkan stres gizi dan penurunan berat badan, yang dapat mempengaruhi fungsi kekebalan tubuh dan status gizi, sementara kekurangan gizi mengurangi kekebalan seluler dan meningkatkan kerentanan terhadap infeksi. Berbagai macam zat gizi seperti zat gizi makro dan mikro (vitamin, mineral, dan trace element) dikaitkan dengan peningkatan respon imun terhadap patogen intraseluler seperti bakteri Mycobacterium tuberculosis complex (M.tbc). Zat gizi ini memiliki efek imunomodulator dalam mengendalikan proses infeksi dan peradangan atau inflamasi. Kekurangan protein-energi atau zat gizi mikro dapat menyebabkan perubahan homeostasis imun sehingga meningkatkan kerentanan seseorang terhadap infeksi atau perkembangan infeksi menjadi penyakit.
Malnutrisi dan Imunitas Host
Malnutrisi diperkirakan menjadi penyebab paling umum dari defisiensi imun sekunder di seluruh dunia. Jika ada bakteri M. tuberculosis complex (M. tbc) masuk ke dalam tubuh host atau inang, maka langkah pertama respon imun tubuh adalah fagositosis makrofag alveolar yang ada di dalam paru. Suatu studi terhadap hewan coba yaitu tikus menunjukkan bahwa makrofag peritoneal pada tikus yang diberi diet atau makan rendah protein telah terbukti mengalami penurunan mobilitas, kemotaksis, perlekatan, dan konsumsi Candida albicans yang ter opsonisasi. Status gizi buruk sebagai penyebab umum defisiensi imun sekunder terlibat dalam gangguan respon imun bawaan dan adaptif dengan melemahkan atau menghambat aspek respon mikobakterisid, imunitas berbasis sel, dan pelepasan sitokin (seperti TNF, interferon , IL-12. Studi menunjukkan adanya penyimpangan respon respon sitokin dan Th-1 dan gangguan induksinya yang merupakan faktor penting bagi pertahanan adaptif terhadap patogen intraseluler. Selain itu, defisiensi kapasitas opsonik faktor komplemen C3, kemampuan dan fungsi fagositosis makrofag, serta presentasi antigen, terbukti berhubungan dengan malnutrisi.
Selain malnutrisi ditandai dengan indeks massa tubuh (IMT) rendah, defisiensi mikronutrien sering terjadi pada pasien TB dan dapat mengganggu kekebalan tubuh melalui beberapa mekanisme. Misal, vitamin D memiliki sifat imunomodulator yang diketahui dan defisiensinya telah diketahui sebagai faktor risiko infeksi saluran napas termasuk TB. Defisiensi seng dan tembaga juga dapat membatasi respon mikobakterisida. Status gizi juga dapat mempengaruhi respon vaksin. Malnutrisi telah terbukti berhubungan dengan keterlambatan reaktivitas setelah vaksinasi BCG. Selain itu, IMT rendah, defisiensi mikronutrien, malabsorpsi, dan diare, semuanya berhubungan dengan berkurangnya efektivitas vaksinasi. Komposisi tubuh yang berubah atau gangguan fungsi gastrointestinal akibat kekurangan gizi dapat mengubah farmakokinetik dan farmakodinamik obat TB dan dapat mengakibatkan kegagalan pengobatan atau peningkatan toksisitas. Fenomena ini juga diamati pada pasien kanker yang mengalami toksisitas lebih tinggi dan toleransi lebih rendah terhadap kemoterapi dengan adanya malnutrisi, terutama karena massa otot rangka yang rendah. Perubahan yang berhubungan dengan malnutrisi dapat mengakibatkan penyerapan obat yang bervariasi, volume distribusi, konsentrasi serum, kemanjuran obat, toksisitas obat, dan dapat menyebabkan dosis kurang optimal, kegagalan pengobatan, dan perkembangan resistensi obat.
Kebutuhan makronutrien pada TB aktif
TB aktif, seperti penyakit menular lain, kemungkinan akan meningkatkan kebutuhan energi, dan data tentang tingkat peningkatan kebutuhan energi sebenarnya yang disebabkan oleh infeksi HIV dapat digunakan sebagai panduan. Penelitian menunjukkan bahwa subjek yang menerima suplemen makanan selama pengobatan TB cenderung bertambah berat badan lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang tidak menerima suplemen makanan, tetapi peningkatan berat badan tersebut tidak dikaitkan dengan perbaikan hasil pengobatan TB . Saat ini tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa proporsi energi makanan dari makronutrien (misal protein, karbohidrat, dan lemak), yang juga dikenal sebagai distribusi makronutrien, berbeda untuk orang dengan TB aktif dibandingkan dengan mereka yang tidak menderita TB. Secara umum direkomendasikan agar semua orang mengonsumsi sekitar 15–30% energi sebagai protein, 25–35% sebagai lemak dan 45–65% sebagai karbohidrat.
Kebutuhan Energi dan Zat Gizi Makro
1. Anak
- Energi : Kebutuhan disesuaikan dengan faktor usia, faktor pertumbuhan dan koreksi faktor stress (150-200% AKG)
- Protein : Kebutuhan disesuaikan dengan faktor usia dan faktor pertumbuhan
- Lemak : usia < 2 thn dapat mencapai 55% dari total energi; usia > 2 thn maksimal 30% dari total energi
- Karbohidrat : usia < 2 thn dapat mencapai 40-50% dari total energi; usia > 2 thn maksimal 50-60% dari total energi. Pengurangan KH dilakukan pada kondisi sesak untuk mengurangi penumpukan CO2.
2. Dewasa
- Energi : 35 - 40 Kkal/ kgBB ideal
- Protein : 1,2 – 1,5 gram/ kg BB atau 15 % dari total energi
- Lemak : 20 – 25 % dari total energi atau ditambah bisa sampai 45% apabila karbohidrat diberikan kurang
- Karbohidrat : 60 – 70% dari total energi atau 40 – 50 % (kondisi sesak untuk mengurangi dampak metabolisme KH (CO2 ).
- Kebutuhan mikronutrien pada TB aktif
Konsentrasi sirkulasi mikronutrien yang rendah, seperti vitamin A, E, dan D, serta mineral zat besi, seng, dan selenium telah dilaporkan dari kelompok pasien yang memulai pengobatan TB aktif. Kondisi ini biasanya akan kembali normal setelah 2 bulan menjalani pengobatan TB yang tepat. Karena belum ada penelitian yang dilakukan terhadap asupan makanan mendekati waktu diagnosis, tidak jelas apakah konsentrasi rendah tersebut terkait dengan asupan makanan rendah, proses metabolisme, atau penyakit itu sendiri. Tidak diketahui apakah kembalinya konsentrasi normal yang diamati bergantung pada kualitas asupan makanan.
Kebutuhan Zat Gizi Mikro Untuk Dewasa dan Anak
Prinsip Diit, antara lain :
- Makanan mengandung energi dan protein tinggi (Tinggi Energi Tinggi Protein).
- Bentuk makanan disesuaikan dengan kemampuan makan pasien, misal pasien batuk terus menerus dianjurkan diberi makanan dalam bentuk makanan lunak.
- Apabila asupan kurang dari 50% kebutuhan, perlu kombinasi pemberian makanan, misal bentuk makanan lunak dan makanan cair (enteral).
- Frekuensi makan dapat sampai 6 kali makanan utama dengan porsi kecil yang padat gizi. Makanan padat gizi dapat dibuat dengan menambahkan susu, telur, tepung, minyak, santan, dll dalam makanan.
- Makanan berkuah atau banyak cairan.
- Utamakan sumber karbohidrat kompleks misal nasi, kentang, mi, bihun, roti.
- Hidangan makanan menarik dan mengundang selera makan.
- Bila memungkinkan, konsumsi susu 2 – 3 gelas/hari.
- Konsumsi sayur dan buah sebanyak 5 – 6 porsi/hari.
- Hindari pengolahan makanan dengan digoreng, terlalu manis (gula dan sirup), terlalu asam, es dan pedas atau merangsang lain seperti teh dan kopi karena akan merangsang batuk.
- Hindari alkohol.
Prinsip keamanan pangan, antara lain :
- Jangan makan makanan mentah dan kurang matang.
- Mencuci makanan dan peralatan makan dengan air bersih dan mengalir.
- Air minum dimasak sampai mendidih sebelum dikonsumsi. Jangan mengkonsumsi air mentah / es batu dari air mentah.
- Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir saat mengolah makanan, sebelum dan sesudah makan, setelah kontak dengan binatang, keluar dari toilet, setelah bersin dan batuk.
- Jika membeli makanan, pilih makanan segar. Perhatikan keutuhan kemasan dan tanggal kadaluarsa pada produk makanan jadi/pabrikan.
- Menyimpan makanan matang dalam kondisi tertutup paling lama 3 jam atau dihangatkan kembali.
Masalah yang Berkaitan Dengan Asupan Makan dan Penatalaksanaan
1. Tidak nafsu makan
- Mulai dengan memberikan makanan favorit
- Porsi kecil dan diberikan sering
- Pilih makanan dengan dentsitas kalori yang tinggi
- Hindari makanan dengan aroma menyengat
- Ciptakan suasana makanan yang menyenangkan
2. Batuk dan sesak napas
- Porsi kecil diberikan sering
- Memilih makanan berkuah dan bersuhu hangat
- Menghindari olahan makanan yang digoreng
- Konsistensi makanan lunak
- Bila sesak berat jumlah karbohidrat dapat dikurangi dan diganti dengan sumber lemak (contohnya santan, margarin, minyak)
- Sumber karbohidrat diutamakan dari karbohidrat kompleks (roti, kentang, nasi, mie)
3. Demam
- Berikan makanan yang kaya akan zat gizi misal sup yang isinya bervariasi
- Perbanyak minum walaupun tidak terasa haus
- Penuhi kebutuhan zat gizi sesuai dengan derajat demam
4. Penurunan Berat Badan
- Tingkatkan kualitas dan kuantitas makanan bergizi frekuensinya sering
- Berikan makanan sumber protein seperti daging, telur, susu, kacang – kacangan
- Upayakan asupan gizi secara optimal
5. Mual dan muntah
- Porsi kecil tapi sering setiap 2-3 jam
- Makan secara perlahan dan hindari berbaring setelah makan. Beri jarak antara makan dengan berbaring sekitar 20 menit.
- Mengurangi makanan yang memicu rasa mual seperti makanan yang digoreng, bersantan kental, dll.
- Hindari kafein, makanan yang berbumbu tajam, dan alcohol.
- Pemberian makanan selingan berupa roti putih, biskuit.
- Jika muntah, gantikan cairan yang keluar dengan perbanyak minum.
- Diberi motivasi untuk makan sesering mungkin sesuai kemampuan.
- Konsumsi makanan dengan jumlah banyak pada saat perut nyaman dan tidak mual.
- Makanlah di lingkungan yang tenang dan sirkulasi udara baik.
- Hindari aroma makanan yang dapat menimbulkan rasa mual.
- Hindari beraktifitas berat setelah makan.
Peran gizi yang melekat dalam TB menyoroti pentingnya mengatasi kekurangan gizi untuk memerangi penyebaran. Kekurangan gizi yang terkait dengan TB dapat memperburuk hasil prognosis, meningkatkan keparahan penyakit, membuat pengobatan menjadi kurang efektif, dan meningkatkan risiko kekambuhan. Pasien TB sering kali datang bersamaan dengan kebiasaan merokok, alkohol, atau penyalahgunaan zat lain, yang semuanya menimbulkan risiko tambahan untuk kekurangan gizi. Kekurangan gizi juga dapat meningkatkan risiko timbulnya kelemahan, kecacatan, dan komplikasi, dengan hasil lebih buruk pada banyak kondisi penyakit. Dengan demikian kekurangan gizi tidak hanya merupakan faktor risiko untuk TB, tetapi juga target pengobatan yang penting. Asupan gizi yang memadai berpotensi untuk mendukung dan meningkatkan kepatuhan dan hasil pengobatan pada pasien TB. Dukungan suplementasi gizi selama strategi pengobatan yang diobservasi secara langsung (DOTS) dikaitkan dengan respons pengobatan yang baik. Selain itu, pedoman operasional WHO tentang perawatan dan dukungan gizi untuk pasien TB merekomendasikan penilaian dan manajemen gizi yang dipersonalisasi, yang menggabungkan konseling dan intervensi gizi, untuk melawan potensi kegagalan pengobatan.
Referensi:
1. Guideline: Nutritional Care and Support for Patients with Tuberculosis. Geneva: World Health Organization; 2013. 2, Background. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK189860/
2. J. Ockenga, K. Fuhse, S. Chatterjee, R. Malykh, H. Rippin, M. Pirlich, A. Yedilbayev, K. Wickramasinghe, R. Barazzoni, Tuberculosis and malnutrition: The European perspective, Clinical Nutrition, Volume 42, Issue 4, 2023, Pages 486-492, ISSN 0261-5614, https://doi.org/10.1016/j.clnu.2023.01.016. (https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0261561423000250)
3. Nutrition Information Centre University of Stellenbosch Department of Human Nutrition P.O. Box 19063, Tygerberg, 7505 Tel: (27) 021-933 1408 Fax: (27) 021-933 1405 E-Mail: nicus@sun.ac.za WEBSITE: http://www.sun.ac.za/nicus/
4. Kemenkes RI. 2014. Pedoman Pelayanan Gizi Pada Pasien Tuberkulosis.
Artikel Terbaru
Lihat >>
Pernah Merasa Seperti Jatuh Saat Mau Tidur? Kenali Hypnic Jerk
Lihat >>
Risiko Penyakit Infeksi dan Sistem Surveilan untuk Penanganan Pasca Bencana Gempa Bumi: Penguatan Peran Labkesmas dalam Deteksi Dini dan Respon KLB
Lihat >>
Mengulas Bacillus cereus: Karakteristik Patogen, Risiko Toksin, dan Manajemen Pencegahan KLB Pangan
Lihat >>
Campak pada Dewasa: Bukan Sekadar Penyakit Anak
Lihat >>
Selamat Hari Tuberkulosis Sedunia
Lihat >>
Puasa sebagai Intervensi Mikrobiologis : Dampaknya terhadap Kesehatan Usus
Lihat >>
PENGUMUMAN: Pelaksanaan Program Nasional Pemantapan Mutu Eksternal (PNPME) Tahun 2026
Lihat >>
Menelusuri Jejak Mikroba pada Kasus Keracunan Pangan
Lihat >>
Sakit Sendi Setelah Demam? Ini yang Perlu Kamu Tahu
Lihat >>
SI NIMBUS YANG MERESAHKAN
Lihat >>
Hipertensi: Si Pembunuh Senyap yang Sering Diabaikan
Lihat >>
Prinsip Pemenuhan Nutrisi untuk Pasien Tuberkulosis Dalam Rangka Hari TB Dunia
Lihat >>
Bekerja aman di Biosafety Cabinet (BSC)
Lihat >>
Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG)
Lihat >>
AWaRe
Lihat >>
Budaya Kerja Kemenkes
Lihat >>
Nyamuk Aedes pembawa Wolbachia untuk mencegah infeksi demam berdarah
Lihat >>
Kondisi medis, gejala, dan penatalaksanaan yang berhubungan dengan panas
Lihat >>
Menjawab Pertanyaan seputar Penularan Cacar Monyet
Lihat >>
Yang Harus Diketahui Tentang Antraks
Lihat >>
Listeriosis (Foodborne Disease)
Lihat >>
DETEKSI DNA HPV UNTUK SKRINING KANKER SERVIKS
Lihat >>
Kanker serviks dikarenakan virus HPV
Lihat >>
Infeksi manusia oleh virus flu burung A(H5)
Lihat >>
Deteksi Infeksi Laten Tuberkulosis (ILTB)
Lihat >>
Patogenesis dan diagnosis Mycobacterium leprae
Lihat >>
SEPUTAR HIV DAN PENCEGAHAN HIV: PROFILAKSIS PASKA PAJANAN
Lihat >>
Resistensi Antimikroba Terkait Perjalanan
Lihat >>
DETEKSI LABORATORIUM Legionella pneumophilla DARI SPESIMEN MANUSIA
Lihat >>
LEGIONELLOSIS
Lihat >>
BAKTERI DALAM AIR SUSU IBU (ASI)
Lihat >>
DEKONTAMINASI
Lihat >>
PENYAKIT MULUT DAN KUKU PADA HEWAN TERNAK
Lihat >>
PENYAKIT CACAR MONYET (MONKEY POX)
Lihat >>
PENYAKIT HEPATITIS PADA ANAK YANG TIDAK DIKETAHUI PENYEBABNYA
Lihat >>
WORLD TB DAY 24 Maret 2022 Invest to End TB. Save Lives
Lihat >>
KONDISI PASKA COVID
Lihat >>
VARIAN OMICRON, EPISODE BARU DARI SARS-CoV-2
Lihat >>
DISBARISME
Lihat >>
HIPOKSIA
Lihat >>
JENIS VAKSIN
Lihat >>
PRINSIP DASAR VAKSIN
Lihat >>
KESEHATAN PENERBANGAN
Lihat >>
PERHATIKAN: PEMAKAIAN MASKER YANG BISA MELINDUNGI DARI COVID-19
Lihat >>
DEMAM DENGUE & DEMAM BERDARAH DENGUE
Lihat >>
PENGUMPULAN SPESIMEN DAHAK YANG BENAR
Lihat >>
VARIAN VIRUS SARS CoV-2
Lihat >>
VIRUS NIPAH (Niv)
Lihat >>
SEPUTAR FAKTA TENTANG VAKSIN COVID-19
Lihat >>
TRANSMISI VIRUS SARS-CoV-2
Lihat >>
BENARKAH ADA KASUS REINFEKSI COVID-19 ?
Lihat >>
STOP PENYEBARAN “SUPERBUG” GUNAKAN ANTIBIOTIK DENGAN BIJAK
Lihat >>
IMPACT OF TB LABORATORY DIAGNOSIS IN COVID-19 PANDEMIC
Lihat >>
Pemeriksaan usap dubur (swab rektal) untuk penjamah makanan
Lihat >>
DETEKSI BAKTERI RESISTEN
Lihat >>
Penerimaan Karyawan Non PNS Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya Tahun 2020
Lihat >>
HERD IMMUNITY
Lihat >>
MENINGITIS BAKTERI
Lihat >>
HARI TBC SEDUNIA
Lihat >>
PANDEMI COVID-19
Lihat >>
Fakta terbaru : Pneumonia oleh Corona Virus (2019-nCoV)
Lihat >>
Bahaya Tersembunyi Salmonella Enterocolitis Keracunan makanan akibat bakteri Salmonella
Lihat >>
Indonesia Masuki Periode Aging Population
Lihat >>
PENANGANAN PERTAMA DEMAM ANAK
Lihat >>
Hoax Imunisasi Masih Beredar
Lihat >>
WASPADALAH, DIFTERI MASIH ADA !
Lihat >>
Waspada, Filariasis Ditularkan Melalui Semua Jenis Nyamuk
Lihat >>
Satu Gigitan Anjing Bisa Renggut Nyawa
Lihat >>
Hari Santri 2018: ''Menag Ajak Santri Tebarkan Kedamaian di Sosial Media''
Lihat >>
Susu Kental Manis Bukan untuk Dikonsumsi Setiap Hari
Lihat >>
Hari Keluarga Nasional XXV Tahun 2018: Cinta Keluarga, Cinta Terencana
Lihat >>
Kemenkes: Kecanduan Game Adalah Gangguan Perilaku
Lihat >>
Pemberitahuan PNPME 2018
Lihat >>
Pengumuman Penutupan Pendaftaran PME Kimia Klinik & Mikrobiologi BTA
@bblabkesmas.surabaya
BBLKMSurabaya
BBLKMSurabaya