Patogenesis dan diagnosis Mycobacterium leprae
04 Januari 2023 / By Administrator,
Oleh dr. Titiek Sulistyowati., M. Ked. Klin., Sp. MK
Penyakit kusta atau lepra sudah dikenal oleh masyarakat sejak lama. Penyakit ini disebabkan infeksi bakteri Mycobacterium leprae. M. leprae ditemukan oleh Armauer H.G.H. pada tahun 1873 (1841–1912). Bukti tertua M. leprae telah diidentifikasi pada sisa kerangka di India dari tahun 2000 SM. M. leprae merupakan bakteri pertama yang diidentifikasi sebagai agen penyebab penyakit pada manusia. Mycobacterium leprae hidup intraseluler (di dalam sel) dan mempunyai afinitas besar pada sel saraf (Schwan cell) dan sel dari sistem retikuloendotelial. Kusta ini merupakan penyakit yang melibatkan sistem syaraf tepi (neurologis), kulit (dermatologis), mata dan saluran pernapasan.
Bakteri M. leprae mempunyai masa inkubasi rata-rata 2-5 tahun, tetapi dapat juga bertahun-tahun. Bakteri ini menular melalui droplet dari hidung dan mulut. Penularan terjadi jika kontak lama (berbulan-bulan) dan dekat dengan pasien kusta yang tidak diobati. Penyakit ini tidak menular melalui kontak biasa dengan pasien kusta seperti bersalaman, berpelukan, berbagi makanan maupun duduk bersebelahan. Selain itu, pasien sudah tidak menularkan penyakit saat mereka mulai pengobatan. Menurut teori, cara masuk M. leprae ke dalam tubuh melalui saluran pernapasan bagian atas dan kontak kulit lama. Faktor kekebalan tubuh berperan pada terjangkitnya kusta, sehingga kondisi manusia dengan kekebalan tubuh rendah akan mudah terinfeksi. Sebagian besar (95%) manusia kebal terhadap kusta, hanya sebagian kecil dapat tertular (5%). Dari 5% yang tertular, sekitar 70% dapat sembuh sendiri dan hanya 30% menjadi sakit.
Diagnosis kusta dilakukan secara klinis. Layanan berbasis laboratorium mungkin diperlukan dalam kasus yang sulit didiagnosis. Manifestasi penyakit umumnya melalui lesi kulit dan saraf perifer. Diagnosis kusta ditegakkan dengan menemukan setidaknya satu dari tanda kardinal sebagai berikut:
1. Kelainan kulit atau lesi bentuk hipopigmentasi atau eritema yang mati rasa (anestesi);
2. Penebalan saraf tepi disertai gangguan fungsi saraf akibat peradangan saraf tepi (neuritis perifer) kronis. Gangguan fungsi saraf ini berupa: (a) gangguan fungsi sensoris: anestesi; (b) gangguan fungsi motoris: paresis atau paralisis otot; (c) gangguan fungsi otonom: kulit kering atau anhidrosis dan terdapat fisura.
3. Ada Basil Tahan Asam (BTA) di dalam kerokan jaringan kulit (slit skin smear).
Pada dasarnya sebagian besar pasien kusta dapat didiagnosis dengan pemeriksaan klinis dan/atau pemeriksaan bakteriologis (mikroskopis BTA) dan penunjang lain. Pemeriksaan penunjang lain antara lain histopatologi, serologis, dan PCR.
Berdasarkan hal di atas, kasus diklasifikasikan menjadi 2 jenis untuk tujuan pengobatan, yaitu kasus Pausi Basiler (PB) dan Multi Basiler (MB). Berikut tabel untuk memudahkan klasifikasi penyakit kusta
Slit skin smear atau skin smear atau kerokan jaringan kulit adalah pemeriksaan sediaan yang diperoleh lewat irisan dan kerokan kecil pada kulit yang kemudian diberi pewarnaan tahan asam (Ziehl Neelsen) untuk melihat Mycobacterium leprae. Lokasi pengambilan di 2 atau 3 tempat antara lain cuping telinga kanan dan kiri atau lesi kulit yang aktif (lesi yang meninggi dan kemerahan). Kulit muka sebaiknya dihindarkan karena alasan kosmetik. Pengambilan harus dilakukan oleh tenaga terlatih. Bentuk pembacaan, BTA akan nampak sebagai batang merah dengan latar belakang biru. Bentuk dapat lurus atau melengkung, dan warna merah dapat merata atau homogen (solid) atau tidak rata (fragmented dan granular). Kelompok basil disebut globi. Basil solid menandakan mikroorganisme hidup dan mudah terlihat pada pasien baru yang belum diobati atau pasien relaps. Pembacaan BTA untuk diagnosis kusta yaitu :
1. Indeks Bakteri (IB)
IB merupakan ukuran semi kuantitatif kepadatan BTA dalam sediaan apus. IB bisa menentukan tipe kusta dan menilai hasil pengobatan.
2. Indeks Morfologi (IM)
IM merupakan persentase basil kusta, bentuk utuh (solid) terhadap seluruh BTA. Sebaiknya dicari lapang pandang paling baik, tidak ada globus/clumps. Jika tidak ada, ambil lapang pandang yang paling sedikit globus/clumps. Apabila ditemukan globus/clumps, jangan dihitung. IM berguna untuk mengetahui daya penularan kuman, menilai hasil pengobatan, dan menentukan resistensi terhadap obat.
Kusta adalah penyakit yang bisa disembuhkan. Regimen pengobatan yang saat ini direkomendasikan terdiri dari 3 obat antara lain dapson, rifampisin dan klofazimin. Kombinasi ini disebut terapi multi-obat (Multi Drug Therapy). Lama pengobatan kasus PB adalah 6–9 bulan, sedangkan kasus MB adalah 12-18 bulan. MDT membunuh patogen dan menyembuhkan pasien. Diagnosis dini dan pengobatan segera dapat membantu mencegah kecacatan. Deteksi kasus dan pengobatan dengan MDT saja terbukti tidak cukup untuk menghentikan transmisi atau penularan. Selain itu, pengobatan juga bertujuan untuk mencegah resistensi obat, meningkatkan keteraturan berobat, dan mencegah terjadinya disabilitas atau mencegah bertambahnya disabilitas yang sudah ada sebelum pengobatan.
Sebagai upaya pencegahan kusta, WHO merekomendasikan pelacakan kontak serumah beserta tetangga dan kontak sosial masing-masing pasien, disertai pemberian rifampisin dosis tunggal sebagai kemoterapi preventif.
Referensi:
Kemenkes RI. Pedoman nasional program pengendalian penyakit kusta. 2012: Kemenkes RI.
Artikel Terbaru
Lihat >>
Pernah Merasa Seperti Jatuh Saat Mau Tidur? Kenali Hypnic Jerk
Lihat >>
Risiko Penyakit Infeksi dan Sistem Surveilan untuk Penanganan Pasca Bencana Gempa Bumi: Penguatan Peran Labkesmas dalam Deteksi Dini dan Respon KLB
Lihat >>
Mengulas Bacillus cereus: Karakteristik Patogen, Risiko Toksin, dan Manajemen Pencegahan KLB Pangan
Lihat >>
Campak pada Dewasa: Bukan Sekadar Penyakit Anak
Lihat >>
Selamat Hari Tuberkulosis Sedunia
Lihat >>
Puasa sebagai Intervensi Mikrobiologis : Dampaknya terhadap Kesehatan Usus
Lihat >>
PENGUMUMAN: Pelaksanaan Program Nasional Pemantapan Mutu Eksternal (PNPME) Tahun 2026
Lihat >>
Menelusuri Jejak Mikroba pada Kasus Keracunan Pangan
Lihat >>
Sakit Sendi Setelah Demam? Ini yang Perlu Kamu Tahu
Lihat >>
SI NIMBUS YANG MERESAHKAN
Lihat >>
Hipertensi: Si Pembunuh Senyap yang Sering Diabaikan
Lihat >>
Prinsip Pemenuhan Nutrisi untuk Pasien Tuberkulosis Dalam Rangka Hari TB Dunia
Lihat >>
Bekerja aman di Biosafety Cabinet (BSC)
Lihat >>
Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG)
Lihat >>
AWaRe
Lihat >>
Budaya Kerja Kemenkes
Lihat >>
Nyamuk Aedes pembawa Wolbachia untuk mencegah infeksi demam berdarah
Lihat >>
Kondisi medis, gejala, dan penatalaksanaan yang berhubungan dengan panas
Lihat >>
Menjawab Pertanyaan seputar Penularan Cacar Monyet
Lihat >>
Yang Harus Diketahui Tentang Antraks
Lihat >>
Listeriosis (Foodborne Disease)
Lihat >>
DETEKSI DNA HPV UNTUK SKRINING KANKER SERVIKS
Lihat >>
Kanker serviks dikarenakan virus HPV
Lihat >>
Infeksi manusia oleh virus flu burung A(H5)
Lihat >>
Deteksi Infeksi Laten Tuberkulosis (ILTB)
Lihat >>
Patogenesis dan diagnosis Mycobacterium leprae
Lihat >>
SEPUTAR HIV DAN PENCEGAHAN HIV: PROFILAKSIS PASKA PAJANAN
Lihat >>
Resistensi Antimikroba Terkait Perjalanan
Lihat >>
DETEKSI LABORATORIUM Legionella pneumophilla DARI SPESIMEN MANUSIA
Lihat >>
LEGIONELLOSIS
Lihat >>
BAKTERI DALAM AIR SUSU IBU (ASI)
Lihat >>
DEKONTAMINASI
Lihat >>
PENYAKIT MULUT DAN KUKU PADA HEWAN TERNAK
Lihat >>
PENYAKIT CACAR MONYET (MONKEY POX)
Lihat >>
PENYAKIT HEPATITIS PADA ANAK YANG TIDAK DIKETAHUI PENYEBABNYA
Lihat >>
WORLD TB DAY 24 Maret 2022 Invest to End TB. Save Lives
Lihat >>
KONDISI PASKA COVID
Lihat >>
VARIAN OMICRON, EPISODE BARU DARI SARS-CoV-2
Lihat >>
DISBARISME
Lihat >>
HIPOKSIA
Lihat >>
JENIS VAKSIN
Lihat >>
PRINSIP DASAR VAKSIN
Lihat >>
KESEHATAN PENERBANGAN
Lihat >>
PERHATIKAN: PEMAKAIAN MASKER YANG BISA MELINDUNGI DARI COVID-19
Lihat >>
DEMAM DENGUE & DEMAM BERDARAH DENGUE
Lihat >>
PENGUMPULAN SPESIMEN DAHAK YANG BENAR
Lihat >>
VARIAN VIRUS SARS CoV-2
Lihat >>
VIRUS NIPAH (Niv)
Lihat >>
SEPUTAR FAKTA TENTANG VAKSIN COVID-19
Lihat >>
TRANSMISI VIRUS SARS-CoV-2
Lihat >>
BENARKAH ADA KASUS REINFEKSI COVID-19 ?
Lihat >>
STOP PENYEBARAN “SUPERBUG” GUNAKAN ANTIBIOTIK DENGAN BIJAK
Lihat >>
IMPACT OF TB LABORATORY DIAGNOSIS IN COVID-19 PANDEMIC
Lihat >>
Pemeriksaan usap dubur (swab rektal) untuk penjamah makanan
Lihat >>
DETEKSI BAKTERI RESISTEN
Lihat >>
Penerimaan Karyawan Non PNS Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya Tahun 2020
Lihat >>
HERD IMMUNITY
Lihat >>
MENINGITIS BAKTERI
Lihat >>
HARI TBC SEDUNIA
Lihat >>
PANDEMI COVID-19
Lihat >>
Fakta terbaru : Pneumonia oleh Corona Virus (2019-nCoV)
Lihat >>
Bahaya Tersembunyi Salmonella Enterocolitis Keracunan makanan akibat bakteri Salmonella
Lihat >>
Indonesia Masuki Periode Aging Population
Lihat >>
PENANGANAN PERTAMA DEMAM ANAK
Lihat >>
Hoax Imunisasi Masih Beredar
Lihat >>
WASPADALAH, DIFTERI MASIH ADA !
Lihat >>
Waspada, Filariasis Ditularkan Melalui Semua Jenis Nyamuk
Lihat >>
Satu Gigitan Anjing Bisa Renggut Nyawa
Lihat >>
Hari Santri 2018: ''Menag Ajak Santri Tebarkan Kedamaian di Sosial Media''
Lihat >>
Susu Kental Manis Bukan untuk Dikonsumsi Setiap Hari
Lihat >>
Hari Keluarga Nasional XXV Tahun 2018: Cinta Keluarga, Cinta Terencana
Lihat >>
Kemenkes: Kecanduan Game Adalah Gangguan Perilaku
Lihat >>
Pemberitahuan PNPME 2018
Lihat >>
Pengumuman Penutupan Pendaftaran PME Kimia Klinik & Mikrobiologi BTA
@bblabkesmas.surabaya
BBLKMSurabaya
BBLKMSurabaya