WASPADALAH, DIFTERI MASIH ADA !
23 April 2019 / By Administrator,
Kenali gejala, diagnosis dan pengobatan difteri
Oleh
dr. Titiek Sulistyowati, M. Ked. Klin, Sp. MK
BBLK Surabaya
Difteri adalah penyakit menular akut pada manusia yang mempengaruhi saluran pernapasan bagian atas dan kadang-kadang kulit, yang disebabkan oleh racun difteri yang dihasilkan oleh Corynebacterium diphtheriae strain toksigenik. Bakteri ini ditularkan melalui droplet atau tetesan selama kontak erat. Bakteri menghasilkan racun yang dapat menyebabkan komplikasi. Corynebacterium lain, yaitu C. ulcerans dan C. pseudotuberculosis, juga dapat menghasilkan racun difteri, meskipun strain toksigenik berasal dari spesies yang berbeda dan memiliki rute penularan yang berbeda1.
Gejala yang ditimbulkan penyakit ini antara lain demam, sakit tenggorokan, kelemahan dan pembengkakan kelenjar di leher. Racun bakteri akan merusak jaringan sehat dalam sistem pernapasan. Waktu dua sampai tiga hari, jaringan mati membentuk lapisan abu-abu tebal yang dapat menumpuk di tenggorokan atau hidung. Ahli medis biasa menyebut lapisan berwarna abu dan tebal sebagai "pseudomembran." Lapisan ini dapat menutupi jaringan di hidung, amandel, pita suara, dan tenggorokan, sehingga menyebabkan kesulitan bernapas dan menelan. Racun juga dapat masuk ke aliran darah dan menyebabkan kerusakan pada jantung, saraf, dan ginjal sehingga berakhir kematian. Sekitar 1 dari 10 pasien difteri meninggal, meskipun dengan pengobatan. Sedangkan, setengah dari pasien dapat meninggal bila tidak mendapat pengobatan2.
Dokter dapat segera melakukan diagnosis penyakit difteri dari gejala klinis. Untuk kepastian atau konfirmasi diagnosis, dokter akan mengirim bahan atau spesimen berupa usap tenggorok atau usap hidung untuk pemeriksaan kultur bakteri ke laboratorium mikrobiologi. Gejala di kulit pun juga akan dikonfirmasi dengan pengiriman bahan usap kulit. Bahan atau spesimen tersebut akan dilakukan penanaman pada media khusus difteri. Setelah masa inkubasi, apabila didapatkan pertumbuhan, maka bakteri akan diidentifikasi sebagai bakteri Corynebacterium diphtheriae atau bakteri lain. Pengujian pun dilanjutkan setelah terkonfirmasi untuk melihat bakteri sebagai strain toksigenik atau tidak. Pemrosesan di laboratorium mikrobiologi membutuhkan waktu kurang lebih 5 hari dan akan didapatkan hasil berupa nama bakteri beserta status toksigeniknya3.
Vaksin toksoid difteri dapat melindungi secara efektif terhadap efek racun yang diproduksi oleh bakteri C. diphtheriae. Imunisasi merupakan satu-satunya metode efektif untuk mencegah penyakit difteri. Mencapai dan mempertahankan cakupan vaksinasi yang tinggi dalam populasi sangat penting untuk mencegah difteri toksigenik yang menyebabkan penyakit serius atau fatal. Selain itu, perhatian khusus harus diberikan kepada wisatawan, petugas kesehatan, dan pekerja sosial.
Jika kecurigaan kasus difteri terjadi, pemeriksaan gejala klinis harus segera dilakukan, kemudian diikuti dengan konfirmasi laboratorium dan pengobatan, termasuk investigasi cepat serta manajemen kontak erat. Jika ada kecurigaan yang kuat terhadap penyakit C. diphtheriae toksigenik, pemberian anti racun difteri secara dini sangat penting untuk kelangsungan hidup4.
Pengobatan difteri saat ini antara lain antitoksin difteri untuk menghentikan racun (toksin) yang diproduksi oleh bakteri yang merusak tubuh dan antibiotik untuk membunuh bakteri. Penderita difteri tidak akan menularkan kepada orang lain setelah 48 jam minum antibiotik. Namun, pengobatan antibiotik harus sepenuhnya selesai untuk memastikan bahwa bakteri telah mati. Setelah pasien menyelesaikan pengobatan, dokter akan melakukan tes untuk memastikan bakteri sudah tidak ada dalam tubuh pasien lagi2.
Daftar Pustaka :
1.Brooks GF, Carroll KC, Butel JS, Morse SA, Mietzner TA. Jawetz, Melnick, & Adelberg’s Medical Microbiology. 26th edn. 2013.The McGraw-Hill companies. USA.
2.https://www.cdc.gov/diphtheria/about/causes-transmission.html
3.Mahon CR, Lehman DC, Manuselis G. Textbook of diagnostic Microbiology. 5th edition. 2015. Saunders Elsevier. Missouri.
4.European Centre for Disease Prevention and Control. Diphtheria. In: ECDC. Annual epidemiological report for 2016. Stockholm: ECDC; 2018.
Artikel Terbaru
Lihat >>
Pernah Merasa Seperti Jatuh Saat Mau Tidur? Kenali Hypnic Jerk
Lihat >>
Risiko Penyakit Infeksi dan Sistem Surveilan untuk Penanganan Pasca Bencana Gempa Bumi: Penguatan Peran Labkesmas dalam Deteksi Dini dan Respon KLB
Lihat >>
Mengulas Bacillus cereus: Karakteristik Patogen, Risiko Toksin, dan Manajemen Pencegahan KLB Pangan
Lihat >>
Campak pada Dewasa: Bukan Sekadar Penyakit Anak
Lihat >>
Selamat Hari Tuberkulosis Sedunia
Lihat >>
Puasa sebagai Intervensi Mikrobiologis : Dampaknya terhadap Kesehatan Usus
Lihat >>
PENGUMUMAN: Pelaksanaan Program Nasional Pemantapan Mutu Eksternal (PNPME) Tahun 2026
Lihat >>
Menelusuri Jejak Mikroba pada Kasus Keracunan Pangan
Lihat >>
Sakit Sendi Setelah Demam? Ini yang Perlu Kamu Tahu
Lihat >>
SI NIMBUS YANG MERESAHKAN
Lihat >>
Hipertensi: Si Pembunuh Senyap yang Sering Diabaikan
Lihat >>
Prinsip Pemenuhan Nutrisi untuk Pasien Tuberkulosis Dalam Rangka Hari TB Dunia
Lihat >>
Bekerja aman di Biosafety Cabinet (BSC)
Lihat >>
Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG)
Lihat >>
AWaRe
Lihat >>
Budaya Kerja Kemenkes
Lihat >>
Nyamuk Aedes pembawa Wolbachia untuk mencegah infeksi demam berdarah
Lihat >>
Kondisi medis, gejala, dan penatalaksanaan yang berhubungan dengan panas
Lihat >>
Menjawab Pertanyaan seputar Penularan Cacar Monyet
Lihat >>
Yang Harus Diketahui Tentang Antraks
Lihat >>
Listeriosis (Foodborne Disease)
Lihat >>
DETEKSI DNA HPV UNTUK SKRINING KANKER SERVIKS
Lihat >>
Kanker serviks dikarenakan virus HPV
Lihat >>
Infeksi manusia oleh virus flu burung A(H5)
Lihat >>
Deteksi Infeksi Laten Tuberkulosis (ILTB)
Lihat >>
Patogenesis dan diagnosis Mycobacterium leprae
Lihat >>
SEPUTAR HIV DAN PENCEGAHAN HIV: PROFILAKSIS PASKA PAJANAN
Lihat >>
Resistensi Antimikroba Terkait Perjalanan
Lihat >>
DETEKSI LABORATORIUM Legionella pneumophilla DARI SPESIMEN MANUSIA
Lihat >>
LEGIONELLOSIS
Lihat >>
BAKTERI DALAM AIR SUSU IBU (ASI)
Lihat >>
DEKONTAMINASI
Lihat >>
PENYAKIT MULUT DAN KUKU PADA HEWAN TERNAK
Lihat >>
PENYAKIT CACAR MONYET (MONKEY POX)
Lihat >>
PENYAKIT HEPATITIS PADA ANAK YANG TIDAK DIKETAHUI PENYEBABNYA
Lihat >>
WORLD TB DAY 24 Maret 2022 Invest to End TB. Save Lives
Lihat >>
KONDISI PASKA COVID
Lihat >>
VARIAN OMICRON, EPISODE BARU DARI SARS-CoV-2
Lihat >>
DISBARISME
Lihat >>
HIPOKSIA
Lihat >>
JENIS VAKSIN
Lihat >>
PRINSIP DASAR VAKSIN
Lihat >>
KESEHATAN PENERBANGAN
Lihat >>
PERHATIKAN: PEMAKAIAN MASKER YANG BISA MELINDUNGI DARI COVID-19
Lihat >>
DEMAM DENGUE & DEMAM BERDARAH DENGUE
Lihat >>
PENGUMPULAN SPESIMEN DAHAK YANG BENAR
Lihat >>
VARIAN VIRUS SARS CoV-2
Lihat >>
VIRUS NIPAH (Niv)
Lihat >>
SEPUTAR FAKTA TENTANG VAKSIN COVID-19
Lihat >>
TRANSMISI VIRUS SARS-CoV-2
Lihat >>
BENARKAH ADA KASUS REINFEKSI COVID-19 ?
Lihat >>
STOP PENYEBARAN “SUPERBUG” GUNAKAN ANTIBIOTIK DENGAN BIJAK
Lihat >>
IMPACT OF TB LABORATORY DIAGNOSIS IN COVID-19 PANDEMIC
Lihat >>
Pemeriksaan usap dubur (swab rektal) untuk penjamah makanan
Lihat >>
DETEKSI BAKTERI RESISTEN
Lihat >>
Penerimaan Karyawan Non PNS Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya Tahun 2020
Lihat >>
HERD IMMUNITY
Lihat >>
MENINGITIS BAKTERI
Lihat >>
HARI TBC SEDUNIA
Lihat >>
PANDEMI COVID-19
Lihat >>
Fakta terbaru : Pneumonia oleh Corona Virus (2019-nCoV)
Lihat >>
Bahaya Tersembunyi Salmonella Enterocolitis Keracunan makanan akibat bakteri Salmonella
Lihat >>
Indonesia Masuki Periode Aging Population
Lihat >>
PENANGANAN PERTAMA DEMAM ANAK
Lihat >>
Hoax Imunisasi Masih Beredar
Lihat >>
WASPADALAH, DIFTERI MASIH ADA !
Lihat >>
Waspada, Filariasis Ditularkan Melalui Semua Jenis Nyamuk
Lihat >>
Satu Gigitan Anjing Bisa Renggut Nyawa
Lihat >>
Hari Santri 2018: ''Menag Ajak Santri Tebarkan Kedamaian di Sosial Media''
Lihat >>
Susu Kental Manis Bukan untuk Dikonsumsi Setiap Hari
Lihat >>
Hari Keluarga Nasional XXV Tahun 2018: Cinta Keluarga, Cinta Terencana
Lihat >>
Kemenkes: Kecanduan Game Adalah Gangguan Perilaku
Lihat >>
Pemberitahuan PNPME 2018
Lihat >>
Pengumuman Penutupan Pendaftaran PME Kimia Klinik & Mikrobiologi BTA
@bblabkesmas.surabaya
BBLKMSurabaya
BBLKMSurabaya