LEGIONELLOSIS
02 September 2022 / By Administrator,
Oleh : dr. Titiek Sulistyowati, M. Ked. Klin, Sp. MK
Legionellosis merupakan penyakit infeksi oleh paparan spesies bakteri Legionella dengan manifestasi klinis bervariasi mulai dari demam ringan sampai dengan pneumonia berat, bahkan bisa mengakibatkan komplikasi fatal. Kasus legionellosis sering dikategorikan sebagai penyakit komunitas, penyakit akibat perjalanan atau penyakit dapatan rumah sakit berdasarkan jenis paparan. Di seluruh dunia, penularan Legionella pneumophila melalui air merupakan penyebab paling umum kasus, termasuk wabah. Legionella pneumophila dan spesies terkait sering ditemukan di danau, sungai, anak sungai, mata air panas, dan sumber air lain. Dosis infektif tidak diketahui, tetapi dapat diasumsikan dosis rendah untuk orang yang rentan, karena penyakit bisa terjadi setelah paparan singkat dan jarak 3 kilometer atau lebih dari sumber wabah. Penyakit tergantung pada konsentrasi Legionella di sumber air, produksi dan penyebaran aerosol, faktor inang seperti usia dan riwayat kesehatan sebelumnya serta virulensi strain Legionella. Sebagian besar infeksi tidak menyebabkan penyakit. Bakteri hidup dan tumbuh di sistem air pada suhu 20 - 50 °C (optimal 35 °C). Legionella dapat bertahan hidup, tumbuh sebagai parasit dalam protozoa yang hidup bebas dan biofilm yang berkembang dalam sistem air. Mereka dapat menyebabkan infeksi dengan menginfeksi sel manusia menggunakan mekanisme yang mirip dengan yang digunakan untuk menginfeksi protozoa. Belum ada laporan penularan langsung dari manusia ke manusia.
Kasus yang dilaporkan, 75-80% berusia > 50 tahun dan 60-70% adalah laki-laki. Faktor risiko lain pada legionellosis yang didapat dari masyarakat/komunitas dan terkait perjalanan antara lain merokok, riwayat peminum berat, penyakit yang berhubungan dengan paru, penurunan kekebalan, dan penyakit pernapasan atau ginjal kronis. Faktor risiko untuk pneumonia yang didapat di rumah sakit adalah riwayat operasi, intubasi, ventilasi mekanis, aspirasi, selang nasogastrik, dan penggunaan peralatan terapi pernapasan. Inang yang paling rentan adalah pasien dengan gangguan kekebalan, termasuk penerima transplantasi organ, pasien kanker dan pasien dengan terapi kortikosteroid.
Gejala legionellosis ada dua bentuk, antara lain :
• Bentuk non-pneumonia (penyakit Pontiac) adalah penyakit seperti influenza akut yang sembuh sendiri, berlangsung 2-5 hari. Masa inkubasi hingga 48 jam. Gejala utama adalah demam, menggigil, sakit kepala, malaise atau lemah dan nyeri otot (mialgia). Tidak ada kematian yang terkait dengan jenis infeksi ini.
• Bentuk pneumonia (penyakit Legionnaires), dengan masa inkubasi 2 - 10 hari (sampai 16 hari telah dicatat dalam beberapa wabah). Awal gejala adalah demam, kehilangan nafsu makan, sakit kepala, malaise dan lesu. Beberapa pasien mungkin juga mengalami nyeri otot, diare, dan kebingungan. Biasanya juga ada batuk ringan awal, tetapi 50% pasien dapat berdahak. Dahak bercampur darah atau hemoptisis terjadi pada sekitar 1/3 pasien. Tingkat keparahan penyakit berkisar dari batuk ringan hingga pneumonia yang cepat fatal. Kematian terjadi karena pneumonia progresif dengan gagal napas dan/atau syok serta kegagalan multi-organ. Penyakit Legionnaire yang tidak diobati biasanya memburuk selama minggu pertama.
Tingkat kematian akibat penyakit Legionnaires tergantung pada tingkat keparahan penyakit, kesesuaian pengobatan antimikroba awal, asal Legionella didapat, dan faktor inang (misal, penyakit bisa lebih serius pada pasien dengan imunosupresi). Tingkat kematian mungkin 40-80% pada pasien imunosupresi yang tidak diobati dan dapat berkurang menjadi 5-30% melalui manajemen kasus yang tepat dan tergantung pada tingkat keparahan serta gejala klinis. Secara keseluruhan angka kematian biasanya dalam kisaran 5-10%.
Bentuk infeksi non pneumonia bersifat self-limiting (sembuh sendiri) dan tidak memerlukan intervensi medis, termasuk pengobatan antibiotik. Pasien dengan penyakit Legionnaires (bentuk pneumonia) selalu membutuhkan pengobatan antibiotik segera setelah diagnosis.
Ancaman kesehatan masyarakat yang ditimbulkan oleh Legionellosis dapat diatasi dengan penerapan tindakan pengendalian untuk meminimalkan pertumbuhan Legionella dan penyebaran aerosol. Langkah ini termasuk pemeliharaan instalasi air yang baik, termasuk pembersihan dan disinfeksi secara teratur dan menerapkan tindakan fisik (suhu) atau kimia lainnya (biosida) untuk meminimalkan pertumbuhan.
Beberapa contoh adalah:
1. Pemeliharaan, pembersihan dan disinfeksi rutin dari menara pendingin bersama dengan penambahan biosida secara frekuen atau terus-menerus;
2. Pemasangan drift eliminator untuk mengurangi penyebaran aerosol dari menara pendingin;
3. Memberikan biosida yang memadai seperti klorin di kolam spa bersama dengan saluran pembuangan lengkap dan pembersihan seluruh sistem setidaknya setiap minggu;
4. Menjaga sistem air panas dan dingin tetap bersih dan menjaga air panas di atas 50 °C (yang membutuhkan air yang keluar dari unit pemanas berada pada atau di atas 60 °C) dan air dingin di bawah 25 °C dan idealnya di bawah 20 °C atau sebagai alternatif pengolahan dengan biosida yang sesuai untuk membatasi pertumbuhan bakteri, terutama di rumah sakit dan fasilitas Kesehatan lain;
5. Mengurangi stagnasi dengan menyiram keran yang tidak digunakan di gedung setiap minggu.
Menerapkan kontrol tersebut akan sangat mengurangi risiko kontaminasi Legionella dan mencegah terjadinya kasus sporadis dan wabah. Tindakan pencegahan ekstra mungkin diperlukan untuk air yang disediakan untuk pasien yang sangat rentan di rumah sakit termasuk mereka yang berisiko mengalami aspirasi (misal, mesin es dapat menjadi sumber Legionella dan tidak boleh digunakan oleh pasien yang sangat rentan). Upaya pengendalian dan pencegahan harus disertai dengan kewaspadaan yang baik dari dokter umum dan pelayanan kesehatan masyarakat untuk mendeteksi kasus.
REFERENSI : Legionellosis (who.int)
Artikel Terbaru
Lihat >>
Pernah Merasa Seperti Jatuh Saat Mau Tidur? Kenali Hypnic Jerk
Lihat >>
Risiko Penyakit Infeksi dan Sistem Surveilan untuk Penanganan Pasca Bencana Gempa Bumi: Penguatan Peran Labkesmas dalam Deteksi Dini dan Respon KLB
Lihat >>
Mengulas Bacillus cereus: Karakteristik Patogen, Risiko Toksin, dan Manajemen Pencegahan KLB Pangan
Lihat >>
Campak pada Dewasa: Bukan Sekadar Penyakit Anak
Lihat >>
Selamat Hari Tuberkulosis Sedunia
Lihat >>
Puasa sebagai Intervensi Mikrobiologis : Dampaknya terhadap Kesehatan Usus
Lihat >>
PENGUMUMAN: Pelaksanaan Program Nasional Pemantapan Mutu Eksternal (PNPME) Tahun 2026
Lihat >>
Menelusuri Jejak Mikroba pada Kasus Keracunan Pangan
Lihat >>
Sakit Sendi Setelah Demam? Ini yang Perlu Kamu Tahu
Lihat >>
SI NIMBUS YANG MERESAHKAN
Lihat >>
Hipertensi: Si Pembunuh Senyap yang Sering Diabaikan
Lihat >>
Prinsip Pemenuhan Nutrisi untuk Pasien Tuberkulosis Dalam Rangka Hari TB Dunia
Lihat >>
Bekerja aman di Biosafety Cabinet (BSC)
Lihat >>
Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG)
Lihat >>
AWaRe
Lihat >>
Budaya Kerja Kemenkes
Lihat >>
Nyamuk Aedes pembawa Wolbachia untuk mencegah infeksi demam berdarah
Lihat >>
Kondisi medis, gejala, dan penatalaksanaan yang berhubungan dengan panas
Lihat >>
Menjawab Pertanyaan seputar Penularan Cacar Monyet
Lihat >>
Yang Harus Diketahui Tentang Antraks
Lihat >>
Listeriosis (Foodborne Disease)
Lihat >>
DETEKSI DNA HPV UNTUK SKRINING KANKER SERVIKS
Lihat >>
Kanker serviks dikarenakan virus HPV
Lihat >>
Infeksi manusia oleh virus flu burung A(H5)
Lihat >>
Deteksi Infeksi Laten Tuberkulosis (ILTB)
Lihat >>
Patogenesis dan diagnosis Mycobacterium leprae
Lihat >>
SEPUTAR HIV DAN PENCEGAHAN HIV: PROFILAKSIS PASKA PAJANAN
Lihat >>
Resistensi Antimikroba Terkait Perjalanan
Lihat >>
DETEKSI LABORATORIUM Legionella pneumophilla DARI SPESIMEN MANUSIA
Lihat >>
LEGIONELLOSIS
Lihat >>
BAKTERI DALAM AIR SUSU IBU (ASI)
Lihat >>
DEKONTAMINASI
Lihat >>
PENYAKIT MULUT DAN KUKU PADA HEWAN TERNAK
Lihat >>
PENYAKIT CACAR MONYET (MONKEY POX)
Lihat >>
PENYAKIT HEPATITIS PADA ANAK YANG TIDAK DIKETAHUI PENYEBABNYA
Lihat >>
WORLD TB DAY 24 Maret 2022 Invest to End TB. Save Lives
Lihat >>
KONDISI PASKA COVID
Lihat >>
VARIAN OMICRON, EPISODE BARU DARI SARS-CoV-2
Lihat >>
DISBARISME
Lihat >>
HIPOKSIA
Lihat >>
JENIS VAKSIN
Lihat >>
PRINSIP DASAR VAKSIN
Lihat >>
KESEHATAN PENERBANGAN
Lihat >>
PERHATIKAN: PEMAKAIAN MASKER YANG BISA MELINDUNGI DARI COVID-19
Lihat >>
DEMAM DENGUE & DEMAM BERDARAH DENGUE
Lihat >>
PENGUMPULAN SPESIMEN DAHAK YANG BENAR
Lihat >>
VARIAN VIRUS SARS CoV-2
Lihat >>
VIRUS NIPAH (Niv)
Lihat >>
SEPUTAR FAKTA TENTANG VAKSIN COVID-19
Lihat >>
TRANSMISI VIRUS SARS-CoV-2
Lihat >>
BENARKAH ADA KASUS REINFEKSI COVID-19 ?
Lihat >>
STOP PENYEBARAN “SUPERBUG” GUNAKAN ANTIBIOTIK DENGAN BIJAK
Lihat >>
IMPACT OF TB LABORATORY DIAGNOSIS IN COVID-19 PANDEMIC
Lihat >>
Pemeriksaan usap dubur (swab rektal) untuk penjamah makanan
Lihat >>
DETEKSI BAKTERI RESISTEN
Lihat >>
Penerimaan Karyawan Non PNS Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya Tahun 2020
Lihat >>
HERD IMMUNITY
Lihat >>
MENINGITIS BAKTERI
Lihat >>
HARI TBC SEDUNIA
Lihat >>
PANDEMI COVID-19
Lihat >>
Fakta terbaru : Pneumonia oleh Corona Virus (2019-nCoV)
Lihat >>
Bahaya Tersembunyi Salmonella Enterocolitis Keracunan makanan akibat bakteri Salmonella
Lihat >>
Indonesia Masuki Periode Aging Population
Lihat >>
PENANGANAN PERTAMA DEMAM ANAK
Lihat >>
Hoax Imunisasi Masih Beredar
Lihat >>
WASPADALAH, DIFTERI MASIH ADA !
Lihat >>
Waspada, Filariasis Ditularkan Melalui Semua Jenis Nyamuk
Lihat >>
Satu Gigitan Anjing Bisa Renggut Nyawa
Lihat >>
Hari Santri 2018: ''Menag Ajak Santri Tebarkan Kedamaian di Sosial Media''
Lihat >>
Susu Kental Manis Bukan untuk Dikonsumsi Setiap Hari
Lihat >>
Hari Keluarga Nasional XXV Tahun 2018: Cinta Keluarga, Cinta Terencana
Lihat >>
Kemenkes: Kecanduan Game Adalah Gangguan Perilaku
Lihat >>
Pemberitahuan PNPME 2018
Lihat >>
Pengumuman Penutupan Pendaftaran PME Kimia Klinik & Mikrobiologi BTA
@bblabkesmas.surabaya
BBLKMSurabaya
BBLKMSurabaya