PENYAKIT MULUT DAN KUKU PADA HEWAN TERNAK
15 Juni 2022 / By Administrator,
PENYAKIT MULUT DAN KUKU PADA HEWAN TERNAK
Apakah bisa menular ke manusia ?
Oleh dr. Titiek Sulistyowati, M. Ked. Klin, Sp. MK
Penyakit mulut dan kuku (PMK) adalah penyakit virus yang sangat menular yang menyerang hewan berkuku belah (berjari dua) (sapi, babi, domba, kambing, beberapa satwa liar). Onset dan keparahan tanda klinis masing-masing bervariasi. Kulit lepuh, borok, dan luka pada sapi dapat ditemukan di mulut dan kaki, moncong/lubang hidung, dan puting susu. Sapi dengan PMK mungkin menunjukkan satu atau lebih dari tanda-tanda klinis berikut:
- Keluar air liur berlebih
- Nafsu makan menurun, bahkan tidak bisa makan
- Pincang
- Enggan bergerak
- Bagian antara kuku dan kulit terlihat kemerahan dan/atau pucat
Pengenalan dini tanda PMK dan pelaporan cepat sangat penting untuk mengatasi penyakit yang sangat menular ini. Sapi yang sembuh dari infeksi PMK mungkin memiliki masalah kesehatan jangka panjang termasuk:
- Gangguan pertumbuhan dan kinerja
- Mastitis kronis
- Pincang kronis
PMK disebabkan oleh infeksi Aphthovirus, anggota famili Picornaviridae. Virus ini berukuran kecil (25-30 nm), ikosahedral tidak berselubung yang mengandung RNA untai tunggal. Ada 7 serotipe virus, disebut: A, O, C, Asia 1, dan SAT (Southern African Territories) 1, 2, dan 3. Keragaman lebih lanjut ditemukan antara strain dalam setiap serotipe. Perbedaan serotipe virus PMK tidak terdistribusi secara merata di daerah endemik. Serotipe O bertanggung jawab atas sekitar 70% wabah secara global. Virus ini terutama menyerang hewan berkuku belah dari ordo Artiodactyla. Inang ternak termasuk sapi, babi, domba, dan kambing. Virus PMK juga dilaporkan mempengaruhi >70 spesies Artiodactyla liar, termasuk kerbau Afrika, bison, jerapah, unta, dan beberapa spesies rusa dan kijang. Virus ini sensitif terhadap pengaruh lingkungan seperti pH < 5, sinar matahari, dan pengeringan. Namun, virus dapat bertahan untuk waktu yang lama pada suhu beku.
Sumber Virus antara lain :
- Hewan yang baru terinfeksi (air liur, susu, urin, feses, air mani, dll);
- Kandang/bangunan terkontaminasi atau kendaraan pengangkut hewan terkontaminasi;
- Bahan yang terkontaminasi seperti jerami, pakan, air, susu atau biologis;
- Pakaian, alas kaki, atau peralatan yang terkontaminasi;
- Daging yang terinfeksi virus atau produk hewan lain yang terkontaminasi (jika diberikan kepada hewan saat mentah atau dimasak dengan tidak benar);
- Aerosol yang terinfeksi (penyebaran virus dari properti yang terinfeksi melalui aliran udara).
PMK pada dasarnya adalah penyakit hewan dan tidak terkait dengan penyakit pada manusia yang disebabkan oleh virus Coxsackie dan dikenal sebagai penyakit tangan, kaki dan mulut (Hand, Foot, and Mouth Disease, baca HFMD). PMK adalah zoonosis, penyakit yang dapat menular ke manusia, tetapi penyakit ini sangat jarang menginfeksi dan berdampak kecil pada manusia. Kasus manusia terakhir yang dilaporkan di Inggris terjadi pada tahun 1966, selama epidemi terakhir PMK. Semua kasus yang dilaporkan memiliki kontak dekat dengan hewan yang terinfeksi. Ada satu laporan tahun 1834 dari tiga dokter hewan yang tertular penyakit karena sengaja meminum susu mentah dari sapi yang terinfeksi. Tidak ada laporan infeksi dari susu yang dipasteurisasi, dan Food Standards Agency menganggap bahwa PMK tidak memiliki implikasi terhadap rantai makanan manusia. Selama wabah besar PMK yang mempengaruhi hewan di Inggris pada tahun 2001, tidak ada kasus manusia yang dilaporkan, meskipun pengawasan ditingkatkan untuk kasus manusia. Penyakit pada manusia telah dilaporkan terutama berhubungan dengan konsumsi susu yang tidak dipasteurisasi, produk susu atau
produk daging yang tidak diproses dari hewan yang terinfeksi atau sebagai akibat dari kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi (mis. peternak dan dokter hewan). Kulit yang terluka juga merupakan rute masuk untuk beberapa kasus manusia, dengan lesi awal berkembang di tempat inokulasi. Tidak ada penularan dari orang ke orang pada manusia telah dilaporkan.
Jenis virus yang paling sering diisolasi pada manusia adalah tipe O diikuti dengan tipe C dan A (jarang). Masa inkubasi pada manusia adalah 2-6 hari. Gejalanya sebagian besar ringan dan sembuh sendiri, terutama blister (lepuh) dengan sensasi kesemutan yang tidak nyaman di tangan, demam, sakit tenggorokan, dan blister (lepuh) pada kaki dan mulut, termasuk lidah. Pasien biasanya pulih seminggu setelah pembentukan blister (lepuh) terakhir.
Referensi :
- Fiebre Aftosa. Foot and Mouth Disease. The Center for Food Security and Public Health, Iowa State University. Revised: March 202 Foot and Mouth Disease (iastate.edu)
- Prempeh H, Smith R, Müller B. Foot and mouth disease: the human consequences. The health consequences are slight, the economic ones huge. BMJ. 2001 Mar 10;322(7286):565-6. doi: 10.1136/bmj.327286.565. PMID: 11238137; PMCID: PMC1119772.
Artikel Terbaru
Lihat >>
Pernah Merasa Seperti Jatuh Saat Mau Tidur? Kenali Hypnic Jerk
Lihat >>
Risiko Penyakit Infeksi dan Sistem Surveilan untuk Penanganan Pasca Bencana Gempa Bumi: Penguatan Peran Labkesmas dalam Deteksi Dini dan Respon KLB
Lihat >>
Mengulas Bacillus cereus: Karakteristik Patogen, Risiko Toksin, dan Manajemen Pencegahan KLB Pangan
Lihat >>
Campak pada Dewasa: Bukan Sekadar Penyakit Anak
Lihat >>
Selamat Hari Tuberkulosis Sedunia
Lihat >>
Puasa sebagai Intervensi Mikrobiologis : Dampaknya terhadap Kesehatan Usus
Lihat >>
PENGUMUMAN: Pelaksanaan Program Nasional Pemantapan Mutu Eksternal (PNPME) Tahun 2026
Lihat >>
Menelusuri Jejak Mikroba pada Kasus Keracunan Pangan
Lihat >>
Sakit Sendi Setelah Demam? Ini yang Perlu Kamu Tahu
Lihat >>
SI NIMBUS YANG MERESAHKAN
Lihat >>
Hipertensi: Si Pembunuh Senyap yang Sering Diabaikan
Lihat >>
Prinsip Pemenuhan Nutrisi untuk Pasien Tuberkulosis Dalam Rangka Hari TB Dunia
Lihat >>
Bekerja aman di Biosafety Cabinet (BSC)
Lihat >>
Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG)
Lihat >>
AWaRe
Lihat >>
Budaya Kerja Kemenkes
Lihat >>
Nyamuk Aedes pembawa Wolbachia untuk mencegah infeksi demam berdarah
Lihat >>
Kondisi medis, gejala, dan penatalaksanaan yang berhubungan dengan panas
Lihat >>
Menjawab Pertanyaan seputar Penularan Cacar Monyet
Lihat >>
Yang Harus Diketahui Tentang Antraks
Lihat >>
Listeriosis (Foodborne Disease)
Lihat >>
DETEKSI DNA HPV UNTUK SKRINING KANKER SERVIKS
Lihat >>
Kanker serviks dikarenakan virus HPV
Lihat >>
Infeksi manusia oleh virus flu burung A(H5)
Lihat >>
Deteksi Infeksi Laten Tuberkulosis (ILTB)
Lihat >>
Patogenesis dan diagnosis Mycobacterium leprae
Lihat >>
SEPUTAR HIV DAN PENCEGAHAN HIV: PROFILAKSIS PASKA PAJANAN
Lihat >>
Resistensi Antimikroba Terkait Perjalanan
Lihat >>
DETEKSI LABORATORIUM Legionella pneumophilla DARI SPESIMEN MANUSIA
Lihat >>
LEGIONELLOSIS
Lihat >>
BAKTERI DALAM AIR SUSU IBU (ASI)
Lihat >>
DEKONTAMINASI
Lihat >>
PENYAKIT MULUT DAN KUKU PADA HEWAN TERNAK
Lihat >>
PENYAKIT CACAR MONYET (MONKEY POX)
Lihat >>
PENYAKIT HEPATITIS PADA ANAK YANG TIDAK DIKETAHUI PENYEBABNYA
Lihat >>
WORLD TB DAY 24 Maret 2022 Invest to End TB. Save Lives
Lihat >>
KONDISI PASKA COVID
Lihat >>
VARIAN OMICRON, EPISODE BARU DARI SARS-CoV-2
Lihat >>
DISBARISME
Lihat >>
HIPOKSIA
Lihat >>
JENIS VAKSIN
Lihat >>
PRINSIP DASAR VAKSIN
Lihat >>
KESEHATAN PENERBANGAN
Lihat >>
PERHATIKAN: PEMAKAIAN MASKER YANG BISA MELINDUNGI DARI COVID-19
Lihat >>
DEMAM DENGUE & DEMAM BERDARAH DENGUE
Lihat >>
PENGUMPULAN SPESIMEN DAHAK YANG BENAR
Lihat >>
VARIAN VIRUS SARS CoV-2
Lihat >>
VIRUS NIPAH (Niv)
Lihat >>
SEPUTAR FAKTA TENTANG VAKSIN COVID-19
Lihat >>
TRANSMISI VIRUS SARS-CoV-2
Lihat >>
BENARKAH ADA KASUS REINFEKSI COVID-19 ?
Lihat >>
STOP PENYEBARAN “SUPERBUG” GUNAKAN ANTIBIOTIK DENGAN BIJAK
Lihat >>
IMPACT OF TB LABORATORY DIAGNOSIS IN COVID-19 PANDEMIC
Lihat >>
Pemeriksaan usap dubur (swab rektal) untuk penjamah makanan
Lihat >>
DETEKSI BAKTERI RESISTEN
Lihat >>
Penerimaan Karyawan Non PNS Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya Tahun 2020
Lihat >>
HERD IMMUNITY
Lihat >>
MENINGITIS BAKTERI
Lihat >>
HARI TBC SEDUNIA
Lihat >>
PANDEMI COVID-19
Lihat >>
Fakta terbaru : Pneumonia oleh Corona Virus (2019-nCoV)
Lihat >>
Bahaya Tersembunyi Salmonella Enterocolitis Keracunan makanan akibat bakteri Salmonella
Lihat >>
Indonesia Masuki Periode Aging Population
Lihat >>
PENANGANAN PERTAMA DEMAM ANAK
Lihat >>
Hoax Imunisasi Masih Beredar
Lihat >>
WASPADALAH, DIFTERI MASIH ADA !
Lihat >>
Waspada, Filariasis Ditularkan Melalui Semua Jenis Nyamuk
Lihat >>
Satu Gigitan Anjing Bisa Renggut Nyawa
Lihat >>
Hari Santri 2018: ''Menag Ajak Santri Tebarkan Kedamaian di Sosial Media''
Lihat >>
Susu Kental Manis Bukan untuk Dikonsumsi Setiap Hari
Lihat >>
Hari Keluarga Nasional XXV Tahun 2018: Cinta Keluarga, Cinta Terencana
Lihat >>
Kemenkes: Kecanduan Game Adalah Gangguan Perilaku
Lihat >>
Pemberitahuan PNPME 2018
Lihat >>
Pengumuman Penutupan Pendaftaran PME Kimia Klinik & Mikrobiologi BTA
@bblabkesmas.surabaya
BBLKMSurabaya
BBLKMSurabaya