HIPOKSIA
08 November 2021 / By Administrator,
Oleh: dr. Eldy Akhirul Akbar, Flight Surgeon
A. Definisi
Akhir-akhir ini istilah ‘happy hypoxia’ sering kali muncul dan dikaitkan dengan infeksi virus Corona yang sedang mewabah di seluruh dunia. Meski memiliki nama yang mengesankan rasa bahagia, kondisi happy hypoxia perlu diwaspadai karena berbahaya bagi penderita COVID-19. Hipoksia digambarkan sebagai keadaan kekurangan oksigen dalam darah, jaringan, dan sel yang cukup menyebabkan gangguan fungsi tubuh. Salah satu faktor yang cenderung membuat hipoksia sangat berbahaya adalah gejalanya yang terjadi secara akut dan tidak disadari sehingga dapat berujung fatal. Pada penerbangan, efek akut hipoksia dapat dimulai dari ketinggian 12.000 kaki, diantaranya mengantuk, malas, kelelahan mental dan otot, kadang sakit kepala dan euphoria.
Terdapat empat jenis hipoksia jaringan yang sudah dikenal dan dapat diklasifikasikan menurut mekanisme terjadinya:
1. Hipoksia hipoksik
Normalnya, kadar oksigen di dalam darah (saturasi oksigen) ada pada rentang 95–100%. Ketika kadar oksigen di dalam darah berkurang hingga di bawah angka tersebut, tubuh akan mengalami kekurangan oksigen. Terjadi penurunan tekanan oksigen dalam udara yang dihirup atau yang ada dalam paru-paru, atau oleh kondisi yang menghalangi atau mengganggu distribusi oksigen menembus membrane alveoli. Hal ini yang terjadi pada penderita COVID-19. Untuk mengukurnya digunakan alat oximeter.
2. Hipoksia anemia
Disebabkan karena turunnya kapasitas darah untuk membawa jumlah oksigen yang mencukupi akibat berkurangnya haemoglobin.
3.Hipoksia iskemik (stagnan)
Hipoksia ini disebabkan karena sirkulasi aliran darah yang kurang baik. Pertukaran gas di paru-paru dan tekanan oksigen dan kandungan darah arterial normal, namun pengiriman oksigen ke jaringan tidak memadai
4. Hipoksia histotoksik
Akibat adanya gangguan pada kemampuan jaringan untuk memanfaatkan suplai oksigen normal untuk proses oksidatif. Alkohol, narkotika, cyanide dapat menghambat kemampuan sel untuk memanfaatkan oksigen yang tersedia, meskipun jumlahnya normal.
B.Tanda dan Gejala Hipoksia
Gejala yang timbul pada hipoksia sangat individual. Beberapa tanda dan gejala hipoksia yang umum:
C.Efek Hipoksia
Efek hipoksia akan berpengaruh pada system-sistem organ kritis dengan berbagai cara yang berbeda. Pada orang dalam keadaan sehat dengan terpapar keadaan hipoksia yang moderat akan mempunyai toleransi dengan cara membuat respon berusaha untuk meningkatkan pengiriman oksigen sementara system saraf pusat mengalami gangguan fungsi sebagai akibat kekurangan oksigen.
D. Pengobatan Hipoksia
Pengbatan hipoksia yang paling baik adalah pemberian oksigen secepat mungkin sebelum terlambat, karena bila terlambat dapat mengakibatkan kematian jaringan sampai berakibat fatal. Pada penerbangan bila terjadi hipoksia harus segera menggunakan masker oksigen atau segera turun pada ketinggian aman yaitu dibawah 10.000 kaki. Pada kasus penyakit infeksi, gejala hipoksia diredakan sesuai terapi yang penyakit tersebut.
Sumber :
1. Petunjuk Teknis Pemeriksaan Kelaikan Terbang Penumpang Pesawat Udara. Ditjen P2PL, Jakarta 2007.
2. Ernsting's Aviation and Space Medicine. CRC Press, 2016.
3. Recognizing happy hypoxia syndrome as a new symptom of covid19. https://ugm.ac.id/en/news/19993.
Artikel Terbaru
Lihat >>
Pernah Merasa Seperti Jatuh Saat Mau Tidur? Kenali Hypnic Jerk
Lihat >>
Risiko Penyakit Infeksi dan Sistem Surveilan untuk Penanganan Pasca Bencana Gempa Bumi: Penguatan Peran Labkesmas dalam Deteksi Dini dan Respon KLB
Lihat >>
Mengulas Bacillus cereus: Karakteristik Patogen, Risiko Toksin, dan Manajemen Pencegahan KLB Pangan
Lihat >>
Campak pada Dewasa: Bukan Sekadar Penyakit Anak
Lihat >>
Selamat Hari Tuberkulosis Sedunia
Lihat >>
Puasa sebagai Intervensi Mikrobiologis : Dampaknya terhadap Kesehatan Usus
Lihat >>
PENGUMUMAN: Pelaksanaan Program Nasional Pemantapan Mutu Eksternal (PNPME) Tahun 2026
Lihat >>
Menelusuri Jejak Mikroba pada Kasus Keracunan Pangan
Lihat >>
Sakit Sendi Setelah Demam? Ini yang Perlu Kamu Tahu
Lihat >>
SI NIMBUS YANG MERESAHKAN
Lihat >>
Hipertensi: Si Pembunuh Senyap yang Sering Diabaikan
Lihat >>
Prinsip Pemenuhan Nutrisi untuk Pasien Tuberkulosis Dalam Rangka Hari TB Dunia
Lihat >>
Bekerja aman di Biosafety Cabinet (BSC)
Lihat >>
Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG)
Lihat >>
AWaRe
Lihat >>
Budaya Kerja Kemenkes
Lihat >>
Nyamuk Aedes pembawa Wolbachia untuk mencegah infeksi demam berdarah
Lihat >>
Kondisi medis, gejala, dan penatalaksanaan yang berhubungan dengan panas
Lihat >>
Menjawab Pertanyaan seputar Penularan Cacar Monyet
Lihat >>
Yang Harus Diketahui Tentang Antraks
Lihat >>
Listeriosis (Foodborne Disease)
Lihat >>
DETEKSI DNA HPV UNTUK SKRINING KANKER SERVIKS
Lihat >>
Kanker serviks dikarenakan virus HPV
Lihat >>
Infeksi manusia oleh virus flu burung A(H5)
Lihat >>
Deteksi Infeksi Laten Tuberkulosis (ILTB)
Lihat >>
Patogenesis dan diagnosis Mycobacterium leprae
Lihat >>
SEPUTAR HIV DAN PENCEGAHAN HIV: PROFILAKSIS PASKA PAJANAN
Lihat >>
Resistensi Antimikroba Terkait Perjalanan
Lihat >>
DETEKSI LABORATORIUM Legionella pneumophilla DARI SPESIMEN MANUSIA
Lihat >>
LEGIONELLOSIS
Lihat >>
BAKTERI DALAM AIR SUSU IBU (ASI)
Lihat >>
DEKONTAMINASI
Lihat >>
PENYAKIT MULUT DAN KUKU PADA HEWAN TERNAK
Lihat >>
PENYAKIT CACAR MONYET (MONKEY POX)
Lihat >>
PENYAKIT HEPATITIS PADA ANAK YANG TIDAK DIKETAHUI PENYEBABNYA
Lihat >>
WORLD TB DAY 24 Maret 2022 Invest to End TB. Save Lives
Lihat >>
KONDISI PASKA COVID
Lihat >>
VARIAN OMICRON, EPISODE BARU DARI SARS-CoV-2
Lihat >>
DISBARISME
Lihat >>
HIPOKSIA
Lihat >>
JENIS VAKSIN
Lihat >>
PRINSIP DASAR VAKSIN
Lihat >>
KESEHATAN PENERBANGAN
Lihat >>
PERHATIKAN: PEMAKAIAN MASKER YANG BISA MELINDUNGI DARI COVID-19
Lihat >>
DEMAM DENGUE & DEMAM BERDARAH DENGUE
Lihat >>
PENGUMPULAN SPESIMEN DAHAK YANG BENAR
Lihat >>
VARIAN VIRUS SARS CoV-2
Lihat >>
VIRUS NIPAH (Niv)
Lihat >>
SEPUTAR FAKTA TENTANG VAKSIN COVID-19
Lihat >>
TRANSMISI VIRUS SARS-CoV-2
Lihat >>
BENARKAH ADA KASUS REINFEKSI COVID-19 ?
Lihat >>
STOP PENYEBARAN “SUPERBUG” GUNAKAN ANTIBIOTIK DENGAN BIJAK
Lihat >>
IMPACT OF TB LABORATORY DIAGNOSIS IN COVID-19 PANDEMIC
Lihat >>
Pemeriksaan usap dubur (swab rektal) untuk penjamah makanan
Lihat >>
DETEKSI BAKTERI RESISTEN
Lihat >>
Penerimaan Karyawan Non PNS Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya Tahun 2020
Lihat >>
HERD IMMUNITY
Lihat >>
MENINGITIS BAKTERI
Lihat >>
HARI TBC SEDUNIA
Lihat >>
PANDEMI COVID-19
Lihat >>
Fakta terbaru : Pneumonia oleh Corona Virus (2019-nCoV)
Lihat >>
Bahaya Tersembunyi Salmonella Enterocolitis Keracunan makanan akibat bakteri Salmonella
Lihat >>
Indonesia Masuki Periode Aging Population
Lihat >>
PENANGANAN PERTAMA DEMAM ANAK
Lihat >>
Hoax Imunisasi Masih Beredar
Lihat >>
WASPADALAH, DIFTERI MASIH ADA !
Lihat >>
Waspada, Filariasis Ditularkan Melalui Semua Jenis Nyamuk
Lihat >>
Satu Gigitan Anjing Bisa Renggut Nyawa
Lihat >>
Hari Santri 2018: ''Menag Ajak Santri Tebarkan Kedamaian di Sosial Media''
Lihat >>
Susu Kental Manis Bukan untuk Dikonsumsi Setiap Hari
Lihat >>
Hari Keluarga Nasional XXV Tahun 2018: Cinta Keluarga, Cinta Terencana
Lihat >>
Kemenkes: Kecanduan Game Adalah Gangguan Perilaku
Lihat >>
Pemberitahuan PNPME 2018
Lihat >>
Pengumuman Penutupan Pendaftaran PME Kimia Klinik & Mikrobiologi BTA
@bblabkesmas.surabaya
BBLKMSurabaya
BBLKMSurabaya