Resistensi Antimikroba Terkait Perjalanan
09 November 2022 / By Administrator,
18 - 24 November is World Antimicrobial Awareness Week
Oleh dr. Titiek Sulistyowati., M. Ked. Klin., Sp. MK
Resistensi antimikroba (AMR = Antimicrobial Resistance) merupakan masalah besar yang menjadi ancaman serius bagi kesehatan global. Laporan terbaru dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyoroti meningkatnya ancaman dari organisme AMR yang terus muncul, disertai dengan kurangnya pengembangan obat antimikroba baru. Negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah cenderung menjadi yang paling terpengaruh, baik dalam hal dampak terhadap kesehatan masyarakat maupun beban ekonomi.
Tantangan AMR kompleks dan multifaset, dengan berbagai pemicu yang ada dan saling terkait antara inang dan ekologi yang berbeda, termasuk manusia, hewan, makanan, dan lingkungan. Tautan multipel ini memungkinkan pergerakan produk sampingan obat antimikroba, bakteri AMR, dan elemen genetik bergerak atau gen AMR (ARGs), di antara ekologi ini, yang semuanya meningkatkan penyebaran AMR. Pada saat yang sama, pergerakan manusia yang terus menerus di seluruh dunia juga memainkan peran kunci dalam kemunculan dan penyebaran organisme AMR. Baru-baru ini, banyak penelitian menyoroti dampak dari penggunaan berlebihan dan penyalahgunaan antibiotik, kurangnya pengembangan antibiotik, dan akses yang buruk terhadap antibiotik dan diagnostik yang berkualitas dan terjangkau dalam mempromosikan transmisi global bakteri AMR.
Secara historis, globalisasi dan migrasi manusia telah memberikan kontribusi besar terhadap munculnya dan penyebaran penyakit menular. Misal, wabah kolera dan meningitis meningokokus telah dikaitkan dengan pelancong internasional yang kembali dari daerah yang terkena dampak (endemik). Berbagai peraturan internasional dan protokol kesehatan telah dikembangkan untuk mengurangi beban penyakit tersebut dengan berfokus pada vaksinasi dan/atau kemoprofilaksis. Akibatnya, risiko pelancong kembali dengan kolonisasi atau infeksi organisme AMR juga meningkat selama 2 dekade terakhir, dengan risiko yang bervariasi menurut asal dan tujuan perjalanan. Pengangkutan bakteri AMR setelah perjalanan ke daerah AMR yang sangat endemik telah terbukti bertahan hingga 12 bulan paska perjalanan, yang memperbesar risiko masuknya organisme AMR ke dalam populasi yang rentan.
Banyak faktor yang terkait dengan penularan penyakit menular di antara populasi pelancong. Ini termasuk garis dasar penyakit endemik dan epidemi di negara asal dan di negara tujuan, kondisi kehidupan penduduk yang melakukan perjalanan (misalnya jumlah, ukuran, lokasi, dan kepadatan pemukiman), ketersediaan air bersih dan fasilitas sanitasi yang memadai, status medis dari penduduk yang bepergian (misalnya status gizi dan cakupan imunisasi di antara penduduk) dan tingkat akses ke layanan kesehatan dan manajemen kasus yang efektif.
Sebelum tahun 1990, beberapa penelitian mengisolasi sejumlah kecil bakteri AMR, tersering adalah Shigella spp. dari Amerika Tengah dan Selatan atau lokasi yang tidak ditentukan, terdeteksi dalam 4 penelitian dengan 641 isolat. Seiring waktu, frekuensi deteksi bakteri AMR meningkat. Namun, jumlah penelitian yang dilakukan juga meningkat, begitu pula dengan kemudahan pengujian resistensi. Ada peningkatan deteksi Campylobacter spp. resisten kuinolon, Shigella spp. MDR, Salmonella spp. resisten kuinolon, dan E. coli penghasil Extended Spectrum Beta Lactamase (ESBL) dan resisten kuinolon. Penelitian tren dari waktu ke waktu dan wilayah geografis tempat munculnya AMR dapat menginformasikan tentang bagaimana kita harus memperlakukan pelancong yang kembali dari wilayah berisiko ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa resistensi kuinolon pada Shigella spp. pertama kali terdeteksi pada pelancong yang Kembali dari Oseania sebelum 1990 dan Asia antara 1990–1999. Selama periode waktu sama, Salmonella spp. juga terlihat pada pelancong yang kembali dari Asia, dengan lonjakan kasus Salmonella yang resisten terhadap kuinolon dan Multiple Drug Resistant (MDR) antara tahun 2000 dan 2009. Sementara Shigella spp. MDR juga terlihat pada pelancong yang kembali dari Asia pada tahun 1990–1999, sejumlah isolat juga dikaitkan dengan Asia Barat, dan Afrika Utara dan Eropa, dengan gambaran yang lebih tersebar terjadi antara tahun 2000 dan 2009.
Infeksi atau keluhan gastrointestinal (GI) umumnya terkait dengan perjalanan. Diare adalah gejala GI paling umum yang terkait dengan perjalanan dan terlihat pada sekitar 60% kasus GI. Diare jarang terjadi pada pelancong perjalanan dari negara ekonomi maju dibandingkan negara lain, dan bakteri adalah etiologi paling umum yang diidentifikasi secara mikrobiologis. Bakteri enterik juga merupakan spesies AMR yang paling sering muncul terkait dengan perjalanan. Perhatian khusus bahwa bakteri enterik AMR, ketika bertindak sebagai patogen atau kolonisasi, dapat mentransfer elemen resistensi mereka ke bakteri komensal atau patogen lain yang ada di usus. Jumlah isolat bakteri enterik yang resisten terhadap antibiotic (paling sering resisten kuinolon) telah meningkat selama bertahun-tahun. WHO mengalami keprihatinan internasional atas bakteri enterik yang resisten fluoroquinolone dalam laporan tahun 2014. Peningkatan frekuensi Methicilline Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) dan Klebsiella pneumoniae penghasil ESBL dan karbapenemase- terdeteksi pada para pelancong. Karena banyak bakteri enterik yang resisten kuinolon terkait perjalanan berasal dari Asia, peneliti menyarankan agar dokter yang menemukan penyakit GI pada pelancong wilayah ini harus menghindari pemberian resep ciprofloxacin atau kuinolon lain secara empiris.
Perawatan terbaik untuk pelancong yang kembali dengan gejala GI karena bakteri harus benar-benar dipertimbangkan terkait penggunaan antimikroba. Dokter direkomendasikan untuk menghindari pengobatan empiris dengan beta-laktam dan kuinolon untuk penyakit GI karena bakteri terkait perjalanan sampai keluar hasil kultur dan uji kepekaan. Kasus parah dengan riwayat perjalanan ke Asia, pengobatan empiris dapat dimulai dengan azitromisin (disarankan oleh penelitian lain) dan kemudian beralih ke obat pilihan setelah hasil uji kepekaan keluar. Pelancong yang kembali dari tujuan lain, kloramfenikol juga dapat digunakan karena masih ada sedikit kasus resistensi yang terdokumentasi secara global. Pelancong datang dari Afrika, Amerika Tengah, atau Amerika Selatan, disarankan untuk menghindari resep sulfonamid dan trimetoprim karena tingginya tingkat resistensi yang terlihat pada bakteri dari wilayah ini. Panduan umum lainnya untuk pelancong yang kembali dengan infeksi GI bakteri termasuk pengaturan dan evaluasi dan implementasi obat terkait.
AMR terkait perjalanan medis menghasilkan risiko signifikan bahwa resistensi dapat diperkenalkan ke bagian tertentu dari sistem kesehatan. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa isolat AMR terkait perjalanan medis menyebabkan wabah di beberapa negara dan menyarankan protokol untuk skenario semacam itu. Ada kekurangan dokumentasi untuk sistem kesehatan negara berkembang tentang bagaimana mereka harus mempersiapkan diri ketika menerima pasien tersebut. Selain itu, pemantauan AMR terkait medis merupakan tantangan, karena frekuensi wisata medis semakin meningkat, dengan komplikasi terkait yang seringkali tidak dilaporkan terkait dengan perjalanan.
Ada semakin banyak bukti bahwa gerakan manusia memfasilitasi penyebaran bakteri resisten dan gen resistensi antimikroba (AMR) secara global. Penelitian ini secara sistematis meninjau literatur tentang dampak perjalanan pada penyebaran AMR. Peneliti menelusuri database Medline, EMBASE, dan SCOPUS dari awal database hingga akhir Juni 2019. Studi mencakup 30.060 isolat yang resistan terhadap obat dari 26 spesies bakteri yang teridentifikasi. Sebagian besar enterik, terhitung 65% dari spesies yang teridentifikasi dan 92% dari semua isolat yang terdokumentasi. Negara berpenghasilan tinggi lebih cenderung menjadi negara penerima AMR yang berasal dari negara berpenghasilan menengah dan rendah. Asal musafir paling umum dengan bakteri resisten adalah Asia, mencakup 36% dari total isolat. Organisme yang resistan beta-laktam (35%) dan kuinolon (31%) adalah terhadap obat yang paling banyak didokumentasikan. Wisata medis dua kali lebih mungkin dikaitkan dengan organisme yang resistan terhadap berbagai obat daripada perjalanan umum. Perjalanan internasional merupakan wahana penularan resistensi antimikroba secara global. Sistem kesehatan harus mengidentifikasi pelancong baru untuk memastikan bahwa telah ada tindakan pencegahan yang memadai.
Referensi :
Bokhary, H.; Pangesti, K.N.A.; Rashid, H.; Abd El Ghany, M.; Hill-Cawthorne, G.A. Travel-Related Antimicrobial Resistance: A Systematic Review. Trop. Med. Infect. Dis. 2021, 6, 11. https://doi.org/ 10.3390/tropicalmed6010011
Artikel Terbaru
Lihat >>
Pernah Merasa Seperti Jatuh Saat Mau Tidur? Kenali Hypnic Jerk
Lihat >>
Risiko Penyakit Infeksi dan Sistem Surveilan untuk Penanganan Pasca Bencana Gempa Bumi: Penguatan Peran Labkesmas dalam Deteksi Dini dan Respon KLB
Lihat >>
Mengulas Bacillus cereus: Karakteristik Patogen, Risiko Toksin, dan Manajemen Pencegahan KLB Pangan
Lihat >>
Campak pada Dewasa: Bukan Sekadar Penyakit Anak
Lihat >>
Selamat Hari Tuberkulosis Sedunia
Lihat >>
Puasa sebagai Intervensi Mikrobiologis : Dampaknya terhadap Kesehatan Usus
Lihat >>
PENGUMUMAN: Pelaksanaan Program Nasional Pemantapan Mutu Eksternal (PNPME) Tahun 2026
Lihat >>
Menelusuri Jejak Mikroba pada Kasus Keracunan Pangan
Lihat >>
Sakit Sendi Setelah Demam? Ini yang Perlu Kamu Tahu
Lihat >>
SI NIMBUS YANG MERESAHKAN
Lihat >>
Hipertensi: Si Pembunuh Senyap yang Sering Diabaikan
Lihat >>
Prinsip Pemenuhan Nutrisi untuk Pasien Tuberkulosis Dalam Rangka Hari TB Dunia
Lihat >>
Bekerja aman di Biosafety Cabinet (BSC)
Lihat >>
Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG)
Lihat >>
AWaRe
Lihat >>
Budaya Kerja Kemenkes
Lihat >>
Nyamuk Aedes pembawa Wolbachia untuk mencegah infeksi demam berdarah
Lihat >>
Kondisi medis, gejala, dan penatalaksanaan yang berhubungan dengan panas
Lihat >>
Menjawab Pertanyaan seputar Penularan Cacar Monyet
Lihat >>
Yang Harus Diketahui Tentang Antraks
Lihat >>
Listeriosis (Foodborne Disease)
Lihat >>
DETEKSI DNA HPV UNTUK SKRINING KANKER SERVIKS
Lihat >>
Kanker serviks dikarenakan virus HPV
Lihat >>
Infeksi manusia oleh virus flu burung A(H5)
Lihat >>
Deteksi Infeksi Laten Tuberkulosis (ILTB)
Lihat >>
Patogenesis dan diagnosis Mycobacterium leprae
Lihat >>
SEPUTAR HIV DAN PENCEGAHAN HIV: PROFILAKSIS PASKA PAJANAN
Lihat >>
Resistensi Antimikroba Terkait Perjalanan
Lihat >>
DETEKSI LABORATORIUM Legionella pneumophilla DARI SPESIMEN MANUSIA
Lihat >>
LEGIONELLOSIS
Lihat >>
BAKTERI DALAM AIR SUSU IBU (ASI)
Lihat >>
DEKONTAMINASI
Lihat >>
PENYAKIT MULUT DAN KUKU PADA HEWAN TERNAK
Lihat >>
PENYAKIT CACAR MONYET (MONKEY POX)
Lihat >>
PENYAKIT HEPATITIS PADA ANAK YANG TIDAK DIKETAHUI PENYEBABNYA
Lihat >>
WORLD TB DAY 24 Maret 2022 Invest to End TB. Save Lives
Lihat >>
KONDISI PASKA COVID
Lihat >>
VARIAN OMICRON, EPISODE BARU DARI SARS-CoV-2
Lihat >>
DISBARISME
Lihat >>
HIPOKSIA
Lihat >>
JENIS VAKSIN
Lihat >>
PRINSIP DASAR VAKSIN
Lihat >>
KESEHATAN PENERBANGAN
Lihat >>
PERHATIKAN: PEMAKAIAN MASKER YANG BISA MELINDUNGI DARI COVID-19
Lihat >>
DEMAM DENGUE & DEMAM BERDARAH DENGUE
Lihat >>
PENGUMPULAN SPESIMEN DAHAK YANG BENAR
Lihat >>
VARIAN VIRUS SARS CoV-2
Lihat >>
VIRUS NIPAH (Niv)
Lihat >>
SEPUTAR FAKTA TENTANG VAKSIN COVID-19
Lihat >>
TRANSMISI VIRUS SARS-CoV-2
Lihat >>
BENARKAH ADA KASUS REINFEKSI COVID-19 ?
Lihat >>
STOP PENYEBARAN “SUPERBUG” GUNAKAN ANTIBIOTIK DENGAN BIJAK
Lihat >>
IMPACT OF TB LABORATORY DIAGNOSIS IN COVID-19 PANDEMIC
Lihat >>
Pemeriksaan usap dubur (swab rektal) untuk penjamah makanan
Lihat >>
DETEKSI BAKTERI RESISTEN
Lihat >>
Penerimaan Karyawan Non PNS Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya Tahun 2020
Lihat >>
HERD IMMUNITY
Lihat >>
MENINGITIS BAKTERI
Lihat >>
HARI TBC SEDUNIA
Lihat >>
PANDEMI COVID-19
Lihat >>
Fakta terbaru : Pneumonia oleh Corona Virus (2019-nCoV)
Lihat >>
Bahaya Tersembunyi Salmonella Enterocolitis Keracunan makanan akibat bakteri Salmonella
Lihat >>
Indonesia Masuki Periode Aging Population
Lihat >>
PENANGANAN PERTAMA DEMAM ANAK
Lihat >>
Hoax Imunisasi Masih Beredar
Lihat >>
WASPADALAH, DIFTERI MASIH ADA !
Lihat >>
Waspada, Filariasis Ditularkan Melalui Semua Jenis Nyamuk
Lihat >>
Satu Gigitan Anjing Bisa Renggut Nyawa
Lihat >>
Hari Santri 2018: ''Menag Ajak Santri Tebarkan Kedamaian di Sosial Media''
Lihat >>
Susu Kental Manis Bukan untuk Dikonsumsi Setiap Hari
Lihat >>
Hari Keluarga Nasional XXV Tahun 2018: Cinta Keluarga, Cinta Terencana
Lihat >>
Kemenkes: Kecanduan Game Adalah Gangguan Perilaku
Lihat >>
Pemberitahuan PNPME 2018
Lihat >>
Pengumuman Penutupan Pendaftaran PME Kimia Klinik & Mikrobiologi BTA
@bblabkesmas.surabaya
BBLKMSurabaya
BBLKMSurabaya