BENARKAH ADA KASUS REINFEKSI COVID-19 ?
08 Desember 2020 / By Administrator,
dr. Titiek Sulistyowati, MKK, Sp. MK
BBLK Surabaya
Saat ini informasi tentang kasus reinfeksi (infeksi ulang) terhadap virus penyebab COVID-19 yaitu SARS CoV-2 masih terbatas. SARS CoV-2 merupakan virus baru dan masih banyak yang harus dipelajari dan diteliti lebih lanjut. Data yang tersedia menunjukkan bahwa seseorang yang pernah dan pulih dari COVID-19 mungkin memiliki jumlah atau load virus yang rendah di tubuhnya sampai dengan 3 (tiga) bulan setelah penegakan diagnosis. Artinya, jika orang telah sembuh dari COVID-19 dilakukan tes ulang pemeriksaan PCR dalam waktu 3 (tiga) bulan setelah terinfeksi, maka orang tersebut dapat terus terdeteksi sebagai hasil tes positif, meskipun tidak berpotensi menyebarkan COVID-19. Hal ini dikarenakan tes PCR merupakan alat untuk mendeteksi materi genetik (RNA) dan tidak bisa mendeteksi virus viable (hidup).
Berdasarkan informasi dai CDC, tidak ada laporan terkonfirmasi sampai saat ini tentang seseorang yang mengalami reinfeksi COVID-19 dalam waktu 3 (tiga) bulan sejak infeksi awal. Akan tetapi, penelitian masih terus berlanjut. Oleh karena itu, jika ada seseorang yang sudah sembuh dari COVID-19 mengalami gejala baru COVID-19, maka orang tersebut mungkin memerlukan evaluasi untuk kasus reinfeksi, terutama jika orang tersebut telah melakukan kontak dekat dengan seseorang yang terinfeksi COVID-19. Orang tersebut harus mengisolasi dan menghubungi penyedia layanan kesehatan untuk dievaluasi penyebab lain dari gejala mereka dan mungkin perlu dilakukan tes ulang. Pemeriksaan gold standard untuk konfirmasi kasus reinfeksi SARS-CoV-2 adalah data deteksi virus pada 2 (dua) periode waktu yang berbeda yaitu saat infeksi awal dan infeksi kedua, dilengkapi dengan data sequencing yang diperlukan untuk mendukung kesimpulan bahwa kemungkinan besar reinfeksi telah terjadi. Reinfeksi SARS-CoV-2 dapat dibedakan dari penyebaran virus yang menetap melalui berbagai parameter pemeriksaan laboratorium, gejala pasien, dan / atau hubungan epidemiologi. Namun, reinfeksi tidak dapat dipastikan jika spesimen klinis dari penyakit awal virus Corona 2019 (COVID-19) tidak ada.
Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa kasus reinfeksi bisa terjadi pada human coronavirus lain (HCoV). Sebuah penelitian di Kenya menemukan bahwa 4–21% orang yang terinfeksi virus corona endemik (yaitu HCoV-229E, NCoV-NL63, dan HCoV-OC43) mengalami 2 (dua) atau lebih episode infeksi dengan spesies virus yang sama selama periode 6 (enam) bulan. Studi lain tentang HCoV adalah peningkatan antibodi sebagai proksi untuk reinfeksi dan menjelaskan bahwa reinfeksi terjadi dalam waktu rata-rata 30 (tiga puluh) bulan, tetapi dapat terjadi paling cepat 6 (enam) bulan setelah infeksi yang pertama. Namun demikian, data imunologi tentang daya tahan imunitas untuk SARS-CoV-2 hanya terbatas. Korea Selatan telah mendokumentasikan kasus COVID-19 yang terkonfirmasi oleh RT-PCR pada saat infeksi awal, beberapa waktu menjadi tidak dapat dideteksi oleh RT-PCR atau hasil negatif, kemudian dilakukan tes ulang dengan hasil positif dalam waktu 35 hari dikarenakan deteksi genom virus yang tidak lengkap (rusak), sehingga disimpulkan bahwa reinfeksi tidak terdeteksi selama jangka waktu tersebut.
Sebuah studi oleh Richard Tillet dkk yang diterbitkan dalam jurnal The Lancet Infectious Diseases telah memetakan kasus reinfeksi COVID-19 pertama yang telah dikonfirmasi di Amerika Serikat dan menunjukkan bahwa paparan virus mungkin tidak menjamin kekebalan tubuh atau sistem imun di masa depan. Pasien pria, usia 25 tahun, tanpa riwayat komorbid, terinfeksi oleh 2 (dua) varian SARS-CoV-2 yang berbeda dalam jangka waktu 48 (empat puluh delapan) hari. Infeksi awal terkonfirmasi positif pada April 2020 (spesimen A = infeksi awal) dan dikarantina sesuai dengan protokol. Pasien tersebut dilakukan pemeriksaan RT-PCR sebanyak 2 (dua) kali berturut-turut sesudahnya dan hasil negatif. Namun, 48 hari setelah infeksi awal, pasien mengalami gejala COVID-19 dan dilakukan pemeriksaan RT-PCR (spesimen B = reinfeksi) dengan hasil positif. Deteksi ini disimpulkan sebagai infeksi kedua atau reinfeksi dikarenakan pemeriksaan genom virus menunjukkan bahwa 2 (dua) spesimen yang berbeda ini yaitu A dan B masih termasuk dalam clade 20C, clade dominan di Nevada Utara. Akan tetapi, urutan genom isolat spesimen A dan B berbeda secara signifikan, sehingga kecil kemungkinan virus tersebut berasal dari infeksi yang sama. Yang mengkhawatirkan dari kasus reinfeksi adalah dampak penyakit yang lebih buruk dibandingkan infeksi pertama, sehingga pasien tersebut harus dirawat inap di Rumah Sakit dan membutuhkan bantuan oksigen untuk pernapasan. Pasien tersebut telah memiliki antibodi positif setelah reinfeksi, tetapi apakah ia memiliki antibodi saat infeksi awal tidak diketahui. Makalah tersebut mencatat ada 4 (empat) kasus reinfeksi lain yang terkonfirmasi secara global, yaitu dari Belgia, Belanda, Hong Kong dan Ekuador. Berikut merupakan tabel kasus reinfeksi yang dilaporkan.
Terkait beberapa laporan di atas, maka masyarakat sebaiknya tetap waspada terhadap virus penyebab COVID-19 ini. CDC merekomendasikan agar semua orang, baik yang pernah atau tidak terjangkit COVID-19, selalu mengambil langkah untuk mencegah tertular dan menyebarkan COVID-19. Cuci tangan secara teratur, jaga jarak setidaknya 6 kaki dari orang lain jika memungkinkan, hindari keramaian dan kenakan masker.
Referensi :
1.Common Investigation Protocol for Investigating Suspected SARS-CoV-2 Reinfection | CDC
2.Reinfection with COVID-19 | CDC
3.Lancet infect Dis 2020 Published Online October 12, 2020 https://doi.org/10.1016/ S1473-3099(20)30783-0
Artikel Terbaru
Lihat >>
Pernah Merasa Seperti Jatuh Saat Mau Tidur? Kenali Hypnic Jerk
Lihat >>
Risiko Penyakit Infeksi dan Sistem Surveilan untuk Penanganan Pasca Bencana Gempa Bumi: Penguatan Peran Labkesmas dalam Deteksi Dini dan Respon KLB
Lihat >>
Mengulas Bacillus cereus: Karakteristik Patogen, Risiko Toksin, dan Manajemen Pencegahan KLB Pangan
Lihat >>
Campak pada Dewasa: Bukan Sekadar Penyakit Anak
Lihat >>
Selamat Hari Tuberkulosis Sedunia
Lihat >>
Puasa sebagai Intervensi Mikrobiologis : Dampaknya terhadap Kesehatan Usus
Lihat >>
PENGUMUMAN: Pelaksanaan Program Nasional Pemantapan Mutu Eksternal (PNPME) Tahun 2026
Lihat >>
Menelusuri Jejak Mikroba pada Kasus Keracunan Pangan
Lihat >>
Sakit Sendi Setelah Demam? Ini yang Perlu Kamu Tahu
Lihat >>
SI NIMBUS YANG MERESAHKAN
Lihat >>
Hipertensi: Si Pembunuh Senyap yang Sering Diabaikan
Lihat >>
Prinsip Pemenuhan Nutrisi untuk Pasien Tuberkulosis Dalam Rangka Hari TB Dunia
Lihat >>
Bekerja aman di Biosafety Cabinet (BSC)
Lihat >>
Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG)
Lihat >>
AWaRe
Lihat >>
Budaya Kerja Kemenkes
Lihat >>
Nyamuk Aedes pembawa Wolbachia untuk mencegah infeksi demam berdarah
Lihat >>
Kondisi medis, gejala, dan penatalaksanaan yang berhubungan dengan panas
Lihat >>
Menjawab Pertanyaan seputar Penularan Cacar Monyet
Lihat >>
Yang Harus Diketahui Tentang Antraks
Lihat >>
Listeriosis (Foodborne Disease)
Lihat >>
DETEKSI DNA HPV UNTUK SKRINING KANKER SERVIKS
Lihat >>
Kanker serviks dikarenakan virus HPV
Lihat >>
Infeksi manusia oleh virus flu burung A(H5)
Lihat >>
Deteksi Infeksi Laten Tuberkulosis (ILTB)
Lihat >>
Patogenesis dan diagnosis Mycobacterium leprae
Lihat >>
SEPUTAR HIV DAN PENCEGAHAN HIV: PROFILAKSIS PASKA PAJANAN
Lihat >>
Resistensi Antimikroba Terkait Perjalanan
Lihat >>
DETEKSI LABORATORIUM Legionella pneumophilla DARI SPESIMEN MANUSIA
Lihat >>
LEGIONELLOSIS
Lihat >>
BAKTERI DALAM AIR SUSU IBU (ASI)
Lihat >>
DEKONTAMINASI
Lihat >>
PENYAKIT MULUT DAN KUKU PADA HEWAN TERNAK
Lihat >>
PENYAKIT CACAR MONYET (MONKEY POX)
Lihat >>
PENYAKIT HEPATITIS PADA ANAK YANG TIDAK DIKETAHUI PENYEBABNYA
Lihat >>
WORLD TB DAY 24 Maret 2022 Invest to End TB. Save Lives
Lihat >>
KONDISI PASKA COVID
Lihat >>
VARIAN OMICRON, EPISODE BARU DARI SARS-CoV-2
Lihat >>
DISBARISME
Lihat >>
HIPOKSIA
Lihat >>
JENIS VAKSIN
Lihat >>
PRINSIP DASAR VAKSIN
Lihat >>
KESEHATAN PENERBANGAN
Lihat >>
PERHATIKAN: PEMAKAIAN MASKER YANG BISA MELINDUNGI DARI COVID-19
Lihat >>
DEMAM DENGUE & DEMAM BERDARAH DENGUE
Lihat >>
PENGUMPULAN SPESIMEN DAHAK YANG BENAR
Lihat >>
VARIAN VIRUS SARS CoV-2
Lihat >>
VIRUS NIPAH (Niv)
Lihat >>
SEPUTAR FAKTA TENTANG VAKSIN COVID-19
Lihat >>
TRANSMISI VIRUS SARS-CoV-2
Lihat >>
BENARKAH ADA KASUS REINFEKSI COVID-19 ?
Lihat >>
STOP PENYEBARAN “SUPERBUG” GUNAKAN ANTIBIOTIK DENGAN BIJAK
Lihat >>
IMPACT OF TB LABORATORY DIAGNOSIS IN COVID-19 PANDEMIC
Lihat >>
Pemeriksaan usap dubur (swab rektal) untuk penjamah makanan
Lihat >>
DETEKSI BAKTERI RESISTEN
Lihat >>
Penerimaan Karyawan Non PNS Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya Tahun 2020
Lihat >>
HERD IMMUNITY
Lihat >>
MENINGITIS BAKTERI
Lihat >>
HARI TBC SEDUNIA
Lihat >>
PANDEMI COVID-19
Lihat >>
Fakta terbaru : Pneumonia oleh Corona Virus (2019-nCoV)
Lihat >>
Bahaya Tersembunyi Salmonella Enterocolitis Keracunan makanan akibat bakteri Salmonella
Lihat >>
Indonesia Masuki Periode Aging Population
Lihat >>
PENANGANAN PERTAMA DEMAM ANAK
Lihat >>
Hoax Imunisasi Masih Beredar
Lihat >>
WASPADALAH, DIFTERI MASIH ADA !
Lihat >>
Waspada, Filariasis Ditularkan Melalui Semua Jenis Nyamuk
Lihat >>
Satu Gigitan Anjing Bisa Renggut Nyawa
Lihat >>
Hari Santri 2018: ''Menag Ajak Santri Tebarkan Kedamaian di Sosial Media''
Lihat >>
Susu Kental Manis Bukan untuk Dikonsumsi Setiap Hari
Lihat >>
Hari Keluarga Nasional XXV Tahun 2018: Cinta Keluarga, Cinta Terencana
Lihat >>
Kemenkes: Kecanduan Game Adalah Gangguan Perilaku
Lihat >>
Pemberitahuan PNPME 2018
Lihat >>
Pengumuman Penutupan Pendaftaran PME Kimia Klinik & Mikrobiologi BTA
@bblabkesmas.surabaya
BBLKMSurabaya
BBLKMSurabaya